KOMPAS.com - Tekanan besar di laut dalam melepaskan karbon dan nitrogen terlarut, yang memberikan nutrisi bagi mikroba laut. Temuan ini membantah anggapan sebelumnya yang menyebut laut sebagai ekosistem miskin nutrisi.
Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal Science Advances, peneliti University of Southern Denmark (SDU), Denmark, menyatakan, tekanan di lautan dapat memeras nutrisi yang dikenal sebagai partikel organik, marine snow.
Baca juga:
Tim peneliti menyebutkan, marine snow mulai melepaskan karbon dan nitrogen terlarut ketika mencapai kedalaman dua sampai enam kilometer. Nutrisi ini kemudian bisa dikonsumsi mikroba yang hidup pada laut dalam.
Menurut mereka, pelepasan terjadi lantaran tekanan hidrostatik yang sangat tinggi di kedalaman tersebut.
“Tekanan tersebut bekerja hampir seperti alat pemeras raksasa. Tekanan itu memeras senyawa organik terlarut keluar dari partikel, dan mikroba dapat langsung menggunakannya," kata penulis studi dari Nordcee dan Danish Center for Hadal Research, Peter Stief, dilansir dari SciTechDaily, Senin (16/3/2026).
Baca juga:
Tekanan yang besar di laut bisa memicu larutnya karbon dan nitrogen. Hal ini dinilai menjadi model iklim masa depan. Para peneliti memperkirakan partikel yang tenggelam tersebut dapat melepaskan hingga 50 persen karbon asli, dan sekitar 58-63 persen nitrogen selama proses turun ke laut dalam.
Peneliti juga mengaitkan temuan baru ini yang berimplikasi dengan siklus karbon global.
Menurut tim peneliti, apabila marine snow kehilangan banyak karbon sebelum mencapai dasar laut, lebih sedikit karbon yang akhirnya tersimpan pada sedimen laut dalam dibandingkan yang selama ini diasumsikan ilmuwan.
Sebaliknya, lanjut Stief, karbon yang dilepaskan tetap terlarut di air laut dalam dan dapat bertahan selama ratusan hingga ribuan tahun sebelum perlahan kembali ke permukaan laut lalu menuju atmosfer.
Setelah terperangkap di dasar laut, karbon dapat tetap tersimpan selama jutaan tahun. Dalam jangka waktu panjang, karbon yang terkubur dapat menumpuk dalam jumlah sangat besar. Alhasil, banyak minyak dan gas yang diekstraksi terbentuk melalui proses itu.
“Proses ini memengaruhi seberapa banyak karbon yang dapat disimpan oleh laut dan berapa lama penyimpanannya. Hal ini penting untuk memahami proses iklim dan meningkatkan model iklim di masa depan," jelas Stief.
Baca juga:
Tekanan yang besar di laut bisa memicu larutnya karbon dan nitrogen. Hal ini dinilai menjadi model iklim masa depan. Para peneliti menyampaikan, marine snow terbentuk ketika potongan kecil material organik saling menggumpal. Partikel terdiri dari alga mati, mikroba, dan puing organik lainnya yang melayang di laut.
Ketika partikel berkumpul dan tenggelam melalui kolom air, bentuknya sering menyerupai serpihan salju kecil sehingga disebut marine snow.
Untuk meneliti proses ini di laboratorium, tim peneliti menciptakan marine snow buatan menggunakan diatom yakni alga mikroskopis. Mereka menaruh partikel dalam tangki tekanan khusus yang dirancang untuk menyimulasikan kondisi laut dalam.
Tangki terus berputar agar partikel tetap melayang dan tidak mengendap di dasar. Para peneliti menemukan sebagian besar material yang dilepaskan terdiri dari protein dan karbohidrat, zat yang mudah dikonsumsi oleh mikroba laut dalam.
Pengujian menunjukkan mikroba merespons dengan sangat cepat. Dalam waktu dua hari, jumlah bakteri meningkat 30 kali lipat dengan tingkat respirasi meningkat tajam.
Para peneliti berharap dapat melakukan studi lanjutan dalam ekspedisi ke Arktik beberapa waktu mendatang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya