Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KILAS

1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau

Kompas.com, 12 Mei 2026, 14:17 WIB
I Jalaludin S,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Jika ada mesin waktu yang membawa warga Beijing kembali ke 10 tahun lalu, mereka mungkin tak akan mengenali kotanya sendiri. 

Pada masa itu, keluar-masuk rumah berarti wajib mengenakan masker tebal. Jarak pandang kerap terhalang kabut asap ekstrem atau smog. Bahkan, warga sampai membeli kantong udara segar atau fresh air bag untuk sekadar menghirup udara yang lebih bersih.  

Dilansir Reuters pada (5/1/2016), indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) di Kota Beijing pernah mencapai lebih dari 250. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat. 

China Daily pada (3/1/2017) melaporkan, partikel udara halus PM2.5 di Beijing mencapai 73 mikrogram per meter kubik, nyaris tiga kali lipat dari batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berada di level 25 mikrogram per meter kubik. 

Penyebab langit merah di Kota Beijing adalah kombinasi kegiatan industri dan pembakaran energi fosil, terutama batu bara. 

Baca juga: Ragam Masker Saat Kabut Asap di Beijing

Berkat industrialisasi masif, China berhasil menjadi “pabrik dunia”, mengalahkan gabungan sembilan negara manufaktur terbesar lainnya. Namun, capaian besar itu juga membawa konsekuensi terhadap lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.

Pada April 2026, realitas muram tersebut mulai memudar. Langit Beijing kembali membiru. Burung-burung pun dapat kembali terbang nyaman di atas kota. 

Transformasi itu tidak terjadi begitu saja. Pemerintah China menjalankan kebijakan elektrifikasi dan pengendalian emisi secara agresif. Hanya dalam satu dekade, konsentrasi PM2.5 di Beijing turun menjadi 27 mikrogram per meter kubik pada 2025. 

Meski kepadatan lalu lintas di kota berpenduduk 21 juta jiwa itu tetap tinggi, jalanan mulai kehilangan suara bising dan asap knalpot yang dahulu menyesakkan. Salah satu faktor penentunya adalah kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang menggantikan kendaraan berbahan bakar fosil.

Perubahan drastis itu turut dirasakan warga Indonesia yang bermukim di China, Chrisnadi. Sebagai pengguna angkutan umum dan pejalan kaki, dia merasa Beijing kini jauh lebih tenang dan aman.

Baca juga: Pabrikan China Mulai Fokus Kembangkan Mesin Hybrid

Mahasiswa Indonesia yang telah delapan bulan menetap di Beijing dan Guangzhou itu mengatakan, kota tempat dia tinggal terasa lebih nyaman berkat semakin banyaknya kendaraan listrik.

“Kalau ada truk lewat, tidak ada lagi getaran mesin diesel yang mengintimidasi atau kepulan asap hitam yang biasa kami sebut 'cumi-cumi darat'. Suasananya jauh lebih bersih," ujarnya kepada Kompas.com di sela-sela perhelatan pameran otomotif di Beijing, pada akhir April 2026.

Pengalaman senada dibagikan oleh Junhi, mahasiswa asal Bekasi yang telah tiga tahun menimba ilmu di Beijing. Menurut dia, kendaraan listrik yang memenuhi kota turut meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik. 

“Kota Beijing ini menjadi kota yang sangat minim polusi, sangat nyaman untuk ditinggali, baik itu belajar, bekerja maupun hidup,” ungkapnya. 

Banyak orang menyebut perubahan di Beijing sebagai “revolusi senyap”. Lanskap kota yang dahulu dipenuhi raungan mesin dan asap tebal perlahan berubah menjadi lebih tenang dan bersih.

Baca juga: Produksi Kendaraan Listrik di China Disebut Bisa Pangkas Emisi dan Atasi Polusi

Tidak hanya itu, “revolusi senyap” juga mengubah paradigma masyarakat yang memandang elektrifikasi tidak hanya baik untuk bumi, tetapi juga nyaman dan murah.

Kilas Balik 10 Tahun: Maraton Elektrifikasi

Perubahan wajah kota yang terjadi di Beijing saat ini merupakan akhir dari maraton elektrifikasi terstruktur yang dijalankan Pemerintah China lebih dari satu dekade lalu.

Pada pertengahan 2010-an, Beijing dan sejumlah kota industri di China tertutup smog hingga kerap dijuluki airpocalypse. Pemerintah China pun menyatakan “perang” terhadap polusi secara agresif.

Saat berkunjung ke SAIC Motor pada 2014, Presiden China Xi Jinping menyatakan bahwa pengembangan kendaraan energi baru merupakan satu-satunya jalan bagi China untuk beralih dari pasar otomotif besar menjadi kekuatan otomotif global.

Pada tahun yang sama, Perdana Menteri China Li Keqiang juga menegaskan di hadapan Kongres Rakyat Nasional bahwa China mendeklarasikan perang terhadap polusi, sebagaimana negara itu memerangi kemiskinan.

Baca juga: Demi Capai Target Emisi, China Bangun PLTS Terbesar di Dunia

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
Swasta
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
Pemerintah
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Pemerintah
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pemerintah
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Swasta
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
LSM/Figur
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Pemerintah
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
LSM/Figur
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Pemerintah
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
LSM/Figur
Pemadaman Bergilir Dinilai Ungkap Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
Pemadaman Bergilir Dinilai Ungkap Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
LSM/Figur
PLTG Dinilai Paling Rentan Krisis Iklim, Kapasitas Berpotensi Turun hingga 4 Persen
PLTG Dinilai Paling Rentan Krisis Iklim, Kapasitas Berpotensi Turun hingga 4 Persen
LSM/Figur
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Pemerintah
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau