Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi

Kompas.com, 11 April 2026, 11:00 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kelompok perempuan asal Misool, Raja Ampat, Papua Barat Daya, membagikan kisah mereka memimpin dan melestarikan sumber daya alam berkelanjutan dalam pertemuan yang berlangsung di Gianyar, Bali pada 9–11 April 2026.

Ketiga kelompok yang terlibat antara lain Waifuna dari Kampung Kapatcol, Joom Jak dari Kampung Aduwei, dan Zakan Day dari Kampung Salafen yang keseluruhannya berjumlah 20 perempuan terdiri dari mama-mama serta perempuan muda.

Dalam kesempatan itu, para anggota kelompok membahas praktik kepemimpinan perempuan berbasis kearifan lokal, khususnya pengelolaan perikanan melalui sistem adat sasi.

Baca juga: Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier

“Praktik sasi yang dipimpin oleh kelompok perempuan di kampung kami sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Hasilnya tidak hanya menjaga alam tetap lestari, tetapi juga perlahan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kami,” kata Ketua Kelompok Sasi Perempuan Waifuna dari Kampung Kapatcol, Almina Kacili, dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).

Almina mengungkapkan bahwa praktik sasi telah lama diterapkan secara turun-temurun. Akan tetapi, selalu dipimpin laki-laki. Hal ini karena budaya patriarki yang kuat membuat peran perempuan kerap terpinggirkan.

“Pada 2008, kami melihat bagaimana laki-laki mengelola sasi. Kami ingin bisa melakukan hal yang sama, dari situlah kelompok Waifuna terbentuk dan kami diizinkan mengelola area sasi seluas 32 hektar," ucap dia.

Sasi adalah sistem adat yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam dengan membuka dan menutup akses suatu area pada periode tertentu, dan umum dijumpai di Indonesia Timur.

Baca juga: Beban Perempuan Global, Habiskan 250 Juta Jam Setiap Hari demi Air

Ketelatenan dan konsistensi Waifuna dalam mengelola sasi membuahkan kepercayaan dari perangkat kampung, pihak adat dan gereja. Manfaat yang dirasakan masyarakat secara luas, sehingga pada 2019 wilayah kelola mereka diperluas menjadi 213 hektar.

Menurut Almina kesuksesan itu yang kemudian menginsipirasi kampung lain menjalankan sistem serupa di Aduwei dan Salafen. Kedua kampung ini membentuk kelompok perempuan pengelola sasi pada 2022.

Ketua Kelompok Jom Jak Sasi dari Kampung Aduwei, Ribka, mengaku dengan adanya sasi mereka bisa memiliki tabungan yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan anggota kelompok ataupun masyarakat setempat.

“Biasanya sebelum buka sasi, kami berdiskusi hasil sasi akan digunakan untuk apa. Bisa untuk keperluan gereja, sampai untuk kebutuhan pendidikan maupun kesehatan masyarakat,” beber Ribka.

Sementara itu, Manajer Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Hilda Lionata mengatakan penerapan sasi di tiga kampung Raja Ampat berdampak terhadap posisi perempuan dalam pengambilan keputusan.
Mereka tidak lagi malu atau takut menyampaikan pendapat dan terlibat dalam pengambilan keputusan di kampung.

"Mereka yang sebelumnya jarang diundang ke pertemuan masyarakat dan tidak vokal dalam pengambilan keputusan, kini selalu diundang ke rapat kampung karena telah terdaftar sebagai salah satu kelompok resmi di kampung,” jelas Hilda.

Ia menambahkan, YKAN telah mendampingi kelompok sasi perempuan Waifuna sejak 2008. Pendampingan mencakup pelatihan dasar pemahaman siklus hidup hewan yang disasi seperti teripang, lola, lobster yang mendasari aturan tangkap dan ukuran tangkap hingga pelatihan teknis biota laut. 

Baca juga: Nuri Kepala Hitam Papua Ditemukan di Kapal, BKSDA Maluku Langsung Bertindak

Itu mencakup pelatihan selam bebas yang aman, serta pengoperasian perahu.

Pertemuan di Bali diharapkan dapat memperkuat jejaring dan kerja sama antar kelompok perempuan praktisi sasi serta menginspirasi wilayah lain untuk mengintegrasikan keadilan gender dalam upaya konservasi laut.

Pengalaman perempuan Misool menunjukkan kepemimpinan perempuan dan kearifan lokal dapat berjalan seiring dalam menjaga alam dan masa depan komunitas.

“Pengalaman Waifuna, Joom Jak, dan Zakan Day menegaskan bahwa keadilan gender dan konservasi laut saling menguatkan. Ketika perempuan diberi ruang dan pengakuan, praktik panen berkelanjutan menjadi lebih efektif dan manfaatnya dirasakan lebih adil,” teranf Hilda.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau