JAKARTA, KOMPAS.com - Wasriah (55), seorang pemulung yang telah rutin memberikan pelatihan budi daya hidroponik dalam berbagai program pembinaan dan pelatihan di unit pelaksana teknis (UPT) Sentra Mulya Jaya di Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur (Jaktim).
Ia mengajarkan keterampilan praktis untuk mempermudah narapidana anak memperoleh pekerjaan atau membuka usaha tani secara mandiri di perkotaan pasca dibebaskan.
"Ada tahanan anak yang tawuran, daripada enggak ada kegiatan, mending belajar hidroponik. Ada juga anak yang membunuh orang tuanya, saya mengajarkannya budi daya melon. Sampai sekarang berjalan, Alhamdulillah berhasil panen buahnya lebih dari dua kilogram," ujar Wasriah kepada Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Baca juga: Kala Gen Z di Jakut Pensiun Tawuran karena Jadi Petani Urban Farming
Wasriah pernah mengisi sesi pelatihan budi daya hidroponik yang diselenggarakan organisasi nirlaba pemberdayaan anak-anak prasejahtera dan jalanan, Yayasan Kampus Diakoneia Modern (KDM) di ujung aspal, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi.
Ia juga terkadang memberikan pelatihan untuk penghuni lapas perempuan di Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jaktim.
"Senang bertemu dengan mereka (narapidana perempuan), kami sering mengobrol, saling ini (berbagi pengalaman). Di sana, saya mengajarkan budi daya melon, sayuran, persemaian, tentang seberapa banyak air dan pupuk yang dibutuhkan," ucapnya.
Ia belajar budi daya hidroponik dari pendiri Swara Hijau Farm, Endang Mintarja. Dari sekitar 25 pemulung yang diajarkan budi daya hidroponik melon, Wasriah paling cepat menyerap ilmunya karena mempunyai pengalaman bertani tanaman horikultura di kampung halamannya.
Ia pun direkrut sebagai pekerja di Swara Hijau Farm, yang merupakan bagian dari usaha Yayasan Peduli Jakarta, dan diberi gaji Rp 1 juta per bulan.
"Saya pengalaman menanam bawang merah, semangka, melon, dan cabai di (Kabupaten) Brebes. Jadi, sekali atau dua kali diajarkan, langsung bisa. Punya pengalaman menanam melon, bedanya kalau di sini hidroponik," tutur Wasriah.
Sudah lebih dari tiga dekade Wasriah merantau ke ibu kota. Pada awalnya, ia dan sang suami mencari nafkah dengan berjualan nasi goreng.
Namun, setelah suaminya pergi meninggalkannya, Wasriah harus berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya dengan menjadi pemulung selama lebih dari 18 tahun.
Kini, di sela-sela kesibukan bekerja di Swara Hijau Farm dan merawat cucu-cucunya, Wasriah menyempatkan diri memulung dan hasilnya ditabung ke bank sampah sebagai dana darurat.
"Kadang-kadang saya memulung. Kalau lelah, ya enggak memulung. Sudah lima tahun bekerja di sini (Swara Hijau Farm), sekarang sama sekali enggak pulang (kampung), mengurus melon mulu. Lebaran juga mengurus melon mulu, enggak ada lagi sih," ucapnya.
Baca juga: Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Selain hidroponik, Swara Hijau Farm juga mengolah sampah organik dengan magott, memelihara ayam petelur, dan budi daya ikan nila di sembilan kolam terpal bundar.
Dalam mengolah usahanya, Swara Hijau Farm melibatkan sekitar 30 para ibu pemulung yang senang mengisi waktu luangnya dengan berkumpul dan menghasilkan pendapatan tambahan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya