Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kinerja Karbon Shell 2025, Catat 1,1 Miliar Ton Emisi Gas Rumah Kaca

Kompas.com, 15 Maret 2026, 07:10 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Shell menyampaikan, emisi gas rumah kaca (GRK)-nya secara umum tetap stabil pada tahun 2025 di angka sekitar 1,1 miliar metrik ton karbon dioksida (CO2) ekuivalen, menurut laporan tahunan perusahaan serta perhitungan dari Reuters.

Angka tersebut mencerminkan skala emisi yang berkaitan dengan operasional energi global perusahaan dan pembakaran bahan bakar yang mereka jual, dilansir dari ESG News, Jumat (13/3/2026).

Baca juga: 

Data tersebut mengilustrasikan tantangan iklim yang terus berlanjut dari produsen minyak dan gas besar, yang laporan emisinya mencakup hasil operasional perusahaan maupun dampak hilir dari konsumsi energi oleh masyarakat.

Emisi gas rumah kaca Shell dinilai stabil

Emisi Scope 3 mendominasi

Mayoritas emisi perusahaan minyak dan gas multinasional ini masuk dalam kategori Scope 3, yang mencakup emisi yang dihasilkan oleh pelanggan saat menggunakan bahan bakar yang dijual perusahaan.

Bagi perusahaan energi raksasa ini, emisi tersebut merupakan bagian terbesar dari keseluruhan jejak karbon mereka.

Emisi Scope 1 dan IScope 2 meliputi aktivitas operasional seperti ekstraksi, penyulingan, dan penggunaan listrik di seluruh fasilitas perusahaan.

Sementara itu, scope 3 mencatat pembakaran minyak, gas, dan bahan bakar lainnya setelah produk tersebut sampai ke tangan pengguna akhir.

Karena perusahaan minyak dan gas beroperasi, terutama sebagai pemasok energi, emisi Scope 3 sering kali mewakili lebih dari 80 persen dari total dampak iklim yang mereka laporkan.

Skala emisi ini menjadi pusat perdebatan mengenai kecepatan dan kredibilitas strategi transisi industri tersebut, terutama karena permintaan terhadap hidrokarbon tetap kuat di banyak pasar global.

Baca juga:

Intensitas karbon bersih tetap stabil

Shell menyampaikan, emisi gas rumah kaca (GRK)-nya secara umum tetap stabil pada tahun 2025 di angka sekitar 1,1 miliar metrik ton CO2 ekuivalen.freepik Shell menyampaikan, emisi gas rumah kaca (GRK)-nya secara umum tetap stabil pada tahun 2025 di angka sekitar 1,1 miliar metrik ton CO2 ekuivalen.

Sementara itu, Shell menyampaikan, Intensitas Karbon Bersih (Net Carbon Intensity/NCI) berada di angka 71 gram CO2 ekuivalen per megajoule pada tahun 2025.

NCI merupakan metrik utama yang digunakannya untuk memantau kemajuan target transisi energinya.

Angka tersebut tidak berubah dibandingkan dengan level pada tahun 2024.

Namun, perusahaan telah menetapkan target untuk menurunkan ukuran ini menjadi nol pada tahun 2050 sebagai bagian dari strategi jangka panjangnya guna menyelaraskan portofolio energinya dengan tujuan iklim global.

Intensitas karbon bersih mengukur emisi yang dihasilkan per unit energi yang dipasok, bukan total emisi secara keseluruhan.

Pendekatan ini mencerminkan bagaimana perusahaan mencampur bahan bakar fosil dengan produk rendah karbon seperti listrik terbarukan, bahan bakar nabati, atau hidrogen dalam bauran energi mereka secara menyeluruh.

Bagi perusahaan energi terintegrasi yang besar, metrik intensitas ini menjadi cara untuk mengukur kemajuan sambil tetap menjaga tingkat pasokan di pasar global.

Kendati demikian, target iklim berbasis intensitas tetap menjadi subyek perdebatan di antara para pembuat kebijakan, investor, dan analis iklim.

Mengukur kinerja emisi berdasarkan intensitas berarti sebuah perusahaan secara teknis dapat meningkatkan produksi bahan bakar fosil dan emisi total mereka, sembari menggunakan skema karbon kredit atau menambahkan energi terbarukan atau bahan bakar nabati ke dalam bauran produk mereka demi menurunkan angka laporan utamanya.

Para kritikus berpendapat, pendekatan ini dapat menutupi kenaikan emisi absolut, terutama jika permintaan energi global terus tumbuh.

Sebaliknya, pihak lain berargumen bahwa metrik intensitas mencerminkan jalur transisi yang lebih baik bagi perusahaan yang beroperasi di pasar di mana bahan bakar fosil masih mendominasi.

Bagi produsen energi multinasional, menyeimbangkan ketahanan energi, ekspektasi pemegang saham, serta komitmen dekarbonisasi tetap menjadi sebuah persamaan strategis yang kompleks.

Baca juga: PBB Usul Pajak bagi Perusahaan Bahan Bakar Fosil dan Orang Terkaya

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau