KOMPAS.com - Eropa mengalami kebakaran hutan dan gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2025. Dampak ini diperkirakan akan semakin parah karena Eropa adalah benua dengan kenaikan suhu tercepat di dunia.
Melansir New Scientist, Rabu (29/4/2026) menurut laporan tahunan dari lembaga cuaca Eropa (ECMWF), tahun lalu merupakan tahun terpanas sepanjang sejarah bagi Inggris, Islandia, dan Norwegia.
Secara keseluruhan, tahun tersebut masuk dalam tiga besar tahun terpanas di Eropa, di mana lebih dari 95 persen wilayah benua tersebut mengalami suhu di atas rata-rata.
Wilayah Skandinavia, Finlandia, dan Rusia bagian barat laut bahkan mengalami gelombang panas terburuk yang pernah ada. Suhu panas menyengat ini bertahan selama 21 hari dan mencapai 30 derajat C, bahkan di wilayah kutub utara.
Panas yang ekstrem ini kemungkinan besar menghambat pertumbuhan hewan dan tumbuhan, serta memicu penyebaran hama dan spesies asing yang merusak.
Baca juga: Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
Celeste Saulo dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menjelaskan bahwa krisis iklim ini menyebabkan penurunan keragaman hayati secara drastis.
"Wilayah ini biasanya hanya mengalami panas terik selama satu atau dua hari saja, tapi kali ini sampai 21 hari. Hal ini sangat merusak kesehatan ekosistem," ujarnya.
Sejak tahun 1980, suhu di Eropa meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata dunia, sehingga gelombang panas menjadi lebih sering terjadi dan lebih parah.
Panas ekstrem tersebut kemudian menjadi pemicu kebakaran hutan besar di Portugal dan Spanyol pada bulan Agustus. Kondisi cuaca yang sangat panas, kering, dan berangin di sana menjadi 40 kali lebih sering terjadi akibat perubahan iklim.
Kebakaran ini menghanguskan lebih dari 10.000 kilometer persegi lahan dan menelan setidaknya tiga korban jiwa. Api bahkan mendekati kota Madrid, sehingga jalur pendakian populer Camino de Santiago harus ditutup sebagian. Asapnya pun terbang sangat jauh hingga mencapai Inggris.
Di seluruh Eropa, kebakaran hutan ini melepaskan 47 juta ton karbon, yang merupakan jumlah tertinggi sepanjang sejarah. Negara-negara seperti Spanyol, Inggris, Belanda, Jerman, dan Siprus semuanya mencatat rekor emisi gas buang tertinggi akibat kebakaran di wilayah mereka.
Kondisi tanah di Eropa merupakan yang paling kering dalam 33 tahun terakhir. Lebih dari sepertiga wilayah Eropa, terutama Inggris, Turki, dan Ukraina, mengalami kekeringan lahan pertanian yang sangat parah. Tanah yang kering ini memicu kebakaran hutan di banyak negara.
Menurut Samantha Burgess dari ECMWF, kebakaran besar di Portugal dan Spanyol terjadi karena perubahan cuaca yang ekstrem.
Baca juga: Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026
Musim semi yang sangat basah membuat tanaman tumbuh subur, namun musim panas yang panasnya mencetak rekor langsung mengeringkan tanaman tersebut hingga mudah terbakar seperti korek api.
"Jika ada banyak tanaman kering ditambah cuaca panas dan angin kering, kebakaran hutan akan menyebar sangat cepat dan mengerikan," kata Burgess.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya