Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Perluas Penyebaran Arenavirus, Ancam Jutaan Orang

Kompas.com, 6 Mei 2026, 16:36 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim memperluas penyebaran arenavirus oleh hewan pengerat ke wilayah Amerika Selatan yang belum pernah menghadapi penyakit ini.

‎Studi terbaru dari Universitas California (UC), Davis, yang diterbitkan dalam jurnal mengungkapkan, risiko penyebaran arenavirus di Benua Amerika, yang membahayakan masyarakat.

Studi tersebut menggabungkan proyeksi iklim, pergeseran populasi hewan pengerat, serta risiko infeksi pada manusia ke dalam sebuah model yang menawarkan proyeksi risiko awal untuk arenavirus dan penyakit lainnya dalam 20 hingga 40 tahun ke depan.

Baca juga: Virus Pandemi Bisa Menular ke Manusia Tanpa Adaptasi Awal

‎“Seiring percepatan perubahan iklim, studi kami menunjukkan bagaimana risiko wabah arenavirus memanfaatkan pergeseran populasi hewan pengerat untuk menjangkau jutaan orang lagi di seluruh Amerika Selatan,” ujar penulis utama sekaligus penelitidi Sekolah Kedokteran Hewan Weill UC Davis dan Departemen Kesehatan Populasi dan Reproduksi, Pranav S. Kulkarni, dilansir dari laman resmi UC Davis, Rabu (6/5/2026).

‎Arenavirus menyebabkan demam berdarah parah dengan tingkat rawat inap yang tinggi dan angka kematian berkisar antara 5-30 persen.

Arenavirus meliputi virus Guanarito di Venezuela dan Kolombia, virus Machupo di Bolivia dan Paraguay, serta virus Junin di Argentina.

Meski telah menimbulkan beberapa wabah pada manusia, arenavirus ini relatif kurang dipelajari dibandingkan dengan arenavirus Dunia Lama, seperti demam Lassa di Afrika.

‎Dengan pendanaan dari Wellcome Trust, para peneliti UC Davis membangun platform interaktif sumber terbuka bernama AtlasArena, untuk memahami bagaimana kris iklim membentuk kembali risiko penularan zoonosis melalui arenavirus dan virus lain yang sulit dilacak.

Mereka mengintegrasikan proyeksi iklim, kepadatan populasi manusia, risiko penularan ke dalam model pembelajaran mesin, serta kesesuaian habitat untuk enam spesies tikus dan mencit yang terkait dengan virus ini.

‎Pendekatan ini memungkinkan tim peneliti untuk mengidentifikasi hubungan kompleks antara iklim, penggunaan lahan, ekologi hewan pengerat, dan paparan manusia yang mungkin terlewatkan oleh model tradisional.

‎Studi ini menghubungkan pergeseran populasi hewan pengerat, risiko infeksi pada manusia, serta perubahan kondisi iklim dan penggunaan lahan, sehingga memungkinkan untuk melihat di mana generasi berikutnya dari wabah arenavirus zoonosis dapat muncul.

‎Terdapat beberapa model yang telah diproyeksikan. Pertama, Virus Guanarito, yang ditemukan di Venezuela tengah, diperkirakan akan menyebar ke sebagian wilayah Kolombia, perbatasan Suriname, dan bagian utara Brasil.

Baca juga: Pasar Hewan Bisa Jadi Dapur Virus, Pandemi Berikutnya Bisa Muncul dari Sana

‎Kedua, Virus Machupo diperkirakan akan menyebar dari dataran dan lahan datar Bolivia ke kaki bukit Andes dan wilayah pegunungan.

‎Ketiga, Virus Junin diperkirakan akan berpindah dari wilayah padang rumput ke bagian lain Argentina, mengurangi risiko di beberapa wilayah sekaligus memperluas risiko ke wilayah lain.

‎Dalam semua kasus, populasi yang memiliki sedikit atau tanpa paparan sebelumnya, akan menghadapi virus-virus ini untuk pertama kalinya, sehingga berpotensi meningkatkan kerentanan mereka terhadap infeksi dan penyakit parah.

‎Apalagi, ada risiko penularan dari satu spesies ke spesies lain — terutama disebabkan oleh perubahan suhu, curah hujan, serta penggunaan lahan, seperti perluasan lahan pertanian dan perkotaan di dalam habitat reservoir hewan pengerat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kalbe Gelar Pemeriksaan Gratis untuk Mata dan Diabetes di Kendari
Kalbe Gelar Pemeriksaan Gratis untuk Mata dan Diabetes di Kendari
Swasta
Menhut Sebut Angka Karhutla Turun karena Pencegahan Dini hingga Sanksi Pidana
Menhut Sebut Angka Karhutla Turun karena Pencegahan Dini hingga Sanksi Pidana
Pemerintah
Krisis Iklim Perluas Penyebaran Arenavirus, Ancam Jutaan Orang
Krisis Iklim Perluas Penyebaran Arenavirus, Ancam Jutaan Orang
LSM/Figur
PGN Mulai Implementasikan Program Pengelolaan Sampah Plastik yang Terintegrasi
PGN Mulai Implementasikan Program Pengelolaan Sampah Plastik yang Terintegrasi
BUMN
Menakar Risiko Pajak EV, Minim Pembeli hingga Ditinggal Investor
Menakar Risiko Pajak EV, Minim Pembeli hingga Ditinggal Investor
LSM/Figur
Air Limbah Jadi Aset Strategis di Arab Saudi
Air Limbah Jadi Aset Strategis di Arab Saudi
LSM/Figur
IWIP dan WBN Bangun Jaringan Air Bersih di Halmahera Tengah
IWIP dan WBN Bangun Jaringan Air Bersih di Halmahera Tengah
Swasta
Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat
Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat
Pemerintah
Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi
Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi
Swasta
Pasca-Permenhut Baru, Investor Skeptis soal Pasar Karbon RI dan Birokrasi RI Dipertanyakan
Pasca-Permenhut Baru, Investor Skeptis soal Pasar Karbon RI dan Birokrasi RI Dipertanyakan
Swasta
BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
Pemerintah
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Pemerintah
Permenhut Bisa Bikin Harga Karbon RI Lebih Kompetitif?
Permenhut Bisa Bikin Harga Karbon RI Lebih Kompetitif?
Swasta
Daur Ulang Botol Tinta Jadi Meja Belajar, Upaya Kurangi Sampah Plastik
Daur Ulang Botol Tinta Jadi Meja Belajar, Upaya Kurangi Sampah Plastik
Swasta
PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau