Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Angka ketimpangan ekonomi atau gini ratio di Ibu Kota Jakarta mengalami penurunan dari 0,441 menjadi 0,423.
Meski demikian, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti masih tingginya ketimpangan ekonomi di Ibu Kota, karena konsentrasi kepemilikan aset.
Gini ratio (rasio Gini) adalah indikator statistik untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan atau pengeluaran penduduk di suatu wilayah. Nilainya berkisar antara 0 (pemerataan sempurna) hingga 1 (ketimpangan sempurna). Semakin mendekati 1, kesenjangan ekonomi semakin lebar; semakin mendekati 0, distribusi pendapatan semakin merata.
Baca juga: Bencana Iklim 2025, Perempuan dan Masyarakat Miskin Paling Terdampak
"Semua orang kaya ada di Jakarta. Uang beredar hampir semuanya di Jakarta. Itu yang membuat gini ratio kita cenderung lebih tinggi dibanding daerah lain," kata Pramono, Jumat (17//4/2026).
Meski begitu, dia menegaskan pihaknya berkomitmen menjaga bantalan sosial untuk mengurangi ketimpangan ekonomi.
Salah satunya, dengan terus menjalankan Program seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), Kartu Lansia Jakarta (KLJ), dan bantuan sosial lainnya.
"APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) kita tidak boleh mengurangi hal-hal yang berkaitan dengan KJP, KJMU, KAJ (Kartu Anak Jakarta), KLJ, KPJ (Kartu Pekerja Jakarta), karena ini bantalan sosial dan ekonomi warga," tutur Pramono.
Selain indikator ketimpangan, Pramono menyebutkan sektor ketenagakerjaan juga menunjukkan performa yang membaik dengan bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja.
Tercatat sebanyak 5,18 juta orang telah terserap di pasar kerja, atau mengalami kenaikan sekitar 46,5 ribu orang.
Selain itu, tingkat partisipasi angkatan kerja juga meningkat menjadi 65,47 persen atau naik sekitar 0,72 persen.
Baca juga: Pramono Sebut Ketimpangan Ekonomi di Jakarta Turun, KJP hingga KLJ Dipastikan Lanjut
Menurut Pramono, peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak warga yang terlibat dalam aktivitas ekonomi.
Di sisi lain, dia mengatakan sektor perdagangan, akomodasi, makanan dan minuman, serta transportasi dan pergudangan menjadi penyumbang utama penyerapan tenaga kerja di Jakarta.
Dia pun memastikan pihaknya terus memperluas akses pekerjaan melalui berbagai program.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya