KOMPAS.com - Gletser di Himalaya, khususnya Hindu Kush Himalaya (HKH), telah kehilangan es setara hampir 24 meter kedalaman air dalam massa es kumulatif selama 50 tahun, periode 1973 sampai 2023. Total kehilangan es tersebut setara dengan luas bangunan enam lantai.
Hal tersebut berdasarkan analisis Pusat Internasional untuk Pembangunan Pegunungan Terpadu (ICIMOD) dalam laporan Insights from 50 Years of Himalayan Glacier Monitoring (Wawasan dari 50 Tahun Pemantauan Gletser Himalaya).
Baca juga:
"Meskipun beberapa sub-wilayah, seperti Karakoram, menunjukkan perilaku yang kompleks, lintasan keseluruhan mengarah pada penyusutan gletser yang berkelanjutan di bawah jalur pemanasan saat ini," tulis laporan tersebut, dilansir dari Down to Earth, Senin (23/3/2026).
Trekking menuju Annapurna Sanctuary, Gunung Himalaya, Nepal. Gletser di Himalaya telah kehilangan es setara hampir 24 meter kedalaman air dalam massa es kumulatif selama 50 tahun.Gletser di sisi timur Himalaya, yang membentang dari Bhutan dan India Timur, serta sebagian China dan Myanmar, menunjukkan tingkat kehilangan massa atau kehilangan es yang memburuk.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa banyak gletser kehilangan massa dengan laju semakin meningkat, yang mana mengubah pola aliran air dan berkontribusi pada perluasan danau glasial.
Imbasnya, risiko banjir akibat jebolnya danau glasial (GLOF) semakin parah dan stabilitas pasokan air dalam jangka panjang terancam.
Dari 38 gletser yang diamati, gletser Hamta di Himalaya Barat, gletser Changri Nup Barat di Himalaya Tengah, serta gletser Gangju La dan Thana di lereng Himalaya Timur menunjukkan kehilangan es tertinggi, berkisar antara 1,50 hingga 1,67 meter kedalaman air rata-rata.
Kendati hasil pengamatan sangat mengkhawatirkan, masih ada kesenjangan dalam hal pengamatan skala penuh di wilayah HKH.
Namun, tidak satu pun dari rangkaian data keseimbangan massa yang tersedia saat ini di wilayah HKH memenuhi syarat sebagai "gletser referensi".
Sebab, hal itu membutuhkan minimal 30 tahun pengukuran berkelanjutan sesuai dengan pedoman World Glacier Monitoring Service (WGMS).
Untuk mengatasinya, WGMS mengembangkan metode baru yakni "gletser acuan" untuk program keseimbangan massa glasiologis yang belum mencapai ambang batas 30 tahun, tapi terletak di wilayah yang kekurangan gletser referensi.
Merujuk metode terbaru ini, saat ini ada tujuh gletser memenuhi syarat sebagai gletser acuan WGMS di wilayah Himalaya.
Sayangnya, beberapa wilayah, seperti Karakoram, Sikkim, Zanskar, dan Himalaya Bhutan masih kekurangan pengamatan jangka panjang.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya