Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak Muda Disebut Makin Enggan Melaut karena Perairan yang Tercemar

Kompas.com, 9 April 2026, 12:10 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir (KPPMPI) menyebut anak muda makin enggan menjadi nelayan lantaran laut yang terus tercemar akibat limbah. Kondisi ini dinilai sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan regenerasi nelayan di Indonesia.

“Minat pemuda pesisir terus menurun. Bukan karena mereka tidak ingin, tetapi karena kondisi laut yang semakin tercemar membuat hasil tangkapan tidak lagi menjanjikan,” ungkap Ketua Umum KPPMPI, Hendra Wiguna dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Ia menambahkan, hasil studi terbaru menunjukkan sekitar 70 persen kawasan konservasi laut telah terkontaminasi limbah cair. Limbah berasal dari aktivitas domestik, industri, serta aliran dari daratan yang bermuara ke laut.

Baca juga: Hari Nelayan 2026, KIARA Soroti Tekanan yang Dihadapi Nelayan Tradisional di Indonesia

Pencemaran ini bahkan telah menjangkau wilayah yang seharusnya menjadi zona perlindungan ekosistem laut. Hendra berpandangan, situasi itu memperburuk ketidakpastian ekonomi nelayan.

Hasil tangkapan yang menurun, ditambah biaya operasional yang tetap tinggi, membuat profesi nelayan membuat generasi muda tidak tertarik untuk melaut.

“Ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi sudah menjadi persoalan sosial dan ekonomi. Jika dibiarkan, kita bisa kehilangan generasi nelayan,” tutur dia.

Hendra menyampaikan, rusaknya ekosistem laut berdampak pada keberlanjutan sumber daya perikanan, serta mengancam ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat pesisir.

Baca juga: Studi Ungkap 70 Persen Area Konservasi Laut Terkontaminasi Limbah Cair

Di wilayah pesisir Cilamaya, Karawang, misalnya, di mana aktivitas eksplorasi perusahaan pembangkit listrik disinyalir menjadi sumber pencemaran laut yang berdampak langsung pada nelayan kecil.

“Dulu nelayan bisa mendapatkan Rp300.000 hingga Rp400.000 per hari. Sekarang, untuk mendapatkan Rp50.000 saja sudah sangat sulit. Ikan semakin jarang ditemukan di wilayah tangkap mereka,” jelas Hendra.

Pencemaran di Berbagai Wilayah

Fenomena serupa juga terjadi di berbagai daerah lain. Di Kepulauan Riau, seperti di Bintan, perairan yang menjadi wilayah tangkap nelayan kecil kerap mengalami pencemaran. Limbah batu bara dan tumpahan minyak hitam dilaporkan mengganggu aktivitas penangkapan ikan sekaligus merusak sektor pariwisata bahari.

Tercatat pula tangkapan nelayan kecil di Kota Tarakan yang terus menurun karena sampah. Diduga, hal itu terjadi akibat pengelolaan limbah domestik dan industri yang belum optimalsehingga mencemari perairan.

Dampak yang paling signifikan lainnya ialah ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya ikan.

“Jika wilayah pesisir terus tercemar, ikan akan kesulitan berkembang biak. Dalam jangka panjang, ini bisa merusak ekosistem laut,” beber Hendra.

Karenanya, KPPMPI mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan segera mengambil langkah konkret dalam mengatasi pencemaran laut.

Baca juga: Perairan Romang-Damer Punya Keanekaragaman Hayati Terlengkap se-Asia

Penguatan regulasi dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran dinilai menjadi langkah penting, diiringi dengan perbaikan sistem pengelolaan limbah dari hulu ke hilir.

Selain itu, diperlukan kebijakan yang berpihak pada nelayan muda, antara lain penyediaan akses teknologi, pelatihan, serta jaminan perlindungan ekonomi agar profesi nelayan kembali memiliki daya tarik.

“Jika laut dapat dipulihkan, kami yakin pemuda akan kembali melihat masa depan di sektor perikanan. Namun jika tidak, kita akan menghadapi krisis regenerasi nelayan yang nyata,” papar dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau