Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Ganggu Siklus Produksi Manggis, Hasil Panen Petani Turun

Kompas.com, 9 April 2026, 13:31 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Pohon manggis sangat rentan terhadap krisis iklim. Cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim, mengganggu siklus produksi pohon manggis dan jadwal panennya.

‎Iim Suherman (51 tahun) mengatakan, terlalu sering hujan telah menurunkan produktivitas perkebunan manggisnya di Desa Puspahiang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

‎"Hasil panen berkurang, dari 700 kg per musim, menjadi 400 kg," ujar Iim di Tasikmalaya, Rabu (8/4/2026).

Baca juga: RI Mulai Masuk Musim Kemarau, Kenapa di Jakarta Masih Hujan?

‎Menurut Iim, musim kemarau yang agak panjang atau sekitar 4-5 bulan menjadi kondisi paling ideal untuk pohon manggis bisa berbuah banyak.

‎"Kalau baru satu bulan langsung ada hujan lagi, enggak akan berbuah kalau di sini," tutur Iim.

‎Kata dia, pohon manggis harus berusia di atas 10 tahun untuk mencapai fase produktif. Buah manggis berasal dari perkembangan bunga. Pohon manggis membutuhkan waktu 4-6 bulan untuk mengubah bunga menjadi buah.

Kelola Ekspor

‎CEO Java Fresh, Margareta Astaman mengatakan, musim hujan menyebabkan bunga pada pohon manggis akan rontok atau tidak muncul dan menjadi daun. Dalam kondisi ini, produksi manggis perkebunan di Desa Puspahiang, menurun.

‎Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan lebih kering dan berlangsung semakin panjang dari normalnya yang dipicu fenomena El Niño.

Pohon manggis membutuhkan keseimbangan iklim dengan kadar sinar matahari dan air hujan yang proporsional agar mampu mengubah bunga menjadi buah. Setelah berbuah, pohon manggis membutuhkan pasokan air yang cukup untuk membesarkannya.

‎"Iya, kalau tahun sebelumnya sudah enggak berbuah (tahun 2025), tahun ini ada kemarau yang panjang, harusnya tahun ini sudah pasti ada buah. Hanya saja ketika kemaraunya itu terlalu panjang, berarti kan pohon manggis yang sudah berbuah itu, enggak dapat cukup air untuk membesarkan buahnya. Akibatnya, buahnya cenderung biasanya kecil-kecil," ujar Margareta.

‎Menurut Margareta, mengelola bisnis ekspor manggis semakin susah akibat dampak krisis iklim terhadap perkebunan manggis.

‎Tahun lalu, cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim mengakibatkan Java Fresh berhenti mengekspor manggis. Padahal, sejak beroperasi pada 2014, setiap tahunnya, Java Fresh selalu mengirim manggis ke luar negeri.

‎"Ada musim (panen) besar, ada musim kecil, tetapi kita selalu bisa ekspor manggis. Cuman tahun lalu karena cuacanya lumayan ekstrem, kacau gitu ya karena hujan yang berkepanjangan dan di semua daerah. Jadinya sempat ada 1-2 bulan di Indonesia enggak ada manggis sama sekali. Itu sebenarnya tidak normal karena tidak pernah terjadi, bahkan dari 10 tahun belakangan tuh enggak pernah terjadi juga," tutur Margareta.

Baca juga: RI Mulai Masuk Musim Kemarau, Kenapa di Jakarta Masih Hujan?

‎Meski komoditas Java Fresh paling laku, kata dia, manggis justru terdampak krisis iklim terparah. Khususnya, disebabkan siklus produksi manggis lebih lama dari komoditas ekspor Java Fresh lainnya, seperti salak dan kelapa. Jika siklus produksinya semakin panjang, pohon akan lebih lama menghadapi berbagai risiko yang mempengaruhi pohon sebelum dipanen.

‎"Iya, kalau salah satu komoditas utama kita juga salak. Nah kalau salak itu ada proses pengawinan yang dilakukan oleh petaninya jadi lebih bisa diatur lah, ada hujan juga ya nggak apa-apa gitu masih bisa," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau