Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00

Kompas.com, 1 Mei 2026, 16:33 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah India meminta warganya untuk lebih banyak menggunakan listrik pada siang hari.

Tujuannya adalah agar India tidak terlalu bergantung pada impor energi yang pasokannya terganggu akibat perang Amerika Serikat-Israel versus Iran.

Melansir independent, Kamis (30/4/2026) Menteri Energi Terbarukan, Pralhad Joshi, menjelaskan bahwa dampak perang terhadap India paling terasa pada gas elpiji (LPG) untuk usaha, sedangkan stok bensin dan solar masih aman.

Ia juga mengajak orang-orang memanfaatkan tenaga surya yang murah pada siang hari untuk memasak, mengisi daya kendaraan, dan menyalakan elektronik, daripada menggunakan listrik dari bahan bakar fosil di malam hari.

"Jika penggunaan energi bisa dipindahkan ke sebelum jam 5 sore, itu akan sangat membantu mengurangi impor energi kita. Pasang panel surya di atap, isi daya kendaraan listrik Anda, dan dengan begitu Anda benar-benar membantu menjaga lingkungan," ujarnya.

Baca juga: Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang merupakan jalur untuk membawa seperempat minyak dunia, telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Harga minyak mentah dunia pun melonjak lebih dari 55 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari, bahkan sempat mencapai hampir 120 dolar AS per barel.

Stok energi India

India mengimpor sekitar 89 persen kebutuhan minyak mentahnya. Sejauh ini, stok bensin dan solar masih aman karena India membelinya dari Rusia.

Namun, stok gas elpiji (LPG) mulai menipis karena 60 persen pasokannya harus melewati jalur laut yang ditutup tersebut. Akibatnya, terjadi antrean panjang di tempat-tempat pembagian gas.

Para ahli bahwa solusi utamanya adalah mulai beralih menggunakan listrik untuk berbagai kebutuhan penting.

Sagar Adani, pimpinan dari salah satu perusahaan energi terbesar di India, menyatakan bahwa beralih ke listrik adalah jalan terbaik agar India tidak lagi bergantung pada negara lain.

"Kita sudah melihat bagaimana perang di satu tempat bisa mengacaukan pengiriman barang di seluruh dunia," katanya.

"Kita juga melihat bagaimana guncangan harga energi bisa merusak ekonomi dalam sekejap. Di dunia seperti sekarang, pertanyaannya bukan seberapa cepat kita bisa tumbuh, tapi seberapa kuat kita bertahan saat ada gangguan," ungkap Adani.

Mengembangkan energi terbarukan sebagai solusi

India sendiri mencatat rekor penambahan energi terbarukan terbesar dalam setahun, yaitu 55 gigawatt yang terdiri dari tenaga surya dan angin pada tahun 2025-2026.

Sekarang, lebih dari 50 persen kapasitas listrik India berasal dari energi bersih. Menteri Joshi menyebutkan bahwa belum ada negara anggota G20 lain yang mencapai angka tersebut, meskipun ia mengakui bahwa kapasitas yang terpasang belum tentu sama dengan jumlah listrik yang benar-benar dihasilkan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Pemerintah
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Pemerintah
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
Swasta
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
Pemerintah
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
Pemerintah
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Pemerintah
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Pemerintah
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
LSM/Figur
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
LSM/Figur
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
Swasta
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut  yang Sulit Dipantau
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Pemerintah
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
LSM/Figur
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Pemerintah
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Pemerintah
Momentum RI Raup 'Windfall Tax' Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
Momentum RI Raup "Windfall Tax" Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau