Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejumlah Apel di Eropa Terkontaminasi Berbagai Jenis Pestisida

Kompas.com, 23 Maret 2026, 16:05 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Sebagian besar apel yang diuji di Eropa disebut mengandung residu beberapa pestisida sekaligus, dengan 85 persen mengandung lebih dari satu pestisida.

Temuan tersebut didapat setelah Pesticide Action Network Europe (PAN Europe) bekerja sama dengan mitra untuk menguji 59 apel yang ditanam secara lokal dari 13 negara.

Baca juga: 

Residu pestisida ditemukan hampir di semua sampel, bahkan beberapa apel menunjukkan tujuh pestisida sekaligus, dilansir dari Earth, Senin (23/3/2026).

Survei PAN Europe juga memperingatkan adanya kandungan bahan kimia abadi PFAS dalam pestisida yang muncul dalam 64 persen sampel.

Survei menemukan setidaknya delapan pestisida PFAS di seluruh apel, dan setiap negara yang berpartisipasi memiliki setidaknya satu sampel yang terkontaminasi.

PFAS merupakan bahan kimia tahan lama yang terurai sangat lambat. Senyawa ini bisa bertahan lama di tanah dan air, kemudian kembali ke makanan.

Baca juga:

Apel di Eropa mengandung residu pestisida

Tak cukup dengan mencuci apel

Sejumlah pel yang diuji di Eropa mengandung residu beberapa pestisida sekaligus, dengan 85 persen mengandung lebih dari satu pestisida.Shutterstock/BirdShutterB Sejumlah pel yang diuji di Eropa mengandung residu beberapa pestisida sekaligus, dengan 85 persen mengandung lebih dari satu pestisida.

Di antara bahan kimia yang terdeteksi, pestisida neurotoksik atau bahan kimia yang dapat membahayakan otak dan saraf, ditemukan pada 36 persen apel yang diuji.

Beberapa zat ini dapat mengganggu sinyal saraf, artinya ada kemungkinan otak yang sedang berkembang pada anak lebih rentan.

Oleh karena itu, penting agar batasan pestisida yang lebih ketat diterapkan pada makanan, terutama untuk yang dikonsumsi oleh anak-anak.

Adapun Kebun apel menghadapi tekanan terus-menerus dari jamur, serangga, dan kerusakan penyimpanan sehingga petani sering menyemprot pestisida berulang kali sepanjang musim.

PAN Europe menyampaikan, apel konvensional disemprot sekitar 30 kali setahun rata-rata di Eropa.

Baca juga:

Sebagian besar residu tidak hanya menempel di permukaan kulit, itulah sebabnya mencuci apel saja tidak bisa menyelesaikan segalanya.

Studi tentang apel menemukan bahwa pencucian hanya menghilangkan residu di permukaan, sedangkan residu yang lebih dalam tetap tertahan di dalam kulit buah.

Maka dari itu, mengupas apel dinilai menjadi cara yang lebih efektif karena menghilangkan lapisan luas tempat banyak pestisida terkumpul setelah penyemprotan pestisida.

Solusi lain untuk mengurangi paparan pestisida adalah dengan memilih apel organik karena pertanian tersebut sebagian besar melarang pestisida sintetis.

Namun, untuk mengatasi permasalahan ini secara keseluruhan, tentunya perlu sistem produksi serta kebijakan yang tegas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau