Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan

Kompas.com, 18 Maret 2026, 18:52 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Terdapat beragam faktor pemicu perubahan iklim di Asia, menurut studi tim ilmuwan dari China. Studi ini mencakup rentang waktu panjang karena data dilihat selama 130.000 tahun terakhir.

"Dipublikasikan dalam jurnal Science Advances, studi ini memberikan tolok ukur skala waktu jangka panjang untuk memprediksi tren perubahan iklim di masa depan," kata profesor di Fakultas Ilmu Bumi dan Lingkungan Universitas Lanzhou, Li Guoqiang, dilansir dari Xinhua dan Antara, Rabu (18/3/2026).

Baca juga:

Para peneliti mempelajari akumulasi debu dan evolusi kelembapan, serta melihat mekanisme pendorong iklim di berbagai wilayah Asia. 

Studi ini juga menawarkan dasar ilmiah untuk menganalisis tren pengeringan di Asia, perubahan pola curah hujan, serta risiko aktivitas debu di tengah kondisi pemanasan global.

Faktor pemicu perubahan iklim di Asia

Sistem sirkulasi yang memengaruhi

Iklim di Asia tidak bekerja sendirian. Ada beberapa sistem sirkulasi besar yang mempengaruhinya, di antaranya monsun barat lintang menengah, monsun musim panas Asia Timur dan Asia Selatan, serta monsun musim dingin Asia Timur.

Sistem-sistem ini terus bergerak dan berinteraksi, kadang menguat dan kadang melemah. Fluktuasi ini membentuk pola iklim di kawasan Asia.

Dampaknya sangat luas bagi lingkungan hidup, serta perkembangan sosial masyarakat.

Sebelum studi ini ada, muncul banyak kontroversi. Para ahli sempat berdebat soal proses evolusi iklim. Mereka juga mempertanyakan mekanisme pendorong sistem tersebut, tapi penelitian terbaru dari Li dan timnya memberikan jawaban baru.

Baca juga:

Di balik debu, tanah, dan angin

Tim ilmuwan China jelaskan faktor pemicu perubahan iklim Asia selama 130.000 tahun. Simak hasil studi lengkap dari Universitas Lanzhou.Pexels/Guilherme Christmann Tim ilmuwan China jelaskan faktor pemicu perubahan iklim Asia selama 130.000 tahun. Simak hasil studi lengkap dari Universitas Lanzhou.

Tim peneliti menggunakan arsip alam yang unik. Mereka meneliti urutan loess-paleosol di seluruh Asia. 

Adapun loess-paleosol merupakan lapisan debu dan tanah purba yang terbawa angin. Lapisan ini menyimpan sejarah dinamika iklim masa lalu.

Tim menggunakan teknologi baru untuk meneliti tanah ini yaitu penanggalan luminesensi inframerah feldspar kalium.

Dengan alat ini, mereka menyusun skala waktu yang sangat akurat. Mereka meneliti lebih dari 20 urutan tanah di Asia Tengah, serta wilayah Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.

Hasil studi menunjukkan, akumulasi loess di berbagai kawasan dipengaruhi secara bersamaan oleh berbagai faktor, termasuk pasokan material, cakupan vegetasi, topografi setempat, fluktuasi tingkat permukaan laut, dan aktivitas manusia.

Sementara itu, ketidakberlanjutan strata sedimen loess tersebar luas di berbagai kawasan Asia pada akhir Periode Kuarter akhir, dan erosi angin kemungkinan menjadi penyebab utamanya.

Li mengatakan, studi ini adalah yang pertama. Mereka merekonstruksi sejarah debu dan kelembapan secara komprehensif.

Skala penelitiannya mencakup seluruh benua Asia, yang menjadi bukti penting untuk memahami mekanisme perubahan iklim.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau