Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Prof. Dr. A’an Johan Wahyudi
Peneliti

Profesor Riset Biogeokimia Laut, Badan Riset dan Inovasi Nasional; Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI)

"The Silent Deep": Ketidaktahuan Kita tentang Laut adalah Bencana yang Sebenarnya

Kompas.com, 4 Mei 2026, 07:20 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

GELOMBANG tinggi yang datang tiba-tiba, banjir rob yang melumpuhkan pesisir utara Jawa, hingga tsunami yang mengguncang kawasan Indo-Pasifik, semua sering kita labeli sebagai “bencana alam”.

Narasi ini berulang dari waktu ke waktu, termasuk saat gelombang ekstrem menghantam, ketika badai datang tiba-tiba, atau ketika El Nino mengguncang wilayah Indonesia.

Kita sudah terbiasa menyalahkan alam dengan sapuan kuas yang sama, seolah semua ini tidak terelakkan.

Namun, perspektif yang diartikulasikan oleh United Nations Office for Disaster Risk Reduction memberikan sudut pandang yang jauh lebih tajam: tidak ada yang benar-benar disebut sebagai bencana alam.

Laut memang menghasilkan bahaya (hazard), misalnya gelombang, arus, kenaikan muka air laut, hingga aktivitas tektonik.

Tetapi bahaya-bahaya tersebut menjadi bencana ketika dipadukan dengan lemahnya kapasitas manusia seperti pembangunan yang tidak direncanakan, kesiapsiagaan yang rendah, dan yang paling mendasar, ketidaktahuan (lack of knowledge) atau ketidakmauan untuk belajar dan mengetahui (ignorance).

Baca juga: Presiden Melihat MBG dengan Nurani, Bermanfaat Atau Tidak?

Di sinilah kita menghadapi paradoks besar sebagai negara maritim. Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar pada laut, tetapi pada saat yang sama kita harus menghadapi keterbatasan serius dalam memahami dinamika laut itu sendiri.

Perlahan-lahan hal ini membentuk dasar bagi risiko bencana yang sedang kita hadapi saat ini.

Formula Sederhana yang Menjelaskan Segalanya

Pendekatan modern dalam pengurangan risiko bencana merumuskan hubungan antara berbagai faktor secara sederhana namun sangat kuat: Disaster Risk=Hazard×Exposure×Vulnerability

Dalam konteks kelautan, bahaya (hazard) adalah sesuatu yang tidak dapat kita hilangkan.

Laut akan selalu bergerak, memanas, dan berubah. Arus akan terus berfluktuasi, badai akan tetap terbentuk, dan kenaikan muka laut akan menjadi konsekuensi dari perubahan iklim global.

Semua ini adalah bagian dari sistem bumi yang kompleks dan dinamis.

Yang berubah secara signifikan adalah tingkat paparan (exposure). Dalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di wilayah pesisir meningkat pesat.

Kota-kota besar berkembang di sepanjang garis pantai, pelabuhan diperluas, kawasan industri bermunculan, dan permukiman semakin mendekati wilayah yang secara alami rentan terhadap dinamika laut.

Kita secara aktif menempatkan diri lebih dekat dengan sumber bahaya. Namun, faktor yang paling menentukan adalah kerentanan (vulnerability).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Pemerintah
Permenhut Bisa Bikin Harga Karbon RI Lebih Kompetitif?
Permenhut Bisa Bikin Harga Karbon RI Lebih Kompetitif?
Swasta
Daur Ulang Botol Tinta Jadi Meja Belajar, Upaya Kurangi Sampah Plastik
Daur Ulang Botol Tinta Jadi Meja Belajar, Upaya Kurangi Sampah Plastik
Swasta
PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
Swasta
Jabat Menteri LH Baru, Jumhur Hidayat Ingin 'Green Policing' Direplikasi secara Nasional
Jabat Menteri LH Baru, Jumhur Hidayat Ingin "Green Policing" Direplikasi secara Nasional
Pemerintah
Energi Terbarukan Lebih Murah dari Teknologi DAC untuk Kurangi Emisi Karbon
Energi Terbarukan Lebih Murah dari Teknologi DAC untuk Kurangi Emisi Karbon
Pemerintah
Target Kurangi Emisi, Boeing Borong 20.000 Ton Kredit Penghapusan Karbon
Target Kurangi Emisi, Boeing Borong 20.000 Ton Kredit Penghapusan Karbon
Pemerintah
Waspada Cuaca Ekstrem, Hujan Disertai Angin dan Petir Bakal Landa Sejumlah Wilayah
Waspada Cuaca Ekstrem, Hujan Disertai Angin dan Petir Bakal Landa Sejumlah Wilayah
Pemerintah
 Laut Aral Jadi Contoh Bahayanya Eksploitasi Air
Laut Aral Jadi Contoh Bahayanya Eksploitasi Air
Pemerintah
Kemenhut Sebut Vila di Taman Nasional Bali Barat Kantongi Izin
Kemenhut Sebut Vila di Taman Nasional Bali Barat Kantongi Izin
Pemerintah
Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan
Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan
LSM/Figur
2 Anak Harimau Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung
2 Anak Harimau Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung
Pemerintah
Hilangnya Keanekaragaman Hayati Bisa Picu Kenaikan Biaya Hidup
Hilangnya Keanekaragaman Hayati Bisa Picu Kenaikan Biaya Hidup
LSM/Figur
Fasilitas PSEL Dibangun di 2 Lokasi, Lahan Bukan Aset Pemprov
Fasilitas PSEL Dibangun di 2 Lokasi, Lahan Bukan Aset Pemprov
Pemerintah
Pakistan Jadi Wilayah Paling Berpolusi di Dunia, Jakarta Urutan Keenam
Pakistan Jadi Wilayah Paling Berpolusi di Dunia, Jakarta Urutan Keenam
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau