Penulis
Sejarah menunjukkan dampak perang terhadap lingkungan bisa berlangsung lama. Salah satunya Perang Teluk 1991.
Saat itu, hingga 11 juta barel minyak tumpah ke laut. Pencemaran mencapai 640 kilometer garis pantai Arab Saudi, menyebabkan lebih dari 30.000 burung laut mati.
Menurut beberapa studi, terumbu karang relatif lebih tahan karena minyak mengapung di permukaan.
Namun, ekosistem pesisir seperti rawa garam dan lumpur sangat rentan. Jika minyak mencapai wilayah ini, dampaknya bisa berlangsung lama.
Burung laut juga sangat terancam. Minyak merusak lapisan pelindung bulu sehingga mereka bisa mengalami hipotermia dan tenggelam.
Selain minyak, suara ledakan bom juga menjadi ancaman. Ledakan dan asap beracun bisa mengganggu jalur migrasi burung yang melintasi kawasan tersebut.
Menurut Doug Weir dari CEOBS, ranjau laut dan alat peledak lain bisa menyebabkan gangguan akustik. Hal ini berdampak pada mamalia laut seperti paus, sedangkan struktur bawah laut seperti terumbu karang juga bisa rusak.
Studi pada tahun 2003 dan 2020 yang dipublikasikan di Nature dan jurnal Royal Society menemukan hubungan antara sonar militer dan terdamparnya paus. Peristiwa itu menunjukkan bahwa kebisingan bawah laut bisa berdampak serius pada satwa.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya