Laporan tersebut juga menyoroti sejumlah tantangan yang dapat menghambat kemajuan pengurangan emisi Scope 2 di masa depan. Di antaranya adalah persaingan perebutan sumber daya energi akibat pertumbuhan AI dan pusat data.
Selain itu tantangan lain yang harus dihadapi adalah aturan yang lebih ketat dalam pembelian energi terbarukan serta kebijakan yang kurang mendukung.
Kendati menghadapi berbagai tantangan, kemajuan dalam menangani emisi di seluruh rantai bisnis juga terus membaik, meski masih tertinggal dibandingkan emisi internal (Scope 1 dan 2).
Sebanyak 56 persen perusahaan kini berada di jalur yang tepat untuk mencapai target emisi Scope 3 mereka pada tahun 2025, naik dari 54 persen di tahun sebelumnya dan 50 persen di tahun 2023.
Kemajuan pada emisi Scope 3 ini terjadi karena perusahaan semakin memfokuskan upaya dekarbonisasi mereka pada rantai pasok. Laporan tersebut menemukan bahwa perusahaan telah menunjukkan perbaikan dalam hal pemantauan pemasok, keterlibatan aktif dengan mitra bisnis, serta transparansi data.
Kerja sama dengan pemasok juga meningkat pesat di mana 64 persen perusahaan kini memiliki program dekarbonisasi yang terstruktur dan berskala besar. Sementara 7 persen perusahaan bahkan sudah mulai memberikan insentif bagi pemasok yang berhasil mengurangi emisi, hal yang belum ada di tahun 2023.
Sedangkan sebanyak 76 persen perusahaan telah menetapkan syarat dekarbonisasi yang wajib diikuti oleh pemasok mereka, naik dari 51 persen pada dua tahun lalu.
Hal yang menarik adalah ketika perusahaan-perusahaan besar semakin aktif mengajak, memberi insentif, dan menekan pemasok mereka untuk melakukan dekarbonisasi, penetapan target iklim baru menjadi semakin umum di perusahaan-perusahaan yang lebih kecil.
Baca juga: Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem
Laporan tersebut juga mengamati penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan dalam inisiatif keberlanjutan mereka.
Ditemukan bahwa meski 60 persen perusahaan mengaku sudah menggunakan AI untuk dekarbonisasi operasional, upaya ini masih dalam tahap awal. Buktinya, kurang dari 1 persen perusahaan yang benar-benar bisa menghitung secara pasti seberapa besar pengurangan emisi yang dihasilkan dari penggunaan AI tersebut.
PwC menekankan bahwa peluang besar jangka pendek bagi AI adalah untuk mengatasi masalah data keberlanjutan. Saat ini, baru 14 persen perusahaan yang secara terbuka melaporkan penggunaan AI untuk memperbaiki sistem pelaporan emisi dan keberlanjutan mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya