JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena El Nino disebut berisiko menyebabkan terganggunya habitat satwa liar sehingga meningkatkan konflik antara manusia dengan hewan akibat krisis ekologis.
Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Abdul Haris Mustari mengungkapkan hal itu terjadi karena El Nino memicu turunnya curah hujan. Sehingga mengakibatkan kemarau panjang dan kondisi lingkungan yang lebih kering.
“Secara langsung, peningkatan suhu lingkungan dan kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar,” kata Abdul dalam keterangannya, Jumat (1/5/2026).
Baca juga: Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Menurut dia, turunnya produktivitas tumbuhan pakan seperti buah, daun, hingga tumbuhan bawah akan berdampak pada kelangsungan hidup satwa. Akibat keterbatasan sumber daya tersebut, banyak satwa liar terpaksa memperluas wilayah jelajahnya.
“Satwa dapat keluar dari habitat hutan menuju area perkebunan bahkan permukiman manusia untuk mencari makan dan air. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar,” beber dia.
Abdul menambahkan, kebakaran hutan yang kerap terjadi saat kemarau panjang memperparah situasi lantaran secara langsung menghancurkan habitat, mengurangi populasi satwa, serta mengganggu proses reproduksi, dan penyebaran biji tanaman.
Saat rantai makanan terganggu dan regenerasi hutan terhambat, maka keseimbangan ekosistem akan ikut terguncang.
Baca juga: Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
Dampak jangka panjangnya mengancam keberlanjutan keanekaragaman hayati. Dia lantas mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak bertindak gegabah jika mengalami konflik dengan satwa liar. Abdul menyarankan agar keberadaan satwa segera dilaporkan kepada aparat setempat dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Dalam situasi darurat, satwa dapat diusir menggunakan alat sederhana tanpa melukai atau membunuhnya.
"Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh lokal sangat diperlukan untuk mencegah kerusakan hutan serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya ekosistem," tutur Abdul.
Diberitakan sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprakirakan adanya potensi El Nino ekstrem yang akan melanda Indonesia pada Juni sampai Agustus 2026. Potensi El Nino ekstrem itu dinilai memiliki intensitas yang bisa menyamai fenomena El Nino terkuat di masa lalu.
El Nino adalah fenomena iklim global yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di atas rata-rata normal. Fenomena ini melemahkan angin pasat, yang mengubah pola awan dan hujan secara drastis, sehingga memicu kekeringan panjang di Indonesia.
BRIN juga sempat memprediksi hadirnya Godzilla El Nino di Indonesia yang menyebabkan musim panas menjadi lebih panjang dan kering. Peneliti Pusat Riset Iklim dan Cuaca Ekstrem BRIN, Erma Yulihastin menjelaskan El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator.
Baca juga: El Nino Godzilla 2026, Ribuan Hektar Gambut Sumatera Terancam
Beberapa model global memprediksi El Nino mulai terjadi sejak April 2026 yang bakal diperkuat dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
"Dampaknya pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sebaliknya, wilayah Indonesia mengalami minim awan dan hujan," kata Erma, Sabtu (4/4/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya