Kiki berpendapat, minat masyarakat terhadap pengelolaan limbah tekstil terus meningkat setiap tahun. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, khususnya limbah dari industri fesyen.
Setiap bulannya, EcoTouch menerima sekitar 10-15 ton limbah pakaian. Namun, jumlah donasi dibatasi lantaran kapasitas fasilitas serta proses pemilahan yang masih dilakukan secara manual.
EcoTouch mengolah lebih dari 100 ton limbah tekstil. Pada 2025 saja, perusahaan berhasil mendaur ulang sekitar 49.669 kilogram limbah pakaian.
"Kalau untuk dari segi konversi ke pengurangan emisi kami sudah mengurangi karbondioksidanya 1,2 juta kilogram. Sedangkan untuk gas metananya kami sudah membantu mengurangi 1.986 kg," beber Kiki.
"Kami jyga sudah mengumpulkan 7,24 miliar mikroplastik ataupun mikrofiber yang dihasilkan. Jadi dampaknya sudah banyak banget dari antusias masyarakat," imbuh dia.
Meski demikian, EcoTouch masih belum dapat mendaur residu seperti aksesori pakaian. Karemanya, perusahaan saat ini mencari mitra untuk mengolah limbah tersebut agar tidak berakhir di tempat sampah.
Kiki menyampaikan, pihaknya menargetkan peningkatan kesadaran masyarakat serta memperluas penggunaan produk daur ulang, khususnya material peredam bangunan yang dinilai lebih aman dan ramah lingkungan dibanding produk konvensional.
“Kami ingin produk daur ulang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sekaligus mendorong peralihan ke gaya hidup yang lebih berkelanjutan,” sebut dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya