Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - pengembangan energi terbarukan yang diproduksi secara lokal merupakan cara terbaik untuk membangun keamanan energi suatu negara.
Direktur Pusat Informasi PBB (UNIC) di Jakarta Miklos Gaspar mengatakan konsekuensi perang di Iran terhadap keamanan energi sangat jelas.
"Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa pertahanan terbaik, cara terbaik untuk membangun keamanan energi bagi suatu negara adalah melalui pengembangan energi terbarukan yang diproduksi secara lokal," kata Gaspar di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Dengan memproduksi sumber energi sendiri, negara tidak lagi bergantung pada jalur pelayaran global yang rentan, merujuk pada hambatan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
"Energi terbarukan lokal tidak hanya ramah iklim, tetapi juga memperkuat stabilitas energi serta mendukung keamanan nasional secara keseluruhan," ujar Gaspar.
Pada Senin (13/4/2026), Angkatan Laut AS mulai memblokade seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada kedua sisi di Selat Hormuz, jalur perairan yang berkontribusi terhadap sekitar 20 persen pengiriman pasokan minyak dunia, produk petroleum, dan LNG.
Hal itu dilakukan oleh AS karena gagal mencapai kesepakatan dengan Iran dalam perundingan di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026).
Terkait energi baru terbarukan (EBT), pada Januari 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat per akhir 2025, capaian bauran EBT sebesar 15,75 persen.
Keberhasilan itu ditandai oleh rekor penambahan kapasitas pembangkit EBT terbesar selama lima tahun terakhir hingga menyentuh angka 15.630 MW.
Baca juga: Gejolak LPG Imbas Perang AS-Israel Vs Iran, Bisakah Indonesia Beralih ke EBT?
Secara terperinci, kapasitas tersebut didominasi oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 7.587 MW, bioenergy sebesar 3.148 MW, dan panas bumi sebesar 2.744 MW.
Selain itu, kontribusi dari sumber energi lain juga terus berkembang, di antaranya tenaga surya sebesar 1.494 MW, gasifikasi batu bara sebesar 450 MW, angin sebesar 152 MW, pemanfaatan sampah sebesar 36 MW, dan sumber lainnya sebanyak 18 MW.
Pemerintah Indonesia juga akan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 GW. Proyek itu mencakup pembangunan 80 GW PLTS dan 320 GWh baterai (battery energy storage system) di Koperasi Desa Merah Putih, serta 20 GW PLTS terpusat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya