TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Ai Rahmawati (39), warga Desa Pasirsalam, Kecamatan Mangunreja, menjadi salah satu dari sedikit ibu di lingkungannya yang mampu menyekolahkan anak perempuannya hingga perguruan tinggi.
Di daerahnya, banyak anak perempuan terpaksa putus sekolah dan kemudian menikah muda. Hal ini disebabkan oleh jauhnya akses ke SMP dan SMA, serta keterbatasan ekonomi keluarga.
Bagi Ai, kunci agar anaknya bisa terus bersekolah adalah tambahan penghasilan. Karena itu, ia memilih bekerja di rumah pengemasan (packing house) milik Java Fresh, sebuah perusahaan eksportir buah tropis.
Baca juga: Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Meski hanya lulusan SMP, Ai telah bekerja di sana selama delapan tahun. Ia bukan satu-satunya. Beberapa ibu lain yang bekerja di tempat yang sama juga berhasil menyekolahkan anak perempuan mereka hingga ke jenjang kuliah.
Saat ini, Java Fresh mempekerjakan sekitar 210 perempuan di enam packing house, dengan sekitar 70 persen di antaranya berusia di atas 40 tahun. Bagi banyak dari mereka, pekerjaan ini menjadi peluang penting untuk tetap produktif dan mandiri secara ekonomi.
Salah satunya adalah Eti Suharti (56). Ia merasa bersyukur masih bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan di usia yang tidak lagi muda. Pekerjaannya adalah membersihkan semut dan kotoran dari buah manggis hasil panen.
Setelah suaminya meninggal, Eti menjadi tulang punggung keluarga yang juga harus merawat orang tuanya yang sudah lanjut usia. Ia mengaku pendapatan dari pekerjaannya kini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, suasana kerja yang ringan dan adanya teman-teman seusia membuatnya merasa nyaman.
Eti telah bekerja selama tujuh tahun, dengan penghasilan sekitar Rp700.000 per dua minggu, dan bisa mencapai Rp1.200.000 jika volume pekerjaan meningkat. Sebelumnya, ia hanya berjualan kecil-kecilan dengan penghasilan yang tidak menentu.
Lebih dari sekadar membuka lapangan kerja, Java Fresh juga berupaya membangun kapasitas perempuan melalui berbagai program. Perusahaan ini menyediakan akses layanan kesehatan, edukasi finansial, serta pelatihan teknis seperti sorting, grading, dan penanganan buah sesuai standar ekspor. Bahkan, penyediaan makan siang bergizi dianggap sebagai bagian penting untuk menjaga produktivitas dan konsistensi kerja.
Menurut Co-Founder & CEO Java Fresh, Margareta Astaman, pendekatan pemberdayaan yang menyeluruh ini tidak hanya berdampak pada individu pekerja, tetapi juga pada keluarga dan komunitas mereka. Hal ini dinilai mampu memutus rantai keterbatasan dan menciptakan perubahan jangka panjang.
Di sisi lain, penguatan kapasitas riset dan pengembangan (R&D) menjadi strategi penting untuk memperluas dampak tersebut.
Baca juga: Fenomena Sticky Floor, Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Dengan dukungan hibah dari DBS Foundation, Java Fresh mengembangkan teknologi yang mampu memperpanjang masa simpan buah segar dari sekitar satu minggu menjadi hingga 35 hari.
Perpanjangan masa simpan ini memberikan berbagai manfaat, mulai dari menurunkan risiko kerugian dan limbah pascapanen, hingga meningkatkan efisiensi operasional. Saat ini, Java Fresh telah mengekspor berbagai buah tropis seperti manggis, salak, dan kelapa ke 25 negara, dan berpotensi memperluas pasar seiring dengan penguatan rantai pasok.
Head of R&D Java Fresh, Hilda Sucipto, menjelaskan bahwa fokus utama pengembangan teknologi ini adalah pada komoditas manggis. Selain untuk mendukung ekspor, teknologi tersebut juga membantu memperluas sumber pasokan dari berbagai daerah.
Ke depan, Java Fresh berencana mengembangkan pasokan manggis dari luar Jawa dan Sumatera, seperti Kalimantan dan Sulawesi. Namun, perusahaan tetap berhati-hati dalam memilih lokasi, terutama terkait kualitas tanah dan potensi kontaminasi pestisida.
Hilda mencontohkan kasus di Sumatera Barat, di mana kebun manggis yang berdekatan dengan tanaman jagung menghasilkan buah berkualitas buruk akibat paparan pestisida. Hal ini menunjukkan pentingnya pengelolaan lingkungan tanam yang tepat untuk menjaga kualitas produk, terutama untuk pasar ekspor seperti Eropa.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya