Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050

Kompas.com, 1 Mei 2026, 20:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Perancis telah menyusun rencana jelas untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil. Targetnya adalah berhenti memakai batu bara pada 2030, minyak pada 2045, dan gas fosil pada 2050.

Rencana ini dipaparkan dalam konferensi internasional di Kolombia, di mana lebih dari 50 negara berkumpul untuk mempercepat perpindahan dunia dari energi fosil ke energi bersih.

Melansir Edie, Rabu (29/4/2026) rencana ini tidak membuat janji-janji baru, melainkan menggabungkan semua aturan iklim dan energi yang sudah ada ke dalam satu jadwal kerja yang lebih pasti.

Penggunaan energi fosil Perancis

Batu bara hanya menyumbang kurang dari 1 persen penggunaan energi di Perancis, biasanya untuk pabrik dan listrik. Perancis pun tidak menghasilkan batu bara sendiri.

Baca juga: Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil

Sementara minyak menyumbang 38 persen penggunaan energi di tahun 2024, di mana sebagian besar dipakai untuk transportasi. Perancis memproduksi sangat sedikit minyak, sehingga hampir semuanya harus dibeli dari luar negeri.

Gas fosil sendiri menyumbang 19 persen penggunaan energi, terutama untuk industri dan pemanas bangunan. Sama seperti minyak, hampir seluruh pasokan gas ini didapat dari impor.

Untuk berhenti memakai batu bara pada 2030, Perancis berencana menutup dua pembangkit listrik batu bara terakhirnya pada 2027.

Sedangkan untuk mengurangi minyak, Perancis akan beralih ke kendaraan listrik secara besar-besaran, memperbanyak tempat pengisian daya serta mengubah bus dan truk besar agar bertenaga listrik.

Lalu untuk mengurangi penggunaan gas, Perancis akan fokus pada sistem pemanas ruangan yang lebih hemat energi dan memperbaiki bangunan agar tidak boros energi.

Produksi energi rendah karbon

Rencana penghentian bahan bakar fosil juga mencakup pembangunan besar-besaran sumber energi rendah karbon.

Target energi terbarukannya antara lain mencapai 15 gigawatt (GW) tenaga angin lepas pantai terpasang pada tahun 2035, dengan penambahan 1,3 GW tenaga angin darat terpasang setiap tahunnya.

Selain itu juga peningkatan tiga kali lipat kapasitas fotovoltaik surya terpasang pada tahun 2035, peningkatan kapasitas PLTA terpasang sebesar 2,8 GW, termasuk pembangkit listrik tenaga air dengan sistem penyimpanan terpompa, dan pemasangan hingga 8 GW elektroliser pada tahun 2035 untuk menghasilkan hidrogen.

Prancis juga berencana membangun reaktor nuklir baru dan memperlama masa pakai reaktor yang sudah ada sekarang.

Tak hanya itu, mereka juga menargetkan meningkatkan produksi gas alami dari limbah hingga enam kali lipat dan menggandakan penggunaan bahan bakar nabati pada tahun 2035.

Pemerintah juga akan berinvestasi besar-besaran pada jaringan listrik. Tujuannya agar jaringan tersebut kuat menampung energi alam yang berubah-ubah, menyediakan tempat penyimpanan listrik, dan memenuhi kebutuhan listrik yang terus melonjak untuk pusat data, kendaraan, serta pemanas ruangan.

Baca juga: Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Pemerintah
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1.225 GW
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1.225 GW
BUMN
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Pemerintah
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Pemerintah
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Pemerintah
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Pemerintah
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
Swasta
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
Pemerintah
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
Pemerintah
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Pemerintah
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Pemerintah
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
LSM/Figur
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
LSM/Figur
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
Swasta
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut  yang Sulit Dipantau
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau