Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global

Kompas.com, 13 April 2026, 16:19 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kepala Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa krisis energi global akibat perang AS-Israel terhadap Iran akan mempercepat peralihan ke energi terbarukan dan tenaga nuklir.

Goncangan yang terjadi saat ini, yang dipicu oleh blokade Iran di Selat Hormuz, memaksa dunia untuk lebih cepat meninggalkan bahan bakar fosil dan mencari sumber energi yang lebih aman.

Melansir Independent, Rabu (8/4/2026) Fatih Birol mengatakan bahwa guncangan saat ini, yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan atas serangan tersebut, akan merombak sistem energi global.

Ia berpendapat bahwa krisis tersebut justru akan mempercepat investasi pada sumber energi yang lebih bersih.

Energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin bisa dipasang dengan relatif cepat, katanya, yang berarti banyak negara dapat mulai beralih dari bahan bakar fosil dalam hitungan bulan. Namun, ia mengingatkan bahwa hal ini tidak akan langsung menyelesaikan krisis yang terjadi saat ini.

Baca juga: Gejolak LPG Imbas Perang AS-Israel Vs Iran, Bisakah Indonesia Beralih ke EBT?

"Ini akan memakan waktu bertahun-tahun. Tetapi geopolitik energi akan berubah secara mendalam," papar Birol.

Birol mengatakan bahwa besarnya gangguan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menggambarkannya sebagai kondisi yang jauh lebih serius daripada gabungan krisis tahun 1973, 1979, dan 2022.

AS dan Iran sendiri telah menyepakati gencatan senjata yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur laut penting tempat lewatnya hampir 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Kabar ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar.

Namun, jumlah kapal yang melintasi jalur tersebut diperkirakan akan jauh lebih sedikit dibandingkan sebelum perang.

"Dunia belum pernah mengalami gangguan pasokan energi sebesar ini," ungkap Birol.

Negara Berkembang Paling Terdampak Perang

Negara-negara anggota IEA sendiri sudah mulai mengeluarkan cadangan darurat mereka untuk mencoba menstabilkan pasar.

Meskipun dampaknya akan terasa di seluruh dunia, Birol memperingatkan bahwa negara-negara berkembang adalah pihak yang paling rentan dan terancam.

Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran Picu Kenaikan Tarif Penerbangan hingga Ganggu Pendidikan

"Mereka akan menderita akibat kenaikan harga minyak dan gas, mahalnya harga pangan, serta kenaikan inflasi secara umum," katanya.

Ia memperingatkan risiko adanya "April Hitam" --istilah kiasan untuk menggambarkan potensi bencana ekonomi global yang sangat buruk pada bulan April 2026-- jika selat tersebut terus ditutup, karena pasar dunia berpotensi kehilangan pasokan minyak dan produk olahannya dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Jalur air tersebut tidak hanya penting untuk pengiriman minyak dan gas, tetapi juga untuk komoditas seperti pupuk. Hal ini meningkatkan risiko efek berantai pada kenaikan harga pangan dunia.

Krisis energi sebelumnya yakni pada tahun 1973 dan 1979 akibat embargo minyak, serta tahun 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina telah mengubah wajah pasar global.

Birol mengatakan bahwa guncangan kali ini bisa memberikan dampak yang lebih dalam dan permanen, sehingga mempercepat perubahan yang memang sedang berjalan dalam transisi energi dunia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau