Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Peran AI dalam Hadapi Tantangan Sistem Pangan Global?

Kompas.com, 13 Maret 2026, 07:15 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Seiring bertambahnya populasi global mendekati perkiraan 10 miliar orang pada tahun 2050, permintaan pangan diperkirakan akan meningkat hampir 20 persen.

Masalahnya, memenuhi permintaan tersebut sembari mengurangi kerusakan lingkungan termasuk tantangan terbesar yang dihadapi sistem pangan global, dilansir dari Know ESG, Kamis (12/3/2026).

Baca juga: 

Menanggapi hal itu, para ilmuwan dan perusahaan makanan banyak beralih ke teknologi AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) untuk membantu sistem pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Beberapa hal yang dilakukan AI dalam proses pembuatan makanan, antara lain menemukan bahan-bahan baru, meracik resep, menganalisis kandungan gizi, dan menguji keamanan pangan, dilansir dari KnowESG, Kamis (12/3/2026).

Peran AI terkait tantangan sistem pangan global

Dari prediksi bahan hingga simulasi rasa

Dengan populasi dan permintaan pangan yang meningkat, AI bisa membantu menjaga ketahanan pangan global. Simak caranya.freepik Dengan populasi dan permintaan pangan yang meningkat, AI bisa membantu menjaga ketahanan pangan global. Simak caranya.

Membuat produk makanan baru biasanya membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal.

Para ahli pangan harus mencoba berbagai campuran protein, lemak, pengikat, dan bahan tambahan untuk mendapatkan rasa, tekstur, dan kandungan gizi yang pas.

Proses ini sering kali dilakukan dengan cara uji coba berulang. Namun, penggunaan AI dalam pengembangan makanan mengubah cara lama tersebut.

Dengan menggunakan model komputer dan pembelajaran mesin (machine learning), sistem AI dapat memprediksi bagaimana bahan-bahan makanan akan bercampur, memperkirakan nilai gizinya, dan mensimulasikan rasa atau teksturnya bahkan sebelum contoh produk aslinya dibuat.

Hal ini mengurangi jumlah percobaan yang diperlukan dan mempercepat proses pembuatan makanan baru.

Pada saat yang sama, sistem AI juga memindai pusat data tanaman yang sangat besar untuk menemukan sumber protein baru yang bisa menggantikan bahan makanan dari hewan.

Kemajuan terbaru dalam model bahasa dan analisis data semakin memperluas peran kecerdasan buatan dalam industri makanan.

Model AI yang dilatih dengan data bahan makanan dan gizi saat ini dapat memperkirakan kandungan nutrisi dari resep baru.

Seiring bertambahnya data tentang rasa, tekstur, dan kimia pangan, model-model ini nantinya akan mampu merancang produk makanan yang benar-benar baru.

Di tingkat konsumen, sistem rekomendasi berbasis AI juga mendukung gizi presisi. Dengan menggabungkan ilmu gizi, data perilaku, dan catatan kesehatan pribadi, platform digital dapat menyarankan pola makan yang disesuaikan khusus dengan kebutuhan kesehatan setiap orang.

Selain inovasi produk, teknologi AI pangan juga membantu mengatasi tantangan gizi global.

Model pembelajaran mesin sedang dikembangkan untuk mendeteksi makanan yang diproses berlebih, menganalisis risiko pola makan, dan mengidentifikasi masyarakat yang sulit mendapatkan akses makanan sehat.

Beberapa sistem bahkan menggunakan data satelit dan indikator sosial-ekonomi untuk memetakan wilayah yang kekurangan pangan serta memandu kebijakan kesehatan publik.

Di lingkungan fasilitas kesehatan, alat-alat AI juga sedang diuji coba untuk mengenali risiko kurang gizi pada lansia, sehingga penanganan pola makan bisa dilakukan lebih awal.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau