KOMPAS.com - Risiko panas ekstrem disebut sudah berdampak pada perusahaan, dengan kerugian ekonomi terjadi pada laba bersih dan rantai pasok.
Laporan terbaru dari perusahaan jasa keuangan Morgan Stanley, 57 persen perusahaan yang disurvei mengalami dampak operasional dalam setahun terakhir akibat krisis iklim.
Baca juga:
Secara global, panas ekstrem menjadi pengganggu terbesar, dengan 55 persen perusahaan merasakan dampaknya.
Persentase tersebut disusul cuaca ekstrem dan badai dengan 53 persen yang terdampak; kebakaran hutan atau asap 36 persen; kekeringan atau kekurangan air 34 persen; serta banjir atau naiknya permukaan laut 33 persen.
Peningkatan biaya, seperti asuransi dan permasalahan pasokan, menjadi dampak paling umum yang dirasakan perusahaan atau sekitar 54 persen.
Hal itu diikuti gangguan terhadap tenaga kerja, seperti keselamatan karyawan dan ketidakhadiran sebesar 40 persen; kerugian pendapatan akibat ganguan bisnis atau kegagalan rantai pasok 39 persen;
Lalu, pergeseran permintaan pelanggan atau klien 35 persen; peningkatan pengawasan investor, terutama manajemen risiko, sekitar 34 persen; serta kerusakan aset fisik atau infrastruktur sebesar 31 persen.
Baca juga:
Menghadapi risiko panas ekstrem, perusahaan dinilai tengah melirik kredit karbon dan solusi berbasis alam.Studi terbaru dari University of Oxford, Inggris, mengingatkan, hampir setengah dari populasi dunia akan hidup dalam kondisi panas ekstrem pada tahun 2050.
Panas ekstrem diproyeksikan akan menyebabkan kerugian ekonomi besar-besaran yang ditimbulkan dari risiko kesehatan dan kesejahteraan manusia. Bahkan, panas ekstrem dapat menghapus triliunan dollar Amerika Serikat (AS) produktivitas global setiap tahunnya sejak tahun 2030.
Minat baru terhadap adaptasi dan ketahanan membentuk investasi pada sektor publik atau swasta seiring panas ekstrem menjadi perhatian utama pemerintah dan dewan direksi. Apalagi perusahaan mengalami penurunan produktivitas akibat suhu tinggi.
Perusahaan asuransi juga membunyikan alarm mengenai mengenai dampak langsung panas ekstrem dan efek berantai pada frekuensi kekeringan maupun kebakaran hutan.
"Suhu tinggi diperkirakan akan terus berlanjut (dan menjadi lebih ekstrem) masa depan, yang berarti perusahaan harus bertindak sekarang," ujar Kepala Unit Mitigasi Iklim dan Ketua Tim Global Program UN-REDD di UNEP, Gabriel Labbatte, dilansir dari Edie.net, Senin (16/3/2026).
Sektor swasta disebut harus berinvestasi dalam aksi iklim di dalam dan di luar rantai nilai untuk meningkatkan ketahanan, mengurangi dampak terburuk dari pemanasan global, dan melindungi keuntungan mereka.
Hal itu berlaku pula bagi industri dengan rantai pasokan global karena sebagian besar pengadaan global bergantung pada wilayah geografis yang sangat rentan terhadap krisis iklim.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya