JAKARTA, KOMPAS.com - Titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia naik tiga kali lipat per Februari 2026 dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat, jumlah titik panas mencapai 3.609 di awal 2026.
Luas kebakaran hingga Februari 2026 tercatat meningkat tajam, mencapai lebih dari 32.000 hektare dengan Sumatera dan Kalimantan sebagai daerah paling terdampak.
Karenanya, KLH membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Kebakaran Lahan Tahun 2026.
Baca juga: Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
“Kita harus bergerak cepat, terstruktur, dan tanpa kompromi karena ini menyangkut keselamatan masyarakat, lingkungan, dan masa depan bangsa,” ujar Menteri LH, Hanif Faisol Nurofiq dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).
Tujuannya, lanjut dia, sebagai antisipasi menghadapi peningkatan risiko karhutla seiring terjadinya musim kemarau dan potensi El Nino pada tahun ini.
Satgas Pengendalian Karhutla terdiri dari tim pendamping, tim sekretariat, dan tim klarifikasi. Hanif memerinci, mereka bertugas memperkuat koordinasi pusat dan daerah serta memastikan langkah pencegahan dan penanganan dilakukan secara cepat dan efektif hingga tingkat tapak.
"Selain itu, memperkuat early fire response melalui aktivasi posko pengendalian karhutla di daerah rawan hingga tingkat desa, kesiapsiagaan sumber daya manusia, sarana prasarana, serta dukungan dari pemerintah daerah dan pelaku usaha menjadi fokus utama dalam pelaksanaan pengendalian," jelas Hanif.
Baca juga: Cuaca Pemicu Kebakaran Hutan Naik 3 Kali Lipat, Bagaimana di Asia Tenggara?
Tahun ini, pemerintah fokus pada enam provinsi berpotensi mengalami karhutla akibat fenomena El Nino yang bisa menyebabkan kekeringan panjang.
Enam provinsi itu antara lain Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan, yang dinilai memiliki lahan gambut cukup luas..
KLH juga mendorong penguatan infrastruktur pengendalian karhutla di daerah bergambut tersebut melalui perbaikan tata kelola air, pembangunan sekat kanal, serta penyediaan sumber air seperti sumur bor dan embung.
Secara umum, kondisi gambut dianggap aman apabila tinggi muka air berada di atas 40 sentimeter dari permukaan tanah.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan ancaman karhutla yang lebih berat di Indonesia saat musim kemarau 2026. Menurut Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, cuaca berpotensi lebih kering pada musim kemarau yang dimulai pada April 2026.
Fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole diprediksi berada pada fase netral, tidak terjadi La Nina maupun El Nino. Kondisi netral ini mengindikasikan curah hujan yang cenderung lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan sedikit di bawah rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir.
Daerah ekuator, seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat, saat ini tengah mengalami fase kemarau kecil dengan masih adanya potensi hujan sebelum memasuki puncak musim kemarau dari Juni hingga Agustus 2026.
Apabila fenomena ini muncul bersamaan dengan penguatan monsun Australia pembawa massa udara kering, Indonesia berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang.
"Karena itu, langkah-langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak sekarang,” ucap Faisal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya