Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok

Kompas.com, 30 April 2026, 15:18 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com-Studi terbaru dari PwC mengungkapkan mayoritas perusahaan tetap mempertahankan atau justru mempercepat target iklim mereka.

Selain itu, semakin banyak perusahaan yang berada di jalur yang tepat untuk mencapai target pengurangan emisi, baik dalam operasional internal maupun di seluruh rantai bisnis mereka.

Temuan ini membantah anggapan bahwa upaya keberlanjutan mulai menurun akibat meningkatnya pengawasan politik.

Melansir ESG Today, Rabu (29/4/2026) studi tersebut juga menunjukkan bahwa upaya keberlanjutan kini semakin fokus pada rantai pasok.

Perusahaan-perusahaan mulai meningkatkan dan mematangkan kerja sama dengan para pemasok mereka, serta lebih transparan dalam melaporkan emisi Scope 3 atau emisi tidak langsung dari rantai bisnis.

Jumlah perusahaan yang melaporkan emisi Scope 3 naik 30 persen dibandingkan tahun lalu.

Temuan laporan tahunan "State of Decarbonization" yang ketiga ini, didapat setelah PwC menganalisis data dari 3.547 perusahaan di berbagai industri, wilayah, dan ukuran.

Baca juga: Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata

Data tersebut diambil dari laporan keberlanjutan perusahaan, keterbukaan informasi lingkungan (CDP), laporan resmi pemerintah (CSRD dan 10-K), serta berbagai sumber data publik lainnya.

Komitmen terhadap target iklim

Laporan menemukan bahwa 82 persen perusahaan tetap mempertahankan atau mempercepat komitmen iklim mereka selama setahun terakhir, hampir sama dengan angka 84 persen pada tahun sebelumnya.

Meskipun jumlah perusahaan yang meningkatkan komitmennya menurun, jumlah perusahaan yang menambah atau mempercepat target dekarbonisasi masih jauh lebih banyak daripada mereka yang menarik diri.

Selain itu, meskipun pertumbuhan jumlah perusahaan yang menetapkan target dekarbonisasi baru melambat menjadi 7 persen, laporan ini menunjukkan bahwa target-target tersebut sekarang jauh lebih ketat.

Sebagian besar perusahaan kini menetapkan target yang selaras dengan sains atau telah diverifikasi secara resmi oleh pihak eksternal.

Studi ini juga menemukan bahwa perusahaan-perusahaan terus mengalami kemajuan dalam inisiatif pengurangan emisi mereka, di mana 69 persen perusahaan kini dinilai berada di jalur yang tepat untuk mencapai target Scope 1 (emisi langsung) dan Scope 2 (emisi dari energi yang dibeli).

Kemajuan dalam operasional dan penggunaan energi ini terjadi saat perusahaan menghadapi guncangan harga energi dan masalah kepastian pasokan.

Laporan tersebut mencatat bahwa investasi global dalam efisiensi energi sektor industri naik 45 persen antara tahun 2020 hingga 2025, mencapai sekitar 30 miliar dolar AS atau setara dengan Rp520,47 triliun.

Baca juga: 65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI

Tantangan menghadapi emisi

Laporan tersebut juga menyoroti sejumlah tantangan yang dapat menghambat kemajuan pengurangan emisi Scope 2 di masa depan. Di antaranya adalah persaingan perebutan sumber daya energi akibat pertumbuhan AI dan pusat data.

Selain itu tantangan lain yang harus dihadapi adalah aturan yang lebih ketat dalam pembelian energi terbarukan serta kebijakan yang kurang mendukung.

Kendati menghadapi berbagai tantangan, kemajuan dalam menangani emisi di seluruh rantai bisnis juga terus membaik, meski masih tertinggal dibandingkan emisi internal (Scope 1 dan 2).

Sebanyak 56 persen perusahaan kini berada di jalur yang tepat untuk mencapai target emisi Scope 3 mereka pada tahun 2025, naik dari 54 persen di tahun sebelumnya dan 50 persen di tahun 2023.

Kemajuan pada emisi Scope 3 ini terjadi karena perusahaan semakin memfokuskan upaya dekarbonisasi mereka pada rantai pasok. Laporan tersebut menemukan bahwa perusahaan telah menunjukkan perbaikan dalam hal pemantauan pemasok, keterlibatan aktif dengan mitra bisnis, serta transparansi data.

Kerja sama dengan pemasok juga meningkat pesat di mana 64 persen perusahaan kini memiliki program dekarbonisasi yang terstruktur dan berskala besar. Sementara 7 persen perusahaan bahkan sudah mulai memberikan insentif bagi pemasok yang berhasil mengurangi emisi, hal yang belum ada di tahun 2023.

Sedangkan sebanyak 76 persen perusahaan telah menetapkan syarat dekarbonisasi yang wajib diikuti oleh pemasok mereka, naik dari 51 persen pada dua tahun lalu.

Hal yang menarik adalah ketika perusahaan-perusahaan besar semakin aktif mengajak, memberi insentif, dan menekan pemasok mereka untuk melakukan dekarbonisasi, penetapan target iklim baru menjadi semakin umum di perusahaan-perusahaan yang lebih kecil.

Baca juga: Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem

Pemanfaatan AI di perusahaan

Laporan tersebut juga mengamati penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan dalam inisiatif keberlanjutan mereka.

Ditemukan bahwa meski 60 persen perusahaan mengaku sudah menggunakan AI untuk dekarbonisasi operasional, upaya ini masih dalam tahap awal. Buktinya, kurang dari 1 persen perusahaan yang benar-benar bisa menghitung secara pasti seberapa besar pengurangan emisi yang dihasilkan dari penggunaan AI tersebut.

PwC menekankan bahwa peluang besar jangka pendek bagi AI adalah untuk mengatasi masalah data keberlanjutan. Saat ini, baru 14 persen perusahaan yang secara terbuka melaporkan penggunaan AI untuk memperbaiki sistem pelaporan emisi dan keberlanjutan mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
LSM/Figur
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat 'Hitung Cepat'
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat "Hitung Cepat"
Pemerintah
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Pemerintah
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Pemerintah
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Pemerintah
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Pemerintah
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Swasta
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
Pemerintah
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
Pemerintah
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Pemerintah
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
Pemerintah
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Pemerintah
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
Pemerintah
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau