Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Program "Reuse" Global Mandek Akibat Aturan yang Berbeda di Tiap Negara

Kompas.com, 23 April 2026, 17:31 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sistem pakai ulang (reuse) menjadi salah satu cara yang bisa dipakai untuk mengurangi polusi plastik. Namun sayangnya, praktik ini belum bisa berjalan maksimal lantaran terhambat oleh beberapa hal.

Penelitian yang dilakukan oleh Global Plastics Policy Center di Universitas, Portsmouth, Inggris mengungkapkan sistem pakai ulang ini belum berjalan sesuai target karena kebijakan yang tidak seragam, kurangnya bantuan keuangan, dan infrastruktur yang belum memadai.

Studi ini merupakan analisis perbandingan pertama mengenai kebijakan pakai ulang yang mencakup wilayah Eropa, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara.

Baca juga: Polusi Plastik Mulai Cemari Hutan Dunia

Hambatan program reuse

Melansir Phys, Rabu (22/4/2026) berdasarkan analisis kebijakan selama bertahun-tahun, wawancara dengan para ahli, dan penelitian perbandingan, laporan ini mempelajari bagaimana pemerintah mendukung sistem pakai ulang dan apa yang harus dilakukan agar sistem ini bisa berkembang besar.

Di ketiga wilayah tersebut, para peneliti menemukan banyak kegiatan yang menjanjikan, namun dukungan aturan dan pendanaan dari pemerintah masih sangat terbatas.

Meskipun beberapa negara mulai memasukkan aturan pakai ulang ke dalam regulasi kemasan, dunia masih membutuhkan target yang lebih jelas, koordinasi antar lembaga yang lebih kuat, dan dukungan modal yang lebih nyata.

Temuan ini muncul di tengah kekhawatiran dunia yang semakin besar terhadap polusi plastik dan kebutuhan mendesak untuk meninggalkan kemasan sekali pakai.

Sistem pakai ulang semakin diakui sebagai salah satu cara paling efektif untuk mengurangi limbah, namun aturan hukum di banyak negara masih belum matang.

"Di Eropa, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara, kita melihat semangat nyata untuk menerapkan sistem pakai ulang. Namun, sistem ini masih berjalan di celah-celah aturan yang sebenarnya dibuat untuk ekonomi lama yakni penggunaan plastik sekali pakai. Tanpa kerangka kebijakan yang lebih kuat dan terkoordinasi, sistem pakai ulang akan sulit berkembang lebih jauh dari sekadar proyek uji coba," kata Dr. Antaya March, Direktur Global Plastics Policy Center.

Laporan-laporan ini pun diharapkan bisa memberikan panduan praktis berdasarkan bukti nyata bagi pemerintah dan pembuat kebijakan. Tujuannya agar sistem pakai ulang bisa berkembang luas, sehingga mendukung target lingkungan sekaligus ketahanan ekonomi.

Baca juga: Skema Return dan Reuse Disebut Bisa Kurangi Polusi Plastik dalam 15 Tahun

"Sistem pakai ulang bukan lagi ide sampingan, ini adalah bagian penting dalam mengatasi polusi plastik. Riset kami menunjukkan bahwa pemerintah punya peran besar untuk menciptakan kondisi agar sistem ini berhasil. Dengan kebijakan yang tepat, sistem pakai ulang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial," ungkap Dr. Tegan Evans, peneliti dari Revolution Plastics Institute.

Dr. March menambahkan bahwa semangat untuk mengadopsi program reuse ini sudah ada, tapi untuk memperbesar skala sistem pakai ulang, masih butuh rancangan kebijakan yang lebih matang.

Ini termasuk mendefinisikan sistem pakai ulang dengan lebih jelas, menghubungkannya dengan aturan yang sudah ada, serta menciptakan kondisi yang mendukung investasi. Riset dan kerja sama yang berkelanjutan sangat penting untuk mempercepat kemajuan ini.

Penelitian melibatkan kerja sama dengan berbagai organisasi di tiap wilayah, termasuk PlastikDiet Indonesia, New European Reuse Alliance, Circulearth, Enviu, Fundación Chile, dan University of St Andrews untuk memastikan bahwa hasil temuannya sesuai dengan kondisi dan pendapat para ahli di daerah tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau