Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok

Kompas.com, 30 April 2026, 15:18 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

Tantangan menghadapi emisi

Laporan tersebut juga menyoroti sejumlah tantangan yang dapat menghambat kemajuan pengurangan emisi Scope 2 di masa depan. Di antaranya adalah persaingan perebutan sumber daya energi akibat pertumbuhan AI dan pusat data.

Selain itu tantangan lain yang harus dihadapi adalah aturan yang lebih ketat dalam pembelian energi terbarukan serta kebijakan yang kurang mendukung.

Kendati menghadapi berbagai tantangan, kemajuan dalam menangani emisi di seluruh rantai bisnis juga terus membaik, meski masih tertinggal dibandingkan emisi internal (Scope 1 dan 2).

Sebanyak 56 persen perusahaan kini berada di jalur yang tepat untuk mencapai target emisi Scope 3 mereka pada tahun 2025, naik dari 54 persen di tahun sebelumnya dan 50 persen di tahun 2023.

Kemajuan pada emisi Scope 3 ini terjadi karena perusahaan semakin memfokuskan upaya dekarbonisasi mereka pada rantai pasok. Laporan tersebut menemukan bahwa perusahaan telah menunjukkan perbaikan dalam hal pemantauan pemasok, keterlibatan aktif dengan mitra bisnis, serta transparansi data.

Kerja sama dengan pemasok juga meningkat pesat di mana 64 persen perusahaan kini memiliki program dekarbonisasi yang terstruktur dan berskala besar. Sementara 7 persen perusahaan bahkan sudah mulai memberikan insentif bagi pemasok yang berhasil mengurangi emisi, hal yang belum ada di tahun 2023.

Sedangkan sebanyak 76 persen perusahaan telah menetapkan syarat dekarbonisasi yang wajib diikuti oleh pemasok mereka, naik dari 51 persen pada dua tahun lalu.

Hal yang menarik adalah ketika perusahaan-perusahaan besar semakin aktif mengajak, memberi insentif, dan menekan pemasok mereka untuk melakukan dekarbonisasi, penetapan target iklim baru menjadi semakin umum di perusahaan-perusahaan yang lebih kecil.

Baca juga: Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem

Pemanfaatan AI di perusahaan

Laporan tersebut juga mengamati penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan dalam inisiatif keberlanjutan mereka.

Ditemukan bahwa meski 60 persen perusahaan mengaku sudah menggunakan AI untuk dekarbonisasi operasional, upaya ini masih dalam tahap awal. Buktinya, kurang dari 1 persen perusahaan yang benar-benar bisa menghitung secara pasti seberapa besar pengurangan emisi yang dihasilkan dari penggunaan AI tersebut.

PwC menekankan bahwa peluang besar jangka pendek bagi AI adalah untuk mengatasi masalah data keberlanjutan. Saat ini, baru 14 persen perusahaan yang secara terbuka melaporkan penggunaan AI untuk memperbaiki sistem pelaporan emisi dan keberlanjutan mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Pemerintah
Momentum RI Raup 'Windfall Tax' Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
Momentum RI Raup "Windfall Tax" Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
LSM/Figur
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
Swasta
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
LSM/Figur
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Pemerintah
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
LSM/Figur
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Pemerintah
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
Pemerintah
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
LSM/Figur
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
LSM/Figur
Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Swasta
Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Pemerintah
Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan
Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan
LSM/Figur
Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa
Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa
Pemerintah
Atasi Tantangan Pembangunan Nasional, PFI Dorong Perkuat Peran Filantropi
Atasi Tantangan Pembangunan Nasional, PFI Dorong Perkuat Peran Filantropi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau