Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip

Kompas.com, 9 Februari 2026, 16:45 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Daftar spesies yang perlu dipantau pada tahun 2026 diluncurkan oleh organisasi amal alam Fauna & Flora.

CEO Fauna & Flora, Kirsitian Teleki mengatakan, daftar itu menyoroti tantangan berat yang dihadapi sejumlah spesies paling rentan di dunia. Tak terkecuali, akibat hilangnya habitat, penggundulan hutan, krisis iklim, dan perdagangan satwa liar.

Baca juga:

“Hal ini juga menyoroti tumbuhan dan hewan aneh dan menakjubkan yang sedang kami upayakan untuk lindungi, serta orang-orang dan mitra inspiratif yang bekerja sama dengan Fauna & Flora di seluruh dunia untuk memberikan aksi konservasi yang efektif. Pada masa-masa sulit ini, ia menjadi mercusuar harapan," ujar Teleki, dilansir dari Euronews, Senin (9/2/2026). 

Berikut daftar 10 spesies yang terancam punah tahun 2026 versi Fauna & Flora.

10 spesies yang terancam punah 2026

1. Belut eropa

Ilustrasi belut eropa. Fauna & Flora menyoroti 10 spesies terancam punah 2026, dari elang hingga tulip liar.Dok. Wikimedia Commons/vranken martin Ilustrasi belut eropa. Fauna & Flora menyoroti 10 spesies terancam punah 2026, dari elang hingga tulip liar.

Belut eropa atau european eels yang dulunya dapat ditemukan di seluruh benua, saat ini terancam punah akibat penangkapan berlebihan. Penurunan populasinya dipicu permintaan hidangan belut jeli, polusi, fragmentasi habitat, dan perdagangan ilegal.

Fauna & Flora memperingatkan bahwa hilangnya belut eropa memiliki konsekuensi mengerikan.

Hal ini mengingat belut eropa berperan penting dalam ekosistem air tawar dan pesisir, dengan menyediakan sumber makanan berenergi tinggi bagi berang-berang, burung bangau, dan makhluk pemakan ikan lainnya.

2. Gibbon cao-vit

Saat ini, gibbon cao-vit atau cao-vit gibbon yang bersuara khas, hanya tersisa 74 ekor.

Primata terlangka kedua di dunia ini terancam punah dengan risiko ekstrem akibat hilangnya keanekaragaman genetik, perkawinan sedarah, dan bencana yang tak terduga.

Baca juga:

3. Tarantula pelangi india (tarantula bumi psikedelik)

Laba-laba berwarna hitam legam dengan kilauan metalik ini hanya ditemukan di hutan tropis bagian selatan Western Ghats di Kerala, India.

Nahas, penampilannya yang mencolok justru memicu kepunahannya karena permintaan dari perdagangan hewan peliharaan ilegal terus memerosotkan populasinya. Hilangnya habitat juga mendorong tarantula pelangi India menuju ambang kepunahannya.

4. Blackchin guitarfish

Ilustrasi guitarfish. Fauna & Flora menyoroti 10 spesies terancam punah 2026, dari elang hingga tulip liar.Dok. Wikimedia Commons/Movses Ilustrasi guitarfish. Fauna & Flora menyoroti 10 spesies terancam punah 2026, dari elang hingga tulip liar.

Spesies yang tampak seperti perpaduan hiu dan pari ini merupakan hewan asli Laut Mediterania dan Atlantik timur.

Guitarfish dengan hidungnya yang pipih dan ekor bersirip panjang itu terancam punah akibat penangkapan ikan berlebihan, perusakan habitat, dan laju reproduksi yang lambat.

5. Pangolin temminick

Salah satu dari empat spesies trenggiling Afrika ini mencari makan dengan sangat lambat dan berhati-hati.

Pangolin temminick dapat ditemukan di kawasan relatif kering di Afrika Timur dan Afrika Selatan, termasuk wilayah utara Chad dan Sudan.

Seperti semua pangolin, spesies ini juga terancam punah akibat pasar perdagangan ilegal yang mengincar daging dan sisiknya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
LSM/Figur
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Pemerintah
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Swasta
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
LSM/Figur
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Pemerintah
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
BUMN
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Pemerintah
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
LSM/Figur
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
Pemerintah
Fenomena Sinkhole di Limapuluh Kota Disebut Unik, Apa Maksudnya?
Fenomena Sinkhole di Limapuluh Kota Disebut Unik, Apa Maksudnya?
Pemerintah
Pesut Mahakam Terancam Punah dan Tinggal 66 Ekor, KLH Siapkan Langkah Darurat
Pesut Mahakam Terancam Punah dan Tinggal 66 Ekor, KLH Siapkan Langkah Darurat
Pemerintah
Kasus Gajah Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Masih Telusuri Pelaku
Kasus Gajah Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Masih Telusuri Pelaku
Pemerintah
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Pemerintah
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau