Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, telah mengeluarkan peringatan risiko rekor pencairan gletser seiring kenaikan suhu global sejak Mei 2025.
“Suhu yang mencapai rekor tertinggi telah menyebabkan pencairan gletser yang juga mencapai rekor tertinggi. Nepal saat ini berada dalam situasi yang sangat genting, kehilangan hampir sepertiga esnya hanya dalam waktu lebih dari tiga puluh tahun. Dan gletser Anda telah mencair 65 persen lebih cepat dalam dekade terakhir dibandingkan dekade sebelumnya," tutur Guterres, dilansir dari laman resmi PBB.
Gletser di wilayah HKH telah berfungsi selama berabad-abad sebagai reservoir air tawar yang vital. Pencairan gletser yang semakin cepat mengancam populasi di hulu hingga hilir wilayah HKH.
Pencairan gletser di pegunungan Himalaya memengaruhi aliran air di sistem sungai, seperti Gangga, Brahmaputra, dan Indus, serta produksi pangan bagi hampir dua miliar orang di seluruh Asia Selatan.
Baca juga:
Jika dikombinasikan dengan intrusi air asin, PBB memperingatkan potensinya memicu runtuhnya delta dan perpindahan penduduk secara massal.
“Kita akan menyaksikan negara-negara dan komunitas dataran rendah lenyap selamanya,” ucapnya.
Menanggapi berbagai potensi dampak pencairan gletser di wilayah HKH, Guterres menyerukan pemerintah negara-negara dunia untuk menghentikan pemanasan global yang disebabkan bahan bakar fosil.
Diketahui, Himalaya dan Karakoram menjadi bagian dari 16 pegunungan yang membentang di delapan negara, membentuk wilayah HKH.
Wilayah HKH dipenuhi dengan lebih dari 60.000 gletser, dengan hanya 38 gletser yang telah diamati dalam jangka panjang sejak 1974.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya