Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026

Kompas.com, 12 Mei 2026, 16:30 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber RTE News

KOMPAS.com - Kelompok ilmuwan iklim dari World Weather Attribution memperingatkan bahwa cuaca yang sangat ekstrem kemungkinan besar akan terjadi tahun ini. Mereka juga menyatakan bahwa tahun 2026 bisa menjadi tahun terpanas kedua, atau bahkan tahun paling panas yang pernah tercatat dalam sejarah.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa suhu permukaan laut hampir mencapai level tertinggi yang pernah ada. Selain itu, kebakaran hutan telah menghanguskan lebih dari 150 juta hektar lahan hanya dalam empat bulan pertama tahun ini.

Melansir RTE, Selasa (12/5/2026) jumlah lahan yang terbakar ini 50 persen lebih tinggi dari rata-rata kebakaran hutan biasanya, dan dua kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah lahan yang terbakar pada tahun 2024.

Tren cuaca ekstrem dampak dari El Nino

Para ilmuwan memperkirakan tren cuaca ini akan semakin parah karena dampak dari fenomena alam El Nino yang sangat kuat, yang saat ini mulai terbentuk di Samudra Pasifik.

Mereka menegaskan pula bahwa rekor suhu akan terus terpecahkan dan cuaca ekstrem akan semakin buruk sampai dunia benar-benar memangkas penggunaan bahan bakar fosil dan mencapai emisi nol bersih.

Baca juga: Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal

Dr. Daniel Swain dari California Institute for Water Resources menjelaskan bahwa fenomena El Nino yang kuat bahkan tanpa adanya pemanasan global sekalipun dapat mengganggu pola hujan di berbagai wilayah dan benua, sehingga meningkatkan risiko banjir.

"Efek ini akan menjadi jauh lebih parah karena pemanasan global yang kita alami saat ini sudah mencapai hampir 1,5 derajat C di tahun 2026," katanya.

"Dalam sejarah manusia modern, kita belum pernah mengalami El Nino yang sangat kuat di tengah kondisi suhu bumi yang sudah sepanas sekarang. Oleh karena itu, tidak akan mengejutkan jika kita melihat dampak banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya di akhir tahun 2026 hingga 2027," tambah Dr Swain.

Para ahli juga menyatakan bahwa kita mungkin sedang menuju tahun dengan kebakaran hutan global yang belum pernah terjadi sebelumnya serta berbagai kejadian cuaca yang memecahkan rekor.

Ada kekhawatiran besar bahwa kekeringan di wilayah hutan hujan tropis tahun ini termasuk Amazon, Oseania, dan sebagian Asia Tenggara dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan yang luas atau sangat hebat.

Kebakaran ini bisa terjadi di daerah yang biasanya lembap dan jarang mengalami kebakaran. Hal ini dapat berdampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat karena polusi asap yang menyesakkan.

Panas jadi pembunuh utama

Dr. Jemilah Mahmood, Direktur Eksekutif Sunway Centre for Planetary Health, memperingatkan bahwa panas yang berlebihan adalah pembunuh utama.

"Panas ekstrem tidak menjadi berita utama seperti bencana lainnya. Ia tidak menghasilkan foto-foto yang memicu bantuan dana darurat. Ia tidak datang dengan nama badai tertentu atau garis banjir yang terlihat," paparnya.

Panas membunuh secara diam-diam, di dalam rumah, di ladang terbuka, dan pada tubuh pekerja yang tidak punya pilihan selain berada di luar ruangan.

Secara resmi, 546.000 orang meninggal setiap tahun karena penyebab terkait panas. Namun, angka itu hampir pasti lebih rendah dari kenyataan karena kematian akibat panas seringkali salah dicatat, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," katanya.

Suhu panas memperburuk kualitas udara, memperparah penyakit pernapasan, dan memicu serangan jantung atau stroke.

Lebih lanjut, polusi partikel kecil, PM2.5, yang dihasilkan oleh kebakaran hutan bisa 10 kali lebih berbahaya bagi kesehatan manusia dibandingkan asap kendaraan bermotor.

Sebuah studi Lancet tahun 2024 menemukan bahwa 1,53 juta kematian setiap tahun disebabkan oleh polusi udara dari kebakaran hutan. Angka ini empat kali lipat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Pada kebakaran di Australia tahun 2019, sebanyak 33 orang meninggal langsung akibat kobaran api, namun asap dari kebakaran hutan tersebut menewaskan 417 orang lainnya.

Dalam kebakaran di Los Angeles pada Januari 2025, para peneliti menemukan jumlah kematian akibat paparan asap hampir 50 persen lebih banyak daripada korban yang meninggal langsung karena api.

Dr. Mahmood mengatakan ia khawatir karena pemerintah di berbagai negara secara diam-diam mulai menarik diri dari janji-janji mereka terkait masalah iklim dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Ancaman Cuaca Ekstrem, Ibadah Haji Di Masa Depan Disebut Makin Berbahaya

"Bahasa yang digunakan mulai melunak, ambisinya mulai berkurang, dan beberapa pihak bersikap seolah-olah krisis iklim adalah bab yang bisa kita tutup begitu saja. Atau setidaknya ditunda sampai periode pemilu berikutnya," katanya.

"Alam, tentu saja, tidak membaca catatan politik. Organisasi Meteorologi Dunia kini memberi tahu kita bahwa planet kita sedang dalam kondisi yang paling tidak seimbang dibandingkan waktu mana pun dalam sejarah," ungkapnya lagi.

Dr. Friederike Otto, salah satu pendiri kelompok World Weather Attribution menambahkan meskipun El Niño bisa menyebabkan kondisi yang sangat ekstrem di akhir tahun ini, itu bukan alasan untuk panik secara berlebihan.

El Niño adalah fenomena alam biasa yang datang dan pergi. Sebaliknya, perubahan iklim justru akan terus memburuk selama kita tidak berhenti membakar bahan bakar fosil."

"Jadi, perubahan iklimlah yang seharusnya membuat kita sangat khawatir. Dan idealnya, kekhawatiran itu diubah menjadi tindakan nyata karena kita sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan. Kita sudah punya pengetahuan dan teknologi untuk beralih sepenuhnya dari penggunaan bahan bakar fosil," tambah Dr. Otto.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Pemerintah
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
BUMN
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Pemerintah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya  Ada yang Salah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya Ada yang Salah
Pemerintah
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
BUMN
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
BrandzView
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Pemerintah
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Pemerintah
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
Swasta
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
LSM/Figur
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin 'Sapu Teknologi'
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin "Sapu Teknologi"
BUMN
10 Spesies Anggrek Baru Ditemukan, Ada di Sumatera hingga Nusa Tenggara
10 Spesies Anggrek Baru Ditemukan, Ada di Sumatera hingga Nusa Tenggara
Pemerintah
Perkuat Usaha Masyarakat Pesisir, Agrinas Jaladri Salurkan 19.500 Benih Ikan
Perkuat Usaha Masyarakat Pesisir, Agrinas Jaladri Salurkan 19.500 Benih Ikan
BUMN
Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer
Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer
Swasta
Lestari Kompas Gramedia Beri Edukasi Keberlanjutan di Sekolah Binaan Pertamina
Lestari Kompas Gramedia Beri Edukasi Keberlanjutan di Sekolah Binaan Pertamina
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau