Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KILAS

Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1,225 GW

Kompas.com, 1 Mei 2026, 20:53 WIB
Aningtias Jatmika,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN meluncurkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Mentari Nusantara I dengan kapasitas total 1,225 gigawatt (GW) sebagai bagian dari percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

Proyek tersebut dikembangkan melalui strategi pengadaan terintegrasi bertajuk “GIGA ONE” dengan proses tender resmi dimulai pada Kamis (30/4/2026). Langkah ini merupakan bagian dari upaya PLN mendukung target net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, GIGA ONE menjadi terobosan dalam model pengadaan pembangkit energi terbarukan skala besar.

Melalui skema bundling atau konsolidasi sejumlah proyek dalam satu paket strategis, PLN berupaya menciptakan skala keekonomian yang lebih optimal sekaligus meningkatkan kepastian proyek bagi investor.

Baca juga: Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi

“Lewat strategi bundling GIGA ONE, pengadaan proyek dilakukan secara konsolidasi dalam satu paket strategis. Hal ini membuat aspek keekonomian proyek jauh lebih bankable, kepastian proyek meningkat, serta proses pengadaan hingga konstruksi menjadi lebih efisien,” ujar Darmawan dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (1/5/2026).

Ia menambahkan, proyek ini tidak hanya memperkuat bauran energi bersih nasional dan menopang kemandirian energi, tetapi juga menciptakan multiplier effect bagi perekonomian, termasuk mendorong pertumbuhan lapangan kerja hijau (green jobs).

Dorong ekosistem industri energi bersih

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Suroso Isnandar menyebut, PLTS Mentari Nusantara I melalui GIGA ONE merupakan program unggulan (flagship) yang mendukung target pemerintah dalam pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW.

Baca juga: Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau

Menurut Suroso, strategi bundling tidak hanya berfokus pada pembangunan pembangkit, tetapi juga pengembangan ekosistem industri energi bersih secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Melalui strategi bundling GIGA ONE, PLN menempatkan energi terbarukan sebagai motor pertumbuhan industri nasional. Ini bukan sekadar pembangunan pembangkit, tetapi pengembangan ekosistem industri energi bersih yang terintegrasi,” kata dia.

Salah satu pembangkit energi baru terbarukan (EBT), PLTS Oelpuah di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang menjadi bagian dari upaya percepatan pengembangan energi bersih di Indonesia.PLN Salah satu pembangkit energi baru terbarukan (EBT), PLTS Oelpuah di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang menjadi bagian dari upaya percepatan pengembangan energi bersih di Indonesia.

Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) serta memperkuat manufaktur energi nasional sehingga rantai pasok dalam negeri semakin kokoh dan berdaya saing.

Target operasi 2029

Secara kapasitas, proyek PLTS Mentari Nusantara I sebesar 1,225 GW akan tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia. Rinciannya meliputi Sumatera 35 megawatt (MW), Kalimantan 340 MW, Jawa 600 MW, Sulawesi 50 MW, Nusa Tenggara Barat 80 MW, serta Maluku dan Papua 120 MW.

Baca juga: PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi

Seluruh proyek tersebut ditargetkan mencapai tahap commercial operation date (COD) pada 2029.

Ke depan, strategi pengadaan terintegrasi GIGA ONE juga akan diterapkan pada pengembangan pembangkit energi lain, seperti hidro, bayu, serta battery energy storage system (BESS).

Langkah ini menjadi bagian dari transformasi sektor ketenagalistrikan nasional menuju sistem energi bersih yang mandiri, tangguh, dan berdaulat.

“GIGA ONE menjadi blueprint baru pengadaan energi terbarukan di Indonesia dan tonggak penting dalam perjalanan transisi energi nasional,” imbuh Suroso.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau