Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inovasi Ilmuwan, Ubah Sampah Plastik Laut Menjadi Aspal Jalanan

Kompas.com, 20 April 2026, 08:54 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber BBC

KOMPAS.com -Tim peneliti dari Hawaii Pacific University sedang mencoba membangun jalan menggunakan sampah plastik laut yang didaur ulang. Ini merupakan pertama kalinya sampah plastik laut dimanfaatkan dengan cara seperti itu.

Melansir BBC, Jumat (10/4/2026), peneliti mengungkapkan pemanfaatan sampah plastik tersebut bertujuan untuk membantu mengatasi tumpukan sampah plastik yang sangat banyak di Samudra Pasifik yang mengelilingi pulau Hawaii.

Sejauh ini, peneliti telah mengumpulkan sekitar 90 ton sampah plastik dari Samudra Pasifik, dan lebih dari satu ton jaring ikan saja sudah diubah menjadi jalanan di Hawaii.

Para ilmuwan kini juga sedang menguji apakah jalan tersebut cukup kuat dan apakah ada serpihan mikroplastik yang terlepas ke lingkungan.

Baca juga: Mangrove Jadi Perangkap Sampah Plastik, Apa Dampaknya?

"Dengan memanfaatkan kembali sampah plastik yang sudah ada di Hawaii, kita bisa mengurangi dampak buruk bagi lingkungan dan ekonomi daripada harus mengangkut sampah ke luar pulau, membakarnya, atau membuangnya ke tempat sampah yang sudah penuh," kata pemimpin peneliti, Jeremy Axworthy.

Mengubah Sampah Plastik jadi Pelapis Jalan

Tim ilmuwan dari Pusat Riset Sampah Laut di Hawaii Pacific University menjalankan program bernama Nets-to-Roads.

Melalui program tersebut, tim ahli biologi laut mengumpulkan dan memilah sampah plastik laut yang terbuat dari jenis plastik kuat bernama polyethylene. Plastik ini biasanya ditemukan pada botol susu, wadah yoghurt, dan jaring ikan.

Setelah dikumpulkan dan dipilah, tim mengirim sampah tersebut ke Amerika Serikat untuk dicacah dan digiling menjadi potongan-potongan kecil.

Dari sana, bahan tersebut dikembalikan ke Hawaii dan dibawa ke pabrik aspal. Di sana, plastik itu dicampur dengan bahan lain untuk membuat aspal.

Campuran panas tersebut kemudian dimuat ke dalam truk dan digunakan untuk mengaspal beberapa jalan sebagai bahan uji coba.

Sekitar setahun kemudian, para ilmuwan menguji jalan plastik tersebut untuk melihat seberapa kuat ketahanannya dan apakah ada mikroplastik yang terlepas.

Baca juga: Tak Lagi Cari Ikan, Nelayan Kini Berburu Sampah Plastik di Sungai

Mereka melakukannya dengan memeriksa sampel tanah dan debu di sekitar jalan tersebut. Sebagai perbandingan, mereka juga menguji jalanan biasa, serta melakukan tes untuk melihat pengaruhnya saat terkena air hujan yang deras.

Hasilnya, peneliti menemukan bahwa jalan dari plastik daur ulang tersebut tidak melepaskan mikroplastik lebih banyak dibandingkan jalan aspal biasa.

"Beberapa orang menganggap daur ulang plastik itu cuma bohong, tidak berhasil, atau terlalu sulit dilakukan. Tapi penelitian ini membuktikan bahwa daur ulang bisa berhasil jika masyarakat mengutamakan kelestarian lingkungan," kata Jennifer Lynch, wakil direktur Pusat Riset Sampah Laut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
Pemerintah
Kualitas Udara Indonesia Memburuk Pasca-Larangan Impor Sampah Plastik China
Kualitas Udara Indonesia Memburuk Pasca-Larangan Impor Sampah Plastik China
Pemerintah
Dorong Konservasi dan Ekonomi, Masyarakat Kampung Salafen Uji Coba Wisata Buka Sasi
Dorong Konservasi dan Ekonomi, Masyarakat Kampung Salafen Uji Coba Wisata Buka Sasi
LSM/Figur
Biaya Tersembunyi Subsidi BBM Terus Membengkak, Hambat Transisi Energi
Biaya Tersembunyi Subsidi BBM Terus Membengkak, Hambat Transisi Energi
LSM/Figur
Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang
Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang
Pemerintah
TNFD Rilis Panduan Baru bagi Direktur Keuangan untuk Hadapi Risiko Kerusakan Alam
TNFD Rilis Panduan Baru bagi Direktur Keuangan untuk Hadapi Risiko Kerusakan Alam
Pemerintah
WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
Pemerintah
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Pemerintah
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
LSM/Figur
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
LSM/Figur
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Pemerintah
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Pemerintah
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau