Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG meningkatkan penggunaan energi alternatif dari limbah dan biomassa, sekaligus memperluas reklamasi lahan pascatambang sebagai bagian dari transformasi hijau perusahaan di tengah meningkatnya tekanan isu perubahan iklim.
Perusahaan menyatakan langkah tersebut menjadi bagian dari penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang diintegrasikan ke dalam strategi bisnis.
Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan, keberlanjutan kini tidak hanya menjadi kewajiban lingkungan, tetapi juga faktor penting dalam menjaga daya saing industri.
Baca juga: SIG Catat Nihil Fatalitas pada 2025
“Melalui berbagai inisiatif strategis, SIG membuktikan bahwa kinerja keberlanjutan dapat berjalan seiring dengan kinerja bisnis, bahkan memperkuat ketahanan operasional perusahaan,” ujar Vita dalam keterangan tertulis dikutip Jumat (24/4/2026).
Salah satu langkah utama yang ditempuh SIG ialah meningkatkan pemanfaatan bahan bakar alternatif yang berasal dari limbah industri, biomassa, serta sampah perkotaan yang diolah menjadi *refuse-derived fuel* (RDF).
Sepanjang 2025, penggunaan bahan bakar alternatif tercatat naik 24 persen menjadi 681 ribu ton. Angka tersebut setara dengan pengurangan konsumsi batu bara hingga 467 ribu ton.
Pemanfaatan energi alternatif ini juga mendorong peningkatan *thermal substitution rate* menjadi 9,77 persen, yakni rasio penggantian bahan bakar fosil dengan energi alternatif dalam proses produksi semen.
Selain menekan emisi gas rumah kaca, pemanfaatan limbah sebagai sumber energi dinilai dapat membantu mengurangi persoalan sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru, termasuk dari sektor pertanian melalui biomassa.
SIG juga memperluas penggunaan energi bersih melalui pemasangan panel surya di sejumlah unit operasional.
Selain itu, perusahaan memanfaatkan teknologi *Waste-Heat Recovery Power Generation* (WHRPG), yakni sistem yang mengubah panas buang dari proses produksi menjadi listrik.
Dari langkah tersebut, SIG mencatat penurunan intensitas emisi gas rumah kaca cakupan 1 sebesar 21 persen dibandingkan baseline 2010. Sementara emisi cakupan 2 turun 15 persen dibandingkan baseline 2019.
Baca juga: SIG Bersama Semen Gresik Bantu Sembako dan Kebutuhan Korban Banjir
Di sektor pertambangan, SIG menyatakan terus menjalankan pemulihan lingkungan melalui reklamasi lahan pascatambang.
Hingga 2025, total lahan yang telah direklamasi mencapai 628 hektare di berbagai wilayah operasional perusahaan.
Upaya tersebut turut mendapat pengakuan melalui enam penghargaan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup yang diraih sejumlah pabrik semen yang dioperasikan SIG dan entitas anak usahanya.
SIG menyatakan akan terus mempercepat transformasi industri bahan bangunan melalui pendekatan yang lebih efisien, inovatif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya