Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata

Kompas.com, 12 Mei 2026, 11:05 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi terbaru dari Rice University menemukan bahwa pola iklim utama, El Niño-Southern Oscillation (ENSO) berdampak terhadap risiko konflik bersenjata.

Namun, salah satu temuan terpenting dari studi ini mengungkapkan, tidak semua dampak perubahan iklim itu sama dan hal tersebut mirip dengan hasil penelitian sebelumnya.

"Kami menemukan bahwa risiko konflik bersenjata global lebih besar selama El Niño dibandingkan dengan La Niña, tetapi kami juga menemukan bahwa peningkatan risiko konflik selama El Niño terutama terkait dengan wilayah yang mengalami kondisi lebih kering," ujar mahasiswa doktoral statistik Rice, Tyler Bagwell yang memimpin studi ini, dilansir dari Phys Selasa (12/5/2026).

Daerah dengan El Nino dikaitkan dengan kondisi yang lebih basah, kata dia, tidak ditemukan hubungan kredibel.

Baca juga: Dampak Konflik Timur Tengah dan Super El Nino Bayangi Ekonomi Asia

Perbedaan tersebut membantu memperjelas perdebatan yang masih berlanjut dalam penelitian konflik iklim, yang kesulitan mengidentifikasi jalur kausal secara konsisten menghubungkan kondisi iklim dengan konflik.

Alih-alih pola global yang sederhana, temuan dari studi ini menunjukkan bahwa tekanan terkait kekeringan, seperti berkurangnya ketersediaan air atau tekanan pada pertanian, memungkinkan memainkan peran lebih besar dalam meningkatkan risiko.

Risiko Konflik

Temuan dari studi ini memberikan bukti bahwa risiko konflik yang terkait dengan El Niño tidak naik selaras dengan seberapa besar paparan suatu wilayah terhadap ENSO di luar tingkat paparan dasar tertentu. Ini mengindikasikan kemungkinan adanya efek ambang batas.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini juga mengidentifikasi hubungan yang belum terdokumentasi antara Indian Ocean Dipole (IOD) — sistem pendorong variabilitas cuaca global yang lebih berfokus pada cekungan Samudra Hindia dan risiko konflik bersenjata.

ENSO dan IOD adalah pola iklim akibat anomali suhu laut yang berayun ke timur maupun barat di Samudra Pasifik tropis dan Samudra Hindia, dengan masing-masing saling memengaruhi pola cuaca global.

Tidak seperti ENSO, di mana hanya El Niño yang dikaitkan dengan risiko lebih tinggi, fase positif maupun negatif IOD berbeda. Kedua fase IOD tersebut meningkatkan risiko konflik, terutama di Tanduk Afrika dan sebagian Asia Tenggara.

Dipol Samudra Hindia beroperasi dalam skala waktu lebih pendek dan bisa bergeser dengan cepat, menciptakan 'hentakan' iklim yang mengganggu wilayah rentan. Bukti statistik yang kuat bahwa variabilitas iklim dapat bertindak sebagai pengganda ancaman, memperkuat tekanan sosial dan ekonomi yang sudah ada.

Baca juga: Ancaman El Nino 2026, 80 Persen Sawah di Bandung Barat Terancam Kekeringan karena Tak Ada Irigasi

ENSO dan IOD yang bisa diprediksi beberapa bulan sebelumnya, menawarkan peluang untuk kesiapan.

"Pola iklim ini dapat diprediksi dalam skala waktu musiman hingga tahunan. Itu berarti ada peluang untuk menggunakan informasi ini sebagai bagian dari sistem peringatan dini," tutur ilmuwan iklim Sylvia Dee, yang merupakan profesor madya bidang ilmu bumi, lingkungan, dan planet.

Temuan dari studi ini dapat membantu memberikan informasi kepada para pembuat kebijakan, organisasi kemanusiaan, serta upaya perdamaian dengan mengidentifikasi kapan dan di mana risiko mungkin meningkat.

"Kita tidak bisa mengatakan secara pasti bahwa iklim menyebabkan konflik. Tetapi kita dapat mengatakan bahwa beberapa pola iklim mengubah probabilitas konflik. Dan memahami pergeseran risiko tersebut sangat berharga untuk perencanaan dan mitigasi," ucap ahli statistik Frederi Viens.

Temuan dari studi ini menyoroti hubungan penting antara iklim dan konflik, dengan lembaga meteorologi Amerika dan Eropa memprediksi kemunculan El Niño pada akhir tahun ini, dan bahkan beberapa perkiraan mengantisipasi El Niño super.

"Temuan kami sangat tepat waktu," ujar Bagwell.

Data penelitian

Tim peneliti mengambil pendekatan yang lebih mendetail dibandingkan studi sebelumnya. Dengan membangun kumpulan data baru beresolusi tinggi berisi lebih dari 500 kejadian konflik pada periode 1950–2023, para peneliti menentukan secara tepat dalam ruang maupun waktu, yang mampu melampaui agregasi tingkat negara dan memeriksa hubungan lokal.

Baca juga: El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar

"Tingkat detail spasial yang mendokumentasikan konflik dalam rentang waktu yang begitu panjang belum pernah ada sebelumnya dalam sebuah dataset. Hal ini memungkinkan kami untuk melihat bagaimana variabilitas iklim memengaruhi risiko konflik pada skala yang jauh lebih lokal selama beberapa dekade," tutur Bagwell.

Pembuatan dataset menjadi pekerjaan besar, dengan Anna Stravato dan Divya Saikumar menganalisis sumber-sumber primer secara manual. Itu termasuk laporan berita dalam berbagai bahasa, untuk menentukan lokasi geografis setiap peristiwa konflik, sebuah proses yang dapat memakan waktu hingga satu jam per kasus.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau