Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB: Pekerja Media Jadi Salah Satu Profesi Paling Berisiko di Dunia

Kompas.com, 4 Mei 2026, 08:20 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut pekerja media menjadi salah satu profesi yang paling berisiko di dunia. Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk menilai situasi di Timur Tengah sebagai contoh nyata tingginta risiko pekerjaan tersebut. 

"Jurnalisme saat ini telah menjadi profesi yang tidak aman dan, kadang-kadang berbahaya karena para pekerja media telah dibom di dalam mobil mereka, diculik dari kantor mereka, dibungkam di balik jeruji besi, dan dipecat dari pekerjaan mereka," ujar Turk dalam keterangannya, Sabtu (2/5/2026).

PBB melaporkan, sebanyak 14 jurnalis dinyatakan tewas sejak Januari 2026. Tak sampai separuh kasus pembunuhan terhadap jurnalis dalam dua dekade terakhir berujung pada sanksi yang sesuai.

Baca juga: Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI

Turk menyatakan konflik di Gaza sebagai jebakan maut bagi jurnalis sebab sejak Oktober 2023, dengan hampir 300 pekerja media tewas dan banyak lainnya mengalami luka-luka.

“Sejauh ini di tahun 2026, Lebanon adalah negara paling mematikan bagi pekerja media," imbuh dia.

Kondisi itu diperparah dengan banyaknya peliputan konflik yang bergantung pada jurnalis lokal dengan risiko lebih ekstrem. Di Sudan, misalnya, para wartawan tetap bekerja di tengah kekerasan, kelaparan, dan memburuknya kondisi kemanusiaan.

Ancaman pun terjadi secara global. Turk mengungkapkan, hampir tidak ada negara yang benar-benar aman bagi mereka yang berani menyampaikan kebenaran kepada penguasa.

Ia mengaku sempat menemukan kasus di mana jurnalis, narasumber, hingga keluarga mereka terancam labtaran memberitakan soal isu korupsi, merusakan lingkungan, serta kejahatan terorganisir di Meksiko.

Baca juga: Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global

Selain kekerasan fisik, tekanan terhadap pekerja media datang dari regulasi dan teknologi.
Undang-undang pencemaran nama baik, disinformasi, dan kejahatan siber kerap digunakan untuk membungkam pers, sementara gugatan hukum yang mahal menjadi alat intimidasi.

“Saya sangat prihatin bahwa para pekerja media menjadi target utama represi dan pengawasan transnasional yang semakin meningkat yang paling baru terlihat dalam serangan terhadap jurnalis Iran di luar negeri,” sebut Turk.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan terjadi peningkatan tajam jurnalis yang terbunuh di zona perang dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh pada Minggu (3/5/2026), Guterres menekankan bahwa korban pertama dalam sebuah peristiwa ialah para jurnalis yang mempertaruhkan segalanya untuk melaporkan kebenaran.

"Tidak hanya dalam perang, tetapi di mana pun mereka yang berkuasa takut akan pengawasan. Namun, kebebasan pers juga berada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena tekanan ekonomi, teknologi baru, dan manipulasi aktif," tutur Guterres.

Maraknya Pelecehan dan Kekerasan Online

PBB mencatat lonjakan kasus kekerasan daring, utamanya terhadap jurnalis perempuan. Sekitar tiga perempat jurnalis perempuan mengalami pelecehan online, termasuk kampanye fitnah dan ancaman kekerasan seksual.

“Serangan semacam ini berisiko menciptakan masyarakat yang dipenuhi disinformasi, di mana media terpaksa mengaburkan fakta agar dapat beroperasi dengan aman,” papar Turk.

Sementara itu, tekanan ekonomi turut memperburuk kondisi industri media. Pemotongan anggaran dan konsentrasi kepemilikan memaksa banyak media lokal di beberapa negara tutup.

Kendati demikian, para jurnalis tetap menjalankan tugasnya bahkan dalam kondisi tersulit sekali pun. Turk menyampaikan bahwa banyak di antara mereka terus melaporkan berita dari rumah sakit atau dalam kondisi cedera demi memastikan informasi tetap sampai kepada publik.

Karenanya, PBB mendesak pemerintah seluruh dunia untuk menghentikan penganiayaan terhadap pers, mencabut regulasi yang mengekang, serta memastikan perlindungan hukum bagi pekerja media.

Perusahaan teknologi juga didorong untuk mengambil langkah dalam mengatasi pelecehan ataupun disinformasi daring.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Pemerintah
Permenhut Bisa Bikin Harga Karbon RI Lebih Kompetitif?
Permenhut Bisa Bikin Harga Karbon RI Lebih Kompetitif?
Swasta
Daur Ulang Botol Tinta Jadi Meja Belajar, Upaya Kurangi Sampah Plastik
Daur Ulang Botol Tinta Jadi Meja Belajar, Upaya Kurangi Sampah Plastik
Swasta
PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
Swasta
Jabat Menteri LH Baru, Jumhur Hidayat Ingin 'Green Policing' Direplikasi secara Nasional
Jabat Menteri LH Baru, Jumhur Hidayat Ingin "Green Policing" Direplikasi secara Nasional
Pemerintah
Energi Terbarukan Lebih Murah dari Teknologi DAC untuk Kurangi Emisi Karbon
Energi Terbarukan Lebih Murah dari Teknologi DAC untuk Kurangi Emisi Karbon
Pemerintah
Target Kurangi Emisi, Boeing Borong 20.000 Ton Kredit Penghapusan Karbon
Target Kurangi Emisi, Boeing Borong 20.000 Ton Kredit Penghapusan Karbon
Pemerintah
Waspada Cuaca Ekstrem, Hujan Disertai Angin dan Petir Bakal Landa Sejumlah Wilayah
Waspada Cuaca Ekstrem, Hujan Disertai Angin dan Petir Bakal Landa Sejumlah Wilayah
Pemerintah
 Laut Aral Jadi Contoh Bahayanya Eksploitasi Air
Laut Aral Jadi Contoh Bahayanya Eksploitasi Air
Pemerintah
Kemenhut Sebut Vila di Taman Nasional Bali Barat Kantongi Izin
Kemenhut Sebut Vila di Taman Nasional Bali Barat Kantongi Izin
Pemerintah
Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan
Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan
LSM/Figur
2 Anak Harimau Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung
2 Anak Harimau Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung
Pemerintah
Hilangnya Keanekaragaman Hayati Bisa Picu Kenaikan Biaya Hidup
Hilangnya Keanekaragaman Hayati Bisa Picu Kenaikan Biaya Hidup
LSM/Figur
Fasilitas PSEL Dibangun di 2 Lokasi, Lahan Bukan Aset Pemprov
Fasilitas PSEL Dibangun di 2 Lokasi, Lahan Bukan Aset Pemprov
Pemerintah
Pakistan Jadi Wilayah Paling Berpolusi di Dunia, Jakarta Urutan Keenam
Pakistan Jadi Wilayah Paling Berpolusi di Dunia, Jakarta Urutan Keenam
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau