Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
GELOMBANG tinggi yang datang tiba-tiba, banjir rob yang melumpuhkan pesisir utara Jawa, hingga tsunami yang mengguncang kawasan Indo-Pasifik, semua sering kita labeli sebagai “bencana alam”.
Narasi ini berulang dari waktu ke waktu, termasuk saat gelombang ekstrem menghantam, ketika badai datang tiba-tiba, atau ketika El Nino mengguncang wilayah Indonesia.
Kita sudah terbiasa menyalahkan alam dengan sapuan kuas yang sama, seolah semua ini tidak terelakkan.
Namun, perspektif yang diartikulasikan oleh United Nations Office for Disaster Risk Reduction memberikan sudut pandang yang jauh lebih tajam: tidak ada yang benar-benar disebut sebagai bencana alam.
Laut memang menghasilkan bahaya (hazard), misalnya gelombang, arus, kenaikan muka air laut, hingga aktivitas tektonik.
Tetapi bahaya-bahaya tersebut menjadi bencana ketika dipadukan dengan lemahnya kapasitas manusia seperti pembangunan yang tidak direncanakan, kesiapsiagaan yang rendah, dan yang paling mendasar, ketidaktahuan (lack of knowledge) atau ketidakmauan untuk belajar dan mengetahui (ignorance).
Baca juga: Presiden Melihat MBG dengan Nurani, Bermanfaat Atau Tidak?
Di sinilah kita menghadapi paradoks besar sebagai negara maritim. Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar pada laut, tetapi pada saat yang sama kita harus menghadapi keterbatasan serius dalam memahami dinamika laut itu sendiri.
Perlahan-lahan hal ini membentuk dasar bagi risiko bencana yang sedang kita hadapi saat ini.
Pendekatan modern dalam pengurangan risiko bencana merumuskan hubungan antara berbagai faktor secara sederhana namun sangat kuat: Disaster Risk=Hazard×Exposure×Vulnerability
Dalam konteks kelautan, bahaya (hazard) adalah sesuatu yang tidak dapat kita hilangkan.
Laut akan selalu bergerak, memanas, dan berubah. Arus akan terus berfluktuasi, badai akan tetap terbentuk, dan kenaikan muka laut akan menjadi konsekuensi dari perubahan iklim global.
Semua ini adalah bagian dari sistem bumi yang kompleks dan dinamis.
Yang berubah secara signifikan adalah tingkat paparan (exposure). Dalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di wilayah pesisir meningkat pesat.
Kota-kota besar berkembang di sepanjang garis pantai, pelabuhan diperluas, kawasan industri bermunculan, dan permukiman semakin mendekati wilayah yang secara alami rentan terhadap dinamika laut.
Kita secara aktif menempatkan diri lebih dekat dengan sumber bahaya. Namun, faktor yang paling menentukan adalah kerentanan (vulnerability).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya