KOMPAS.com - Green jobs atau pekerjaan hijau membuka peluang baru untuk mendorong transisi ekonomi hijau. Ekonom University of Oxford di Inggris, Kate Raworth, berpandangan bahwa dunia membutuhkan percepatan menuju ekonomi bebas karbon bahkan sebelum target tahun 2050.
Menurutnya, sistem ekonomi harus dirancang ulang agar lebih efisien dan tidak menghasilkan pemborosan sumber daya.
Baca juga:
“Ekonomi masa depan kita akan berkembang dengan menggunakan kembali, memperbaiki, memperbarui, membuat ulang, dan mengubah tujuan. Transformasi ini akan menciptakan jenis pekerjaan baru yang kreatif dan bermakna," ujar Raworth, dilansir dari The Guardian, Rabu (18/3/2026).
Pada tahun 2018 lalu, Pemerintah Inggris memperkirakan sektor ekonomi rendah karbon dapat tumbuh hingga 11 persen per tahun hingga 2030. Lantas, apa itu green jobs?
"Pekerjaan hijau membantu kita mewujudkan tujuan lingkungan dan berkontribusi pada mata pencaharian ini bukan hal baru, tapi ini adalah gagasan yang sekarang lebih kita perhatikan,” ucap Dosen Politik dan Hubungan Internasional Cardiff University di Wales, Jennifer Allan.
Dia menambahkan, menciptakan pekerjaan hijau membantu mengurangi krisis ekologi. Green jobs akan mengikuti perkembangan industri.
Apalagi, mobil diesel, bensin, atau hibrida baru tidak akan lagi dijual di Inggris pada 2035 mendatang. Oleh sebab itu, peningkatan keterampilan tenaga kerja sangat penting, bagi pekerja di sektor hijau.
Paula McGinnell dari Cyan Finance menyebut green jobs tidak hanya menciptakan peluang ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat.
“Pekerjaan hijau membangun ketahanan, dan peluang ekonomi yang mereka berikan adalah yang terbesar yang akan kita lihat sepanjang hidup kita,” tutur McGinnell.
Baca juga:
Green jobs menjadi pekerjaan yang mendirong transisi ekonomi hijau sekaligus upaya menjaga lingkungan. Bagaimana potensinya di Indonesia?Di sisi lain, UNICEF menekankan pengembangan keterampilan hijau menjadi langkah krusial untuk menghadapi krisis iklim.
Pendidikan harus beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk memasukkan pemahaman tentang lingkungan dan keberlanjutan ke dalam kurikulum sejak dini.
"Dunia sedang berubah, dan apa yang diajarkan kepada anak-anak juga harus berubah baik itu pengajaran tentang bagaimana ekosistem saling terhubung, mengapa lapisan ozon melindungi bumi, atau bahwa karbon di atmosfer menyebabkan suhu naik," tulis UNICEF dalam laman resminya.
Green skill (keterampilan hijau) mencakup berbagai bidang, dari energi terbarukan, pertanian rendah karbon, hingga perlindungan ekosistem. Profesi yang termasuk di dalamnya mencakup insinyur energi bersih, arsitek bangunan hemat energi, dan ilmuwan.
UNICEF menyatakan, makin dini pendidikan terkait iklim dan keberlanjutan diberikan, makin besar peluang lahirnya generasi yang mampu menjadi bagian dari solusi krisis iklim.
Integrasi keterampilan hijau dalam sistem pendidikan juga diyakini dapat mempersiapkan tenaga kerja yang adaptif terhadap perubahan dan kebutuhan industri masa depan.
"Dengan mengintegrasikan pendidikan iklim dan keterampilan hijau ke dalam kurikulum sekolah, kita dapat membina generasi individu yang berpengetahuan dan proaktif yang dibekali dengan keterampilan yang mereka butuhkan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan memperjuangkan keberlanjutan lingkungan," jelas UNICEF.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya