KOMPAS.com - Kepala Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa krisis energi global akibat perang AS-Israel terhadap Iran akan mempercepat peralihan ke energi terbarukan dan tenaga nuklir.
Goncangan yang terjadi saat ini, yang dipicu oleh blokade Iran di Selat Hormuz, memaksa dunia untuk lebih cepat meninggalkan bahan bakar fosil dan mencari sumber energi yang lebih aman.
Melansir Independent, Rabu (8/4/2026) Fatih Birol mengatakan bahwa guncangan saat ini, yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan atas serangan tersebut, akan merombak sistem energi global.
Ia berpendapat bahwa krisis tersebut justru akan mempercepat investasi pada sumber energi yang lebih bersih.
Energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin bisa dipasang dengan relatif cepat, katanya, yang berarti banyak negara dapat mulai beralih dari bahan bakar fosil dalam hitungan bulan. Namun, ia mengingatkan bahwa hal ini tidak akan langsung menyelesaikan krisis yang terjadi saat ini.
Baca juga: Gejolak LPG Imbas Perang AS-Israel Vs Iran, Bisakah Indonesia Beralih ke EBT?
"Ini akan memakan waktu bertahun-tahun. Tetapi geopolitik energi akan berubah secara mendalam," papar Birol.
Birol mengatakan bahwa besarnya gangguan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menggambarkannya sebagai kondisi yang jauh lebih serius daripada gabungan krisis tahun 1973, 1979, dan 2022.
AS dan Iran sendiri telah menyepakati gencatan senjata yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur laut penting tempat lewatnya hampir 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Kabar ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar.
Namun, jumlah kapal yang melintasi jalur tersebut diperkirakan akan jauh lebih sedikit dibandingkan sebelum perang.
"Dunia belum pernah mengalami gangguan pasokan energi sebesar ini," ungkap Birol.
Negara-negara anggota IEA sendiri sudah mulai mengeluarkan cadangan darurat mereka untuk mencoba menstabilkan pasar.
Meskipun dampaknya akan terasa di seluruh dunia, Birol memperingatkan bahwa negara-negara berkembang adalah pihak yang paling rentan dan terancam.
Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran Picu Kenaikan Tarif Penerbangan hingga Ganggu Pendidikan
"Mereka akan menderita akibat kenaikan harga minyak dan gas, mahalnya harga pangan, serta kenaikan inflasi secara umum," katanya.
Ia memperingatkan risiko adanya "April Hitam" --istilah kiasan untuk menggambarkan potensi bencana ekonomi global yang sangat buruk pada bulan April 2026-- jika selat tersebut terus ditutup, karena pasar dunia berpotensi kehilangan pasokan minyak dan produk olahannya dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Jalur air tersebut tidak hanya penting untuk pengiriman minyak dan gas, tetapi juga untuk komoditas seperti pupuk. Hal ini meningkatkan risiko efek berantai pada kenaikan harga pangan dunia.
Krisis energi sebelumnya yakni pada tahun 1973 dan 1979 akibat embargo minyak, serta tahun 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina telah mengubah wajah pasar global.
Birol mengatakan bahwa guncangan kali ini bisa memberikan dampak yang lebih dalam dan permanen, sehingga mempercepat perubahan yang memang sedang berjalan dalam transisi energi dunia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya