Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penguin Kaisar dan Anjing Laut Terancam Punah akibat Pemanasan Global

Kompas.com, 17 April 2026, 21:05 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penguin kaisar dan anjing laut bulu kini masuk daftar spesies yang terancam punah. Berdasarkan laporan International Union for the Conservation of Nature (IUCN), dua spesies ikonik Antartika tersebut kian terancam akibat pemanasan air laut, mencairnya es, hingga menurunnya ketersediaan pakan untuk bertahan hidup.

“Bagi penguin kaisar, es laut adalah habitat utama mereka. Mereka berkembang biak di es yang menempel di garis pantai, yaitu es laut yang terhubung dengan garis pantai," ungkap Philip Trathan selaku anggota kelompok kerja IUCN dilansir dari CNN, Jumat (17/4/2026).

Kedua spesies ini, lanjut dia, mencari makan di dalam, celah, dan retakan es laut. Maka, berkurangnya es lautan di Antartika menyebabkan penguin dan anjing laut kehilangan habitat serta sumber makanan.

Baca juga: Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip

“Hilangnya es laut dalam jumlah besar akibat perubahan iklim regional tetap menjadi ancaman berkelanjutan dan kemungkinan akan mengurangi keberhasilan perkembangbiakan, hingga kelangsungan hidup individu dewasa dalam jangka panjang," ucap Trathan.

Penguin kaisar beralih status dari Hampir Terancam (Near Threatened) menjadi Terancam Punah (Endangered) dalam Daftar Merah IUCN. Berdasarkan proyeksi terbaru. populasinya akan berkurang setengahnya pada 2080-an.

Trathan menyebut ada dua bukti yang membantu menetapkan perubahan status penguin kaisar, yakni analisis citra satelit yang didukung oleh penilaian yang dilakukan di lapangan dan penilaian model populasi.

Data satelit menunjukkan, penguin kaisar kehilangan sekitar 10 persen populasi sejak 2009-2018, dengan total lebih dari 20.000 penguin dewasa yang mati.

Baca juga: WWF Temukan 200 Spesies Terancam Punah di Maluku Barat Daya

"Faktor utama yang menyebabkan penurunan populasi adalah pencairan dini dan hilangnya es laut akibat perubahan iklim," kata Trathan.

Es Laut Mencair Signifikan

Menurut dia, es laut di Antartika telah menurun secara signifikan sejak tahun 2016. Kondisi ini meningkatkan risiko bahkan kegagalan perkembangbiakan di hampir setengah dari koloni penguin kaisar yang di seluruh Antartika.

Anjing laut bulu Antartika, statusnya berubah dari Paling Tidak Terancam (Least Concern) menjadi Terancam Punah (Endangered) dalam Daftar Merah IUCN setelah populasinya menyusut lebih dari 50 persen selama 1999-2025. Menurut IUCN, penurunan populasi anjing laut juga berkaitan dengan perubahan iklim yang mengurangi ketersediaan krill, sumber makanan utama mereka.

Petugas penilaian spesies anjing laut, Kit Kovacs menyampaikan seiring meningkatnya suhu permukaan air di dekat Antartika, krill yang merupakan zooplankton pakan anjing laut bergerak lebih jauh ke lepas pantai dan ke perairan dalam untuk mencapai daerah yang dingin.

"Hal ini membuat krill jauh lebih sulit diakses oleh predator krill yang berbasis di darat," sebut Kovacs.

Kovacs mencatat, penemuan spesies baru di Samudra Atlantik Selatan baru-baru ini mencerminkan perubahan yang telah terjadi di Arktik Atlantik Utara, di mana anjing laut bertudung, anjing laut harpa, dan anjing laut cincin terbukti mengalami penurunan populasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Pemerintah
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
LSM/Figur
Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi
Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi
LSM/Figur
Pemerintah akan Wajibkan Masyarakat Kembalikan Air Tanah ke Bumi
Pemerintah akan Wajibkan Masyarakat Kembalikan Air Tanah ke Bumi
Pemerintah
Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun
Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun
Pemerintah
PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Ancaman El Niño
PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Ancaman El Niño
Pemerintah
Kekeringan Panjang dan Perubahan Pola Hujan Landa Amazon, Ekosistem Terancam
Kekeringan Panjang dan Perubahan Pola Hujan Landa Amazon, Ekosistem Terancam
Pemerintah
Tantangan di Balik Piring Makan Anak Indonesia: Menyuap Gizi, Membangun Kebiasaan
Tantangan di Balik Piring Makan Anak Indonesia: Menyuap Gizi, Membangun Kebiasaan
LSM/Figur
Harga Bensin Meroket, Warga Pakistan Ramai-Ramai Beralih ke Skuter Listrik
Harga Bensin Meroket, Warga Pakistan Ramai-Ramai Beralih ke Skuter Listrik
Pemerintah
Potensi Lobster RI Melimpah, tapi Teknologi hingga Infrastruktur Belum Memadai
Potensi Lobster RI Melimpah, tapi Teknologi hingga Infrastruktur Belum Memadai
Pemerintah
Mengapa Benua Eropa Mengalami Pemanasan Paling Cepat di Dunia?
Mengapa Benua Eropa Mengalami Pemanasan Paling Cepat di Dunia?
Pemerintah
Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah
Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah
Pemerintah
BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
LSM/Figur
ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
BUMN
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau