Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konferensi APS III 2026, Menggali Etnosains untuk Transformasi Pembangunan Papua

Kompas.com, 11 Mei 2026, 15:42 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Upaya menata masa depan Papua membutuhkan sinkronisasi antara kebijakan nasional dan kebutuhan riil di tingkat akar rumput. Keselarasan ini menjadi kunci agar program pembangunan menyentuh aspek kemanusiaan dan kesejahteraan masyarakat.

Tanpa adanya jembatan komunikasi kuat, kebijakan yang bersifat sentralistik dikhawatirkan akan kehilangan konteks dan relevansi dengan karakteristik unik sosial-budaya masyarakat Papua.

Terkait hal itu, komunitas Analisis Papua Strategis (APS) berkomitmen mempercepat pembangunan di Tanah Papua sesuai semangat Otonomi Khusus dalam visi Asta Cita Presiden Prabowo.

Konferensi APS III 2026 (27-29/5/2026) yang digelar Gedung PYCH (Papua Youth Creative Hub) Kota Jayapura, Provinsi Papua, akan membahas Inovasi Pembangunan Etnosains Papua dalam mendukung berbagai implementasi kebijakan pembangunan dengan semangat partisipasi tinggi dari masyarakat Papua secara mandiri.

Konferensi ini membuka 10 Forum tematik berbasis komunitas dan kolaborasi lintas sektor, antar lain Forum Masyarakat Adat Papua, Forum Agama, Forum Perempuan Papua, Forum Transportasi, Multimoda dan Konektivitas, Forum Kesehatan, Forum Pendidikan, Forum Pertanian dan Perkebunan, Forum Ketenagaankerjaan dan Forum Perikanan dan kelautan serta Forum Ekonomi dan Bisnis.

Ketua Umum Analisis Papua Strategis, Laus Deo Calvin Rumayom menyampaikan konferensi APS III merupakan keberlanjutan dari Konferensi I tahun 2022 di Kab. Biak dan Konferensi II tahun 2023 di Kab. Jayapura Provinsi Papua.

Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan meliputi; pemerintah pusat di Kementerian Lembaga (K/L) maupun pemerintah daerah pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota, masyarakat adat, agama, dan keterwakilan perempuan dan kepemudaaan serta kewirausahaan.

"Kompleksitas tantangan pembangunan di Tanah Papua tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan konvensional yang bersifat top-down dan seragam," ungkap Laus Deo Calvin Rumayom.

Dalam dua dekade implementasi otsus Papua, lanjut Laus, berbagai capaian telah diraih dengan tantangan meminimalkan gap pembangunan wilayah pesisir dan pegunungan, akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, serta ekonomi.

Baca juga: Perkuat Konektivitas Digital di Indonesia Timur, TelkomGroup Resmikan Kabel Laut PukPuk sebagai Gerbang Penghubung Indonesia-Papua Nugini

"Di tengah dinamika global, transformasi digital, perubahan iklim, dan transisi menuju ekonomi berkelanjutan, Papua berada pada titik krusial untuk menentukan arah pembangunannya," jelas Laus Deo.

Dia menyampaikan, pendekatan pembangunan berbasis etnosains menawarkan alternatif solusi yang menjembatani kearifan lokal dengan inovasi modern, tambah Laus yang juga sebagai Founder APS dan APS Center for Delepoment and Global Studies.

Papua jadi pusat pertumbuhan Indonesia Timur

Ketua Panitia Konferensi APS Ketiga, Dr. Richard Patty bersama Advisor APS Ps. Catto Mauri didampingi Ketua Umum APS Laus Deo Calvin Rumayom dan Sekretaris Jenderal APS Willem Thobias FofidDOK. APS Ketua Panitia Konferensi APS Ketiga, Dr. Richard Patty bersama Advisor APS Ps. Catto Mauri didampingi Ketua Umum APS Laus Deo Calvin Rumayom dan Sekretaris Jenderal APS Willem Thobias Fofid

Ketua Panitia Konferensi APS III, Richard Patty menambahkan seiring itu, semangat kebersamaan dalam membangun Tanah Papua yang adil, inklusif, dan berkelanjutan, dengan memiliki posisi yang sangat strategis melihat Papua khususnya Kota Jayapura sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur, juga sebagai ruang interaksi dan sentra ekonomi.

Ia menjelaskan, konferensi ini merupakan kelanjutan komitmen APS CDGS (Analysis Papua Strategic Center for Development and Global Studies) sebagai lembaga think thank yang telah cukup lama.

"Juga untuk selalu menghasilkan kajian berbasis bukti (evidence-based) yang menjadi rujukan pengambil kebijakan, tambah Richard yang juga sebagai Direktur APS CDGs, lembaga riset yang berada dalam APS Global Community," jelasnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau