KOMPAS.com -Tim peneliti dari Hawaii Pacific University sedang mencoba membangun jalan menggunakan sampah plastik laut yang didaur ulang. Ini merupakan pertama kalinya sampah plastik laut dimanfaatkan dengan cara seperti itu.
Melansir BBC, Jumat (10/4/2026), peneliti mengungkapkan pemanfaatan sampah plastik tersebut bertujuan untuk membantu mengatasi tumpukan sampah plastik yang sangat banyak di Samudra Pasifik yang mengelilingi pulau Hawaii.
Sejauh ini, peneliti telah mengumpulkan sekitar 90 ton sampah plastik dari Samudra Pasifik, dan lebih dari satu ton jaring ikan saja sudah diubah menjadi jalanan di Hawaii.
Para ilmuwan kini juga sedang menguji apakah jalan tersebut cukup kuat dan apakah ada serpihan mikroplastik yang terlepas ke lingkungan.
Baca juga: Mangrove Jadi Perangkap Sampah Plastik, Apa Dampaknya?
"Dengan memanfaatkan kembali sampah plastik yang sudah ada di Hawaii, kita bisa mengurangi dampak buruk bagi lingkungan dan ekonomi daripada harus mengangkut sampah ke luar pulau, membakarnya, atau membuangnya ke tempat sampah yang sudah penuh," kata pemimpin peneliti, Jeremy Axworthy.
Tim ilmuwan dari Pusat Riset Sampah Laut di Hawaii Pacific University menjalankan program bernama Nets-to-Roads.
Melalui program tersebut, tim ahli biologi laut mengumpulkan dan memilah sampah plastik laut yang terbuat dari jenis plastik kuat bernama polyethylene. Plastik ini biasanya ditemukan pada botol susu, wadah yoghurt, dan jaring ikan.
Setelah dikumpulkan dan dipilah, tim mengirim sampah tersebut ke Amerika Serikat untuk dicacah dan digiling menjadi potongan-potongan kecil.
Dari sana, bahan tersebut dikembalikan ke Hawaii dan dibawa ke pabrik aspal. Di sana, plastik itu dicampur dengan bahan lain untuk membuat aspal.
Campuran panas tersebut kemudian dimuat ke dalam truk dan digunakan untuk mengaspal beberapa jalan sebagai bahan uji coba.
Sekitar setahun kemudian, para ilmuwan menguji jalan plastik tersebut untuk melihat seberapa kuat ketahanannya dan apakah ada mikroplastik yang terlepas.
Baca juga: Tak Lagi Cari Ikan, Nelayan Kini Berburu Sampah Plastik di Sungai
Mereka melakukannya dengan memeriksa sampel tanah dan debu di sekitar jalan tersebut. Sebagai perbandingan, mereka juga menguji jalanan biasa, serta melakukan tes untuk melihat pengaruhnya saat terkena air hujan yang deras.
Hasilnya, peneliti menemukan bahwa jalan dari plastik daur ulang tersebut tidak melepaskan mikroplastik lebih banyak dibandingkan jalan aspal biasa.
"Beberapa orang menganggap daur ulang plastik itu cuma bohong, tidak berhasil, atau terlalu sulit dilakukan. Tapi penelitian ini membuktikan bahwa daur ulang bisa berhasil jika masyarakat mengutamakan kelestarian lingkungan," kata Jennifer Lynch, wakil direktur Pusat Riset Sampah Laut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya