Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Meski Rasio Gini di Jakarta Turun, Ketimpangan Masih Tinggi

Kompas.com, 17 April 2026, 17:10 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

JAKARTA, KOMPAS.com - Angka ketimpangan ekonomi atau gini ratio di Ibu Kota Jakarta mengalami penurunan dari 0,441 menjadi 0,423.

Meski demikian, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti masih tingginya ketimpangan ekonomi di Ibu Kota, karena konsentrasi kepemilikan aset. 

Gini ratio (rasio Gini) adalah indikator statistik untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan atau pengeluaran penduduk di suatu wilayah. Nilainya berkisar antara 0 (pemerataan sempurna) hingga 1 (ketimpangan sempurna). Semakin mendekati 1, kesenjangan ekonomi semakin lebar; semakin mendekati 0, distribusi pendapatan semakin merata.

Baca juga: Bencana Iklim 2025, Perempuan dan Masyarakat Miskin Paling Terdampak

"Semua orang kaya ada di Jakarta. Uang beredar hampir semuanya di Jakarta. Itu yang membuat gini ratio kita cenderung lebih tinggi dibanding daerah lain," kata Pramono, Jumat (17//4/2026).

Meski begitu, dia menegaskan pihaknya berkomitmen menjaga bantalan sosial untuk mengurangi ketimpangan ekonomi.

Salah satunya, dengan terus menjalankan Program seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), Kartu Lansia Jakarta (KLJ), dan bantuan sosial lainnya.

"APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) kita tidak boleh mengurangi hal-hal yang berkaitan dengan KJP, KJMU, KAJ (Kartu Anak Jakarta), KLJ, KPJ (Kartu Pekerja Jakarta), karena ini bantalan sosial dan ekonomi warga," tutur Pramono.

Selain indikator ketimpangan, Pramono menyebutkan sektor ketenagakerjaan juga menunjukkan performa yang membaik dengan bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja.

Tercatat sebanyak 5,18 juta orang telah terserap di pasar kerja, atau mengalami kenaikan sekitar 46,5 ribu orang.

Selain itu, tingkat partisipasi angkatan kerja juga meningkat menjadi 65,47 persen atau naik sekitar 0,72 persen.

Baca juga: Pramono Sebut Ketimpangan Ekonomi di Jakarta Turun, KJP hingga KLJ Dipastikan Lanjut

Menurut Pramono, peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak warga yang terlibat dalam aktivitas ekonomi.

Di sisi lain, dia mengatakan sektor perdagangan, akomodasi, makanan dan minuman, serta transportasi dan pergudangan menjadi penyumbang utama penyerapan tenaga kerja di Jakarta.

Dia pun memastikan pihaknya terus memperluas akses pekerjaan melalui berbagai program.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau