KOMPAS.com - Hampir 80 persen perusahaan terbesar di dunia dan lebih dari separuh UMKM, kini meminta rincian lebih lanjut kepada para pemasok mereka mengenai dampak dan risiko terkait iklim.
Jika digabungkan dari semua skala bisnis, proporsinya kini mencapai hampir 61 persen atau meningkat pesat dari angka 41 persen pada tahun 2023.
Temuan tersebut merupakan hasil dari platform pengungkapan lingkungan Carbon Disclosure Project (CDP).
Melansir Edie, Rabu (18/3/2026) CDP menilai kenaikan ini terjadi karena alasan bisnis yang kini jauh lebih jelas dalam menangani risiko dan peluang terkait iklim di mana sebagian disebabkan oleh peristiwa cuaca ekstrem yang sudah mulai mengganggu operasional pemasok serta jalur transportasi.
Baca juga: Cara Perusahaan Hadapi Panas Ekstrem, Pentingnya Investasi Mitigasi dan Kredit Karbon
Perusahaan-perusahaan yang melapor melalui CDP secara kolektif telah mengidentifikasi adanya potensi kerugian finansial sebesar sekitar Rp2.500 triliun yang terikat pada risiko rantai pasok terkait iklim. Misalnya saja mulai dari gagal panen akibat kekeringan, pabrik pemasok yang terendam banjir hingga jalur pengiriman yang terputus badai.
Dengan potensi kerugian tersebut, menjaga lingkungan berarti juga menyelamatkan uang perusahaan agar tidak hilang akibat bencana alam
Menghadapi tantangan ini, semakin banyak bisnis yang menetapkan mandat lingkungan bagi para pemasok utama mereka. Sebanyak 76 persen perusahaan melaporkan kepada CDP bahwa mereka telah menetapkan sejumlah persyaratan, baik yang tertuang dalam kontrak resmi maupun non-kontrak untuk para pemasok mereka. Angka ini naik dari 70 persen pada tahun 2023.
Tren Pengungkapan dan Data
CDP mengonfirmasi bahwa tahun lalu, para anggotanya secara kolektif meminta data lingkungan dari sekitar 45.000 perusahaan di seluruh rantai nilai mereka, yang tersebar di 110 negara.
Perusahaan-perusahaan di sektor manufaktur menjadi yang paling aktif dalam meminta sekaligus mengungkapkan informasi tersebut.
Perusahaan-perusahaan juga paling sering meminta data lingkungan dari para pemasok yang berbasis di Amerika Serikat, China, atau Jerman.
Baca juga: Gen Z Kini Turut Awasi Janji Keberlanjutan Perusahaan
CDP pun menyimpulkan bahwa banyak bisnis kini mampu melangkah lebih jauh dari sekadar "perkiraan kasar" mengenai emisi rantai pasok mereka, berkat data yang lebih terperinci.
Hal ini membantu banyak perusahaan memosisikan dekarbonisasi sebagai pendorong efisiensi, ketangguhan, dan kemitraan pemasok, alih-alih sekadar kewajiban formal untuk memenuhi aturan.
Namun, CDP memperingatkan bahwa banyak permintaan informasi terkait iklim dari perusahaan kepada pemasok hanya sebatas soal emisi sehingga menimbulkan risiko terabaikannya dampak dan risiko terkait alam.
Padahal sekitar setengah dari perusahaan yang melapor melalui platform tersebut beroperasi di sektor-sektor yang sangat bergantung pada alam, seperti pertambangan mineral, makanan, minuman, dan pakaian.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya