Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Venesia Terancam akan Direlokasi Akibat Kenaikan Air Laut

Kompas.com, 18 April 2026, 19:50 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Venesia, yang menjadi situs warisan dunia UNESCO di Italia terancam akan direlokasi di masa depan. Pasalnya, naiknya permukaan air laut yang tidak segera diatasi bisa membuat kota tersebut tenggelam.

Melansir Euro News, Jumat (17/4/2026) kota Venesia telah mengalami peningkatan banjir selama 150 tahun terakhir. Yang terbaru, musim panas lalu, badai petir yang dahsyat melanda wilayah tersebut, membanjiri sistem drainase dan mengubah jalan-jalan menjadi sungai yang deras.

Berdasarkan studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports, peneliti pun melakukan strategi adaptasi yang ada dan potensial untuk kota tersebut terhadap proyeksi kenaikan permukaan air laut dari Laporan Penilaian Keenam Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim (IPCC).

Baca juga: Analisis Temukan Jutaan Bangunan Global Berada di Zona Risiko Kenaikan Air Laut

Adaptasi iklim untuk Venesia

Para ilmuwan kini telah menguraikan tiga strategi adaptasi yang mungkin untuk Venesia, memperingatkan bahwa tindakan cepat sangat "penting".

Penulis studi tersebut mengatakan bahwa Venesia merupakan contoh tantangan yang akan dihadapi banyak daerah pesisir dataran rendah akibat kenaikan permukaan laut selama berabad-abad mendatang.

Para penulis memperkirakan bahwa tanggul mungkin diperlukan jika permukaan laut naik lebih dari 0,5 meter yang mungkin terjadi pada tahun 2100, bahkan jika emisi tetap rendah. Tanggul ini diperkirakan akan menelan biaya 500 juta Euro hingga 4,5 miliar Euro.

Tanggul ini merupakan tanggul rekayasa, yang biasanya terbuat dari tanah, pasir, atau batu, yang dibangun di sepanjang garis pantai atau sungai untuk bertindak sebagai penghalang terhadap potensi banjir.

Menutup laguna dengan tanggul raksasa (super levee) juga bisa menjadi pilihan jika air laut naik lebih dari 0,5 meter karena mampu melindungi kota hingga kenaikan 10 meter. Namun, biaya awalnya sangat mahal, bisa mencapai lebih dari 30 miliar Euro.

Sebagai pilihan terakhir, studi tersebut menyebutkan bahwa memindahkan kota, penduduk, hingga bangunan bersejarahnya mungkin perlu dilakukan jika air laut naik lebih dari 4,5 meter yang diprediksi terjadi setelah tahun 2300. Biaya relokasi ini bisa mencapai 100 miliar Euro.

Para penulis memperingatkan bahwa pembangunan proyek besar seperti tanggul permanen bisa memakan waktu 30 hingga 50 tahun. Artinya, perencanaan dari jauh-jauh hari sangatlah penting.

"Setiap cara yang diambil harus menyeimbangkan banyak hal, mulai dari keselamatan warga, ekonomi, kelestarian lingkungan, hingga menjaga sejarah dan budaya daerah tersebut," ungkap Profesor Robert Nicholls dari Pusat Penelitian Perubahan Iklim Tyndall di Universitas East Anglia.

Ia juga menambahkan bahwa semua daerah pesisir yang rendah harus sadar akan bahaya kenaikan air laut jangka panjang dan mulai memikirkan rencana penyelamatan dari sekarang.

Baca juga: PBB Sebut Pendanaan Adaptasi Iklim Global Harus Naik 12 Kali Lipat

Mengapa permukaan laut naik di Venesia?

Venesia sudah dalam posisi terancam saat pasang tinggi karena lokasinya yang berada di laguna pesisir yang dangkal.

Menurut Royal Museums Greenwich, angin musiman (angin sirocco) juga bisa memicu badai yang mendorong air laut ke arah laguna dan kota. Jika air pasang dan badai ini terjadi bersamaan, banjirnya bisa menjadi sangat parah.

Pemanasan global juga mempercepat kenaikan air laut di seluruh dunia karena mencairnya es di kutub dan air laut yang memuai saat suhunya memanas.

Lebih buruk lagi, permukaan tanah di kota Venesia saat ini amblas sekitar 1 mm setiap tahun secara alami. Kondisi ini sempat diperparah oleh aktivitas manusia, seperti pengambilan air tanah dari bawah laguna. Namun, hal tersebut kini sudah dilarang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau