Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Optimalisasi sistem pengisian kendaraan listrik menjadi faktor krusial dalam mendukung pengembangan transportasi rendah emisi dan menjaga stabilitas sistem energi di masa depan.
Hal ini mengemuka dalam kuliah tamu internasional yang diselenggarakan Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Kamis (9/4/2026), yang menghadirkan Prof. Dr. Jutta Geldermann dari University of Duisburg-Essen, Jerman.
Dalam paparannya, Geldermann menekankan pentingnya integrasi antara penentuan lokasi stasiun pengisian kendaraan listrik dan penjadwalan pengisian daya baterai.
Baca juga: ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Ia menjelaskan, optimalisasi sistem pengisian kendaraan listrik perlu mempertimbangkan berbagai variabel, seperti pola perjalanan pengguna, kapasitas jaringan listrik, biaya investasi, hingga waktu tunggu.
Melalui pendekatan *Integer Linear Programming* (ILP), perencanaan lokasi stasiun pengisian dan pengaturan waktu pengisian dapat dilakukan secara terintegrasi untuk meminimalkan biaya sekaligus memastikan kebutuhan energi tetap terpenuhi.
“Model ini dirancang untuk meminimalkan total biaya sekaligus memastikan seluruh kebutuhan pengisian daya terpenuhi tanpa membebani grid,” demikian paparan Jotta.
Optimalisasi ini juga penting untuk menghindari lonjakan beban listrik pada waktu tertentu yang berpotensi mengganggu kestabilan jaringan.
Dengan pengaturan waktu pengisian (*charge scheduling*), distribusi penggunaan listrik dapat dilakukan lebih merata, terutama dengan memanfaatkan waktu di luar jam puncak.
Pendekatan ini dinilai menjadi solusi dalam mengintegrasikan sektor transportasi dengan sistem energi secara lebih efisien.
Dalam kegiatan yang diikuti dosen dan mahasiswa program magister serta doktor tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai peran riset operasi dalam mendukung pengembangan infrastruktur kendaraan listrik.
Baca juga: Eropa Pimpin Investasi Transisi Energi, Ungguli AS dan China
Kajian ini menunjukkan bahwa optimalisasi sistem pengisian tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya, tetapi juga berkontribusi pada percepatan transisi energi dan pengurangan emisi di sektor transportasi.
Ke depan, perencanaan infrastruktur kendaraan listrik yang terintegrasi dengan sistem energi menjadi kunci dalam memastikan pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik berjalan berkelanjutan, termasuk di Indonesia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya