Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Momentum Indonesia Percepat Penggunaan BBM Bersih

Kompas.com, 13 Maret 2026, 09:12 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran berpotensi mengganggu jalur pasokan minyak dunia dan berdampak pada bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.

Dewan Pengarah Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gadjah Mada (UGM), Deendarlianto, mengatakan, gejolak geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak dunia dapat mendorong energi baru terbarukan (EBT) menjadi lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil.

“Ketika harga minyak dunia naik, energi terbarukan menjadi lebih kompetitif. Ini bisa menjadi peluang bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan biodiesel, bioetanol, maupun sumber energi alternatif lainnya,” kata Deendarlianto dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (12/3/2026).

Baca juga:

Konflik AS-Israel vs Iran dorong energi terbarukan di Indonesia

Alarm untuk perkuat ketahanan energi nasional

Implementasi bioetanol dan biodiesel harus diterapkan pemerintah guna mengatasi potensi kelangkaan minyak dunia akibat serangan AS-Israel ke Iran.esdm.go.id Implementasi bioetanol dan biodiesel harus diterapkan pemerintah guna mengatasi potensi kelangkaan minyak dunia akibat serangan AS-Israel ke Iran.

Deendarlianto lantas mendorong pemerintah segera mengimplementasikan kebijakan campuran bioetanol dalam bahan bakar, seperti E10 dan B40 guna mempercepat pengembangan EBT.

Ia berpandangan, perguruan tinggi dan lembaga riset dapat membantu mempercepat penelitian terapan agar teknologi EBT segera diberlakukan dalam skala industri.

“Saya kira sekarang ini jadi momentum bagi dunia riset dan perguruan tinggi untuk mempercepat penelitian terapan di bidang energi terbarukan agar bisa segera diimplementasikan secara industri,” tutur dia.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut cadangan pasokan operasional bahan bakar minyak (BBM) Indonesia hanya mampu bertahan sekitar 20–23 hari. Angka ini masih jauh di bawah standar internasional yang mencapai sekitar 90 hari.

Baca juga:

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat di sejumlah daerah menjelang arus mudik Idul Fitri 2026.

Di beberapa wilayah, seperti Sumatera Utara dan Jawa Tengah, dilaporkan terjadi aksi panic buying di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk mengamankan stok BBM.

Deendarlianto menilai menipisnya cadangan operasional BBM menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Salah satu penyebabnya, tingginya ketergantungan terhadap impor minyak mentah.

“Produksi minyak mentah kita tidak sampai 700.000 barel per hari, sementara kebutuhan nasional sekitar 1,5 juta barel per hari. Artinya, kita masih harus mengimpor minyak mentah dalam jumlah banyak untuk menutup kebutuhan tersebut,” jelas Deendarlianto.

Sebelumnya diberitakan Kompas.com, Kamis (12/3/2026), pemerintah membuka kemungkinan menghitung ulang alokasi BBM bersubsidi. Evaluasi dilakukan di tengah fluktuasi harga minyak dunia.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung mengatakan, pemerintah fokus memperkuat ketahanan energi nasional dengan mengurangi ketergantungan pada BBM berbasis fosil.

Menurut dia, pemerintah mendorong implementasi campuran biodiesel yang lebih tinggi, dari B40 hingga B50.

“Kami juga ada alternatif ini peningkatan implementasi dari B40, B50. Itu kan Pak Menteri sudah diminta oleh Presiden (Prabowo Subianto) untuk melakukan antisipasi. Bagaimana kalau kondisi ini dalam kondisi keterbatasan, ya justru kita akan implementasikan itu B50 secepatnya,” ucap Yuliot.

Selain biodiesel, pemerintah menyiapkan pengembangan bahan bakar berbasis etanol.

Uji coba etanol telah dilakukan pada bensin beroktan tinggi dengan kadar campuran sekitar lima persen. Kebijakan tersebut akan diarahkan menjadi mandatori sesuai ketersediaan bahan baku domestik.

“Etanol kan kami ini sudah uji coba pertama turbo, etanolnya lima persen. Nanti kami akan mandatorikan sesuai dengan ketersediaan bahan baku dalam negeri. Mungkin nanti jadi mandatori 5, 10, bahkan pada tahun 2028 kami sudah rencanakan untuk E20,” kata dia.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau