Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Reforestasi dengan Agroforestri, Alumni Kanisius Tanam 2.200 Pohon di Bogor

Kompas.com, 20 April 2026, 12:24 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Alumni Kolese Kanisius (CC) Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Hutan Organik (YHO) sebagai mitra strategis dalam penanaman dan perawatan 2.200 bibit pohon di kawasan hutan Megamendung, Kabupaten Bogor, pada Sabtu (18/4/2026).

Program reforestasi tersebut bertujuan mendorong pemulihan lingkungan secara berkelanjutan di wilayah penyangga penting bagi Jawa Barat dan Jakarta Raya.

Selain penanaman, kegiatan reforestasi Back2Nature yang melibatkan alumni lintas angkatan dari lulusan tahun 1986-2015 ini juga menyerahkan donasi sebesar Rp 225 juta untuk mendukung pelaksanaan program reforestasi yang berkelanjutan.

Baca juga: Banjir Rob di Marunda Tak Surut, Penanaman Mangrove Dipertanyakan

Dana yang terkumpul akan digunakan untuk menanam 1.000 tanaman keras dan 1.000 pohon kopi. Tanaman keras berfungsi sebagai keseimbangan ekosistem dan cadangan air. Sedangkan kopi menjadi komoditas ekonomis yang mendukung keberlanjutan perawatan tanaman.

“Kegiatan ini terwujud berkat dukungan komunitas alumni; mitra swasta, yakni Solterra Solar Technology, Multikarya Asia Pasifik Raya Tbk (MKAP), PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan beberapa pihak lain; pemerintah melalui Kementerian Kehutanan, bersama Yayasan Hutan
Organik yang konsisten memulihkan kawasan hutan penyangga Jakarta,” ujar Ketua Panitia Back2Nature, Julius Mario dalam keterangan resmi, Minggu (19/4/2026).

Penanaman merupakan bagian dari kegiatan Back2Nature – CCAD 2026: Engaging Canisian, yang menggabungkan kebersamaan alumni dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.

Baca juga: Warga Pamulang Mas Tolak Tanggul 1 Meter, Khawatir Pohon Ditebang dan Resapan Berkurang

“Melalui Back2Nature, dan kegiatan-kegiatan lain dalam CCAD 2026, kami ingin memperkuat brotherhood lintas generasi CC sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” ucap Rifan Oktavianus, Ketua Umum CCAD 2026.

Program reforestasi ini juga mendapat tambahan 200 bibit pohon dari Pusat Pengembangan HutanBerkelanjutan, Kementerian Kehutanan RI, yang ditujukan untuk memperkaya biodiversitas kawasan Megamendung.

“Banyak program berhenti di penanaman. Kami menerapkan metode agroforestry dengan pendekatan tanam–rawat sebagai solusi problematika tersebut. Hasil panen kopi akan membantu pembiayaan perawatan, sehingga tanaman keras dapat tumbuh optimal sebagai penjaga ekologi,” tutur pendiri Yayasan Hutan Organik, Rosita Istiawan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau