Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus

Kompas.com, 10 Mei 2026, 09:03 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hingga saat ini, risiko penyebaran hantavirus ke penduduk Indonesia masih sangat rendah.

Namun demikian, Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman mengatakan masyarakat perlu mewaspadai beberapa faktor yang mendukung penyebaran hantavirus di Indonesia.

Faktor yang dimaksud adalah hewan pengerat (rodensia) yang di Indonesia tergolong tinggi, banjir musiman, sanitasi perkotaan yang kotor, serta kepadatan pelabuhan dan pergudangan.

Kendati demikian, beberapa kelompok masyarakat memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap paparan hantavirus yang ditularkan hewan pengerat.

Kelompok tersebut yaitu, petugas kebersihan, tukang sampah, pekerja gudang dan pelabuhan, petani, orang-orang yang sering terpapar lingkungan tertutup dan kotor, serta masyarakat di daerah banjir.

Di sisi lain, mendeteksi kasus hantavirus di Indonesia masih menjadi tantangan. Hantavirus di Indonesia berpotensi underdiagnosed atau jarang terdiagnosis dan kerap tidak terindentifikasi, mengingat gejalanya mirip leptospirosis, dengue, atau pneumonia berat.

Ini diperparah dengan respons masyarakat Indonesia yang cenderung skeptis setiap muncul isu potensi wabah baru.

Menurut Dicky, ketidakpercayaan tersebut disebabkan trauma sosial pasca pandemi, infodemi di media sosial, inkonsistensi komunikasi risiko dari pemerintah, sampai politisasi kesehatan publik.

"Yang sebetulnya penting dibangun oleh pemerintah adalah
transparansi data, komunikasi ilmiah terbuka dan pengawasan independen karena trust (kepercayaan) publik dibangun dari keterbukaan ya bukan sekadar otoritas," ujar Dicky kepada Kompas.com, Jumat (8/5/2026).

Apa yang perlu dilakukan?

Kewaspadaan terhadap ancaman hantavirus harus tidak disertai dengan panik secara berlebihan. Dicky menggarisbawahi pentingnya untuk waspada dengan tetap berpikir rasional. Ia menyarankan masyarakat mengadopsi pola hidup bersih dan sehat di segala aspek. Itu termasuk menjaga kebersihan lingkungan.

Sebaiknya, kata dia, rumah terbebas dari tikus, selalu menyimpan makanan dalam keadaan tertutup, memakai masker atau sarung tangan saat membersihkan gudang dan area kotor lainnya.

"Kalau musim hujan atau banjir, jangan kontak langsung dengan air kotor dan gunakan alas kaki atau pelindung. Kalau ada demam, nyeri otot, sesak napas ya, terutama kalau lingkungannya sanitasi buruk ya harus ke dokter dan juga screening ya, jangan dalam melihat informasi di media sosial, lihat siapa yang berbicara, sumber-sumbernya," tutur Dicky.

Tikus liar

Hantavirus pertama kali ditemukan pada tikus sawah di dekat Sungai Hantan, Korea Selatan, pada 1970-an. Dalam sejarah wabah, hantanvirus pertama yang menghebohkan terjadi di wilayah Four Corners, Amerika Serikat (AS) pada 1993. Saat itu, strain virus Sin Nombre, jenis hantavirus, menyerang paru-paru dengan tingkat kematian hampir 50 persen.

"Nah, sekarang yang semakin diketahui bahwa reservoir utama dari hantavirus itu adalah hewan pengerat seperti tikus liar ini. Nah kalau di Indonesia juga ditemukan di tikus got atau tikus rumah ya, beberapa ya di lokasi, terutama yang sangat rawan kan di daerah pelabuhan," ucapnya.

Sebagai reservoir utama, hewan pengerat terutama tikus liar dapat menyebarkan hantavirus ke manusia, menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome, penyakit zoonosis mematikan yang menyerang pernapasan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perkuat Usaha Masyarakat Pesisir, Agrinas Jaladri Salurkan 19.500 Benih Ikan
Perkuat Usaha Masyarakat Pesisir, Agrinas Jaladri Salurkan 19.500 Benih Ikan
BUMN
Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer
Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer
Swasta
Lestari Kompas Gramedia Beri Edukasi Keberlanjutan di Sekolah Binaan Pertamina
Lestari Kompas Gramedia Beri Edukasi Keberlanjutan di Sekolah Binaan Pertamina
Swasta
BRI Salurkan 'Social Loan' Rp 718,8 Triliun, Setara 53 Persen dari Total Kredit
BRI Salurkan "Social Loan" Rp 718,8 Triliun, Setara 53 Persen dari Total Kredit
BUMN
Minat STEM Pelajar Naik 90 Persen, PT Pertamina Perluas Edukasi Transisi Energi Lewat SEB
Minat STEM Pelajar Naik 90 Persen, PT Pertamina Perluas Edukasi Transisi Energi Lewat SEB
BUMN
Kecil tapi Berdampak, Semut Berperan dalam Siklus Karbon Planet
Kecil tapi Berdampak, Semut Berperan dalam Siklus Karbon Planet
Pemerintah
Konferensi APS III 2026, Menggali Etnosains untuk Transformasi Pembangunan Papua
Konferensi APS III 2026, Menggali Etnosains untuk Transformasi Pembangunan Papua
LSM/Figur
Ancaman Cuaca Ekstrem, Ibadah Haji Di Masa Depan Disebut Makin Berbahaya
Ancaman Cuaca Ekstrem, Ibadah Haji Di Masa Depan Disebut Makin Berbahaya
Pemerintah
Dinilai Perburuk Layanan RS, Buruh Minta Pemerintah Revisi Permenaker 7/2026
Dinilai Perburuk Layanan RS, Buruh Minta Pemerintah Revisi Permenaker 7/2026
LSM/Figur
PLN Ubah Kantor Jadi Sumber Energi Mandiri lewat Smart and Green Building
PLN Ubah Kantor Jadi Sumber Energi Mandiri lewat Smart and Green Building
Pemerintah
Industri Ritel Global Belum Serius Garap Sektor Cokelat Berkelanjutan
Industri Ritel Global Belum Serius Garap Sektor Cokelat Berkelanjutan
Pemerintah
Akses Air Bersih Tersedia, Biaya Rumah Tangga Warga di Cikarang Turun Drastis
Akses Air Bersih Tersedia, Biaya Rumah Tangga Warga di Cikarang Turun Drastis
Swasta
Lewat Kampanye LG Loves Green, Serahkan Karya Seni dari Sampah Elektronik ke SDN 08 Ragunan
Lewat Kampanye LG Loves Green, Serahkan Karya Seni dari Sampah Elektronik ke SDN 08 Ragunan
BrandzView
Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik
Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik
Pemerintah
Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran
Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau