Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Lebih jauh lagi, IOOS menyediakan dasar bagi perencanaan pembangunan yang lebih cerdas.
Dengan memahami pola arus, kenaikan muka laut, dan variabilitas lingkungan, pemerintah dapat menentukan lokasi pembangunan yang lebih aman.
Permukiman tidak lagi berkembang secara acak di wilayah rawan, dan investasi infrastruktur dapat diarahkan dengan mempertimbangkan risiko jangka panjang.
Dalam konteks perubahan iklim, IOOS juga berfungsi sebagai sistem “intelijen lingkungan”.
Data jangka panjang memungkinkan kita memahami tren pemanasan laut, deoksigenasi, dan pengasaman laut.
Informasi ini sangat penting untuk merumuskan kebijakan adaptasi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif.
Tantangan terbesar saat ini bukanlah ketiadaan teknologi, melainkan bagaimana kita memposisikan sistem observasi laut dalam kerangka kebijakan nasional.
Selama ini, IOOS sering dipandang sebagai bagian dari kegiatan riset, sesuatu yang penting tetapi tidak mendesak. Perspektif ini perlu diubah.
Dalam era perubahan iklim dan peningkatan risiko bencana, IOOS harus diperlakukan sebagai infrastruktur kritis dan strategis, setara dengan jalan tol, jaringan listrik, atau sistem telekomunikasi.
Tanpa data yang memadai, semua infrastruktur fisik yang kita bangun berdiri di atas asumsi yang rapuh.
Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin dalam hal ini, mengingat posisinya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
Integrasi antar lembaga menjadi kunci untuk membangun sistem yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga efektif secara operasional.
Data harus dapat diakses, dibagikan, dan dimanfaatkan secara luas untuk mendukung pengambilan keputusan di berbagai sektor.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata teknis, tetapi juga politis dan strategis.
Kita dihadapkan pada pilihan yang jelas: terus mengabaikan sinyal dari laut, atau mulai berinvestasi dalam sistem yang memungkinkan kita memahami dan mengantisipasi perubahan.
Bencana tidak terjadi karena alam semata. Ia terjadi karena kita memilih untuk tidak siap.
Dengan terus menunda pembangunan sistem observasi laut yang memadai, kita secara tidak langsung memilih untuk mempertahankan kerentanan.
Laut tidak pernah diam. Ia terus berbicara melalui perubahan suhu, arus, dan kimianya. Pertanyaannya adalah, apakah kita mau mendengarkan?
Jika kita serius ingin membangun masa depan yang berkelanjutan, maka investasi pada IOOS bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar. Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengelola apa yang tidak kita ukur.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya