Penulis
KOMPAS.com - Konflik antara Amerika Serikat-Israel versus Iran mengancam kehidupan satwa di Teluk Persia. Dari dugong hingga penyu, satwa itu menghadapi risiko yang makin besar setiap hari.
Teluk Persia merupakan rumah bagi ribuan spesies laut, tapi wilayah ini tergolong rapuh, dilansir dari AFP, Rabu (18/3/2026).
Sebelum konflik pecah pada akhir Februari 2026, ekosistem di wilayah tersebut sudah tertekan oleh perubahan iklim dan lalu lintas kapal. Saat ini situasinya jauh lebih buruk.
Baca juga:
Konflik AS-Israel vs Iran membawa dampak besar bagi satwa laut di Teluk Persia. Penyu, dugong, dan burung kini terancam.Menurut laporan dari Conflict and Environment Observatory (CEOBS), lebih dari 300 insiden berisiko lingkungan terjadi sejak konflik dimulai. Insiden ini termasuk serangan terhadap kapal tanker minyak.
Adapun Teluk Persia memiliki karakter unik. Perairannya dangkal, dengan kedalaman rata-rata sekitar 50 meter.
Airnya tidak cepat berganti sehingga butuh waktu dua hingga lima tahun untuk siklus pembaruan air. Hal tersebut juga berarti dampak pencemaran bisa bertahan lama.
Di perairan ini hidup sekitar 5.000 hingga 7.500 dugong. Mamalia laut ini dikenal sebagai "sapi laut" dan masuk kategori rentan punah.
Selain itu, ada sekitar 12 spesies mamalia laut lain, termasuk paus bungkuk (humpback whales) dan hiu paus.
Tak hanya itu, lebih dari 2.000 spesies laut tercatat hidup di Teluk Persia. Ada lebih dari 500 jenis ikan dan lima jenis penyu laut. Salah satunya adalah penyu sisik (hawksbill sea turtle) yang berstatus sangat terancam punah.
Ekosistem ini juga memiliki sekitar 100 jenis karang, serta hutan mangrove dan padang lamun yang penting bagi kehidupan laut.
Namun, saat ini, satwa tersebut berada dalam bahaya.
Baca juga:
Konflik AS-Israel vs Iran membawa dampak besar bagi satwa laut di Teluk Persia. Penyu, dugong, dan burung kini terancam.Greenpeace memperingatkan adanya "bom waktu ekologis". Hal ini berkaitan dengan puluhan kapal tanker yang membawa sekitar 21 miliar liter minyak yang terjebak di Teluk Persia.
Jika terjadi kebocoran atau serangan, dampaknya bisa sangat besar.
Sejak awal Maret 2026, tercatat sembilan insiden yang melibatkan kapal tanker telah dilaporkan ke United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Delapan di antaranya dikonfirmasi oleh International Maritime Organization (IMO).
Dampak konflik tidak hanya terjadi di laut. Serangan terhadap depot bahan bakar di Teheran, Iran, juga menimbulkan pencemaran tanah dan air.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebutnya sebagai “ecocide” atau kejahatan terhadap lingkungan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya