JAKARTA, KOMPAS.com - El Nino Godzilla berisiko mengurangi intensitas hujan dan ketersediaan air bersih secara drastis di Indonesia.
Air yang tersisa di dataran tercemar ketika wilayah diguyur hujan menyempit menjadi kombinasi 'menyeramkan' dari dampak fenomena El Nino berkekuatan ekstrem ini.
Sekretaris Dewan Pengurus The Habibie Center, Nadia Sofia Habibie memperkirakan, situasi di mana beberapa krisis berbeda terjadi bersamaan, saling terkait, serta memperkuat dampak buruk satu sama lain (polikrisis) itu akan semakin seram dan bertambah intens pada 2045 nanti.
Baca juga: Jakarta Terancam El Nino Ekstrem, DPRD DKI Minta Pemprov Bersiap Hadapi Krisis Air dan Pangan
"Bahwa 2045 itu kita akan melihat polikrisis seperti sekarang, tetapi dengan scale yang lebih dahsyat dan ini salah satu contohnya ya, amit-amit akan terjadi tahun ini," ujar Nadia dalam Media Gathering Waste4Change di Jakarta, Senin (21/4/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan mutu air semester 1 2025 Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sebanyak 1.482 sungai tercemar atau 70,7 persen dari total jumlahnya di seluruh Indonesia.
Merujuk data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), 16 juta ton air lindi sampah dari tempat pemrosesan akhir (TPA) per tahun merembes ke tanah dan mencemari perairan di sekitarnya. Limbah domestik dan industri yang masih langsung dibuang ke sungai tanpa terlebih dahulu dilakukan pengelolaan secara memadai juga berkontribusi mencemari perairan darat di Indonesia.
Untuk mencapai ketahanan sumber daya air, kata dia, dibutuhkan lebih dari sekadar inisiatif keberlanjutan dan upaya dekarbonisasi, dengan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK).
Menurut Nadia, mitigasi krisis air lebih kompleks ketimbang krisis iklim, yang mana diperlukan upaya untuk memperbaiki siklus air dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Di tingkat rumah tangga, perbaikan siklus air dalam jangka pendek dapat dilakukan dengan menghentikan pembuangan limbah ke saluran air, menghemat air, panen air hujan, serta daur ulang air bekas cucian.
"Kalau mau kalau turun hujan, keluarkan ember, koleksi airnya di situ. Kalau sudah mengalir ke selokan, kita enggak tahu mau ke mana ya. Jadi, itu super simpel dan sudah menjadi satu solusi yang sangat inklusif. Jadi, jangan panik karena kita masih ada hujan jadi kita jangan mubazir dengan hujan yang masih ada sekarang," tutur Nadia.
Baca juga: Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Di tingkat pemerintah, perbaikan siklus air dalam jangka pendek bisa dilakukan dengan menegakkan sanksi bagi industri yang mencemari badan air, menuntaskan penutupan TPA bersistem open dumping, serta membuka peta risiko kekeringan kepada publik secara transparan.
Sementara itu, perbaikan siklus air dalam jangka panjang dapat dilakukan dengan merestorasi sungai sebagai salah satu tulang punggung siklus air.
Selain itu, perbaikan tersebut juga memastikan limbah rumah tangga dan industri tidak berakhir di sumber kehidupan kita, menurunkan pengeluaran emisi GRK yang memperparah El Nino, serta menegakkan aturan tata ruang untuk melindungi kawasan resapan air, seperti hutan.
"Sebetulnya polikrisis ini karena dengan adanya lebih banyak emisi, El Nino itu makin sering terjadi. Global warming affects El Nino because of the temperature increase," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya