KOMPAS.com - Greenwashing, praktik menciptakan kesan ramah lingkungan dengan tidak jujur, menjadi kesalahan strategi komunikasi Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance atau ESG) perusahaan paling fatal.
Dari aspek keuangan, isu governance washing dinilai membahayakan pemangku kepentingan, dengan risiko kerugian cukup besar.
Baca juga:
Namun, dampak environmental washing disebut jauh lebih parah daripada social washing dan governance washing. Sebab, tekanan pemangku kepentingan terhadap kinerja lingkungan perusahaaan memiliki porsi paling tinggi dibandingkan isu ESG lainnya.
Bahkan, pemangku kepentingan bisa memperberat tekanan terhadap perusahaan dengan kinerja lingkungan yang sudah bagus. Harapannya, perusahaan terus memperbaiki kinerja lingkungan yang sudah baik.
Greenwashing menjadi kesalahan strategi komunikasi ESG perusahaan. Simak penjelasan pakar berikut ini.Salah satu contoh yang bisa diperhatikan adalah kasus greenwashing perusahaan VW, yang sesungguhnya sudah mengupayakan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dari produksinya sebaik mungkin.
Menurut Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia, Jalal, keputusan perusahaan tersebut untuk melakukan praktik greenwashing demi terlihat memperbaiki kinerja lingkungannya adalah "tragedi" dalam dunia ESG.
"Itulah kenapa misalnya kasus VW itu sangat menggemparkan dunia otomotif. VW itu emisinya secara obyektif di antara yang paling kecil. Tetapi, mengapa perusahaan dengan emisi yang sudah di antara yang paling kecil kemudian masih menipu dengan menurunkan emisinya? Nah, itu karena ada tekanan untuk tampil lebih baik lagi," ucap jalal dalam webinar Navigasi ESG di Tengah Badai: Mengubah Krisis Menjadi Momentum Transformasi Perusahaan, Jumat (27/2/2026).
"Jadi, seperti apa mereka masih punya impostor syndrome (perasaan tidak layak atau tidak kompeten meski memiliki kualifikasi)," tambah dia.
Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia, Jalal, dalam webinar Navigasi ESG di Tengah Badai: Mengubah Krisis Menjadi Momentum Transformasi Perusahaan, pada Jumat (27/2/2026)..Dengan kinerja lingkungan relatif baik, perusahaan tersebut disebut masih merasa tertuntut untuk tampil semakin bagus, yang pada gilirannya memakai strategi komunikasi greenwashing sebagai jalan pintas.
Perbaikan kinerja lingkungan perusahaan memang penting. Namun, Jalal memperingatkan perusahaan untuk tidak tergoda tampil lebih baik dibandingkan kinerja lingkungan yang sudah dicapai.
Ia menganggap, kasus greenwashing perusahaan otomotif tersebut menjadi pelajaran penting strategi komunikasi ESG.
"Perbaikan perilaku juga sama. Ketika mengomunikasikan perilaku jangan juga melampaui apa yang sudah benar-benar diraih. Jadi, jangan tampil lebih 'suci' dibandingkan dengan perilaku yang sebetulnya sudah ada di dalam perusahaan itu," tutur Jalal.
Sebagai informasi, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat (AS) pada September 2015 lalu mengungkapkan, banyak mobil VW yang dijual di negara tersebut dibekali perangkat lunak pada mesin diesel.
Perangkat tersebut bisa mendeteksi kapan sedang diuji emisi dan mengubah performanya untuk meningkatkan hasil, dilansir dari BBC, Senin (23/3/2026).
Temuan EPA mencakup 482.000 mobil di AS saja. Namun, raksasa otomotif Jerman itu mengakui bahwa perangkat "penipu" emisi itu dipasang pada 11 juta mobil di seluruh dunia, termasuk delapan juta di Eropa.
VW memasang perangkat lunak tersebut untuk mendukung kampanye pemasaran yang mengklaim produk mobilnya rendah emisi.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya