Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konsumsi Nikel untuk Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035

Kompas.com, 20 Mei 2026, 20:42 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Konsumsi nikel untuk produksi baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) diprediksi melonjak hingga 1,7 juta ton pada 2035, tumbuh 218 persen secara global.

CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet menyampaikan bahwa capaian ini merepresentasikan 30 persen permintaan nikel global.

"Angka ini lebih rendah dibanding yang diperkirakan orang-orang pada awal perkembangan kendaraan listrik. Saya pikir ambisi baterai berbasis nikel dulu jauh lebih tinggi, tetapi perkembangan baru baterai LFP, yaitu baterai tanpa nikel pada dasarnya mengurangi potensi pertumbuhan nikel," kata Jerome dalam Exclusive Media Briefing: Eramet Outlook 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).

Baca juga: Pengamat: Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Perkuat Industri Baterai Nasional

Meski demikian, permintaan nikel dari sektor baterai EV tetap menunjukkan pertumbuhan kuat dalam jangka panjang seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik dunia. Kata Jerome, Indonesia menjadi salah satu penyumbang produksi nikel terbesar.

Pada 2014 Indonesia hanya menghasilkan sekitar 8 persen produksi nikel dunia, lalu angkanya naik menjadi 65 persen pada 2025.

Kuasai pasokan nikel global

Jerome menjelaskan, dengan kapasitas produksi baru yang masih dibangun, Indonesia diproyeksikan dapat menguasai hingga 75-80 persen produksi nikel global dalam beberapa tahun mendatang.

"Jadi Indonesia pada dasarnya adalah pusat kekuatan produksi nikel dunia, dan apa yang terjadi di Indonesia pada pasar nikel akan memengaruhi seluruh pasar nikel dunia," jelas dia.

Baca juga: Menakar Risiko Pajak EV, Minim Pembeli hingga Ditinggal Investor

Jerome menambahkan, industri nikel dalam negeri mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, mayoritas produksi nasional berupa nickel pig iron (NPI) yang digunakan untuk kebutuhan stainless steel.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mulai mengembangkan teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk memproduksi nikel murni, dan bahan kimia nikel yang dibutuhkan industri baterai kendaraan listrik ataupun sektor khusus seperti penerbangan. 

"Indonesia memulai pengembangannya dengan nickel pig iron dan pirometalurgi, lalu masuk ke fase kedua pengembangan dengan HPAL sekitar tiga tahun terakhir," beber Jerome.

Sebelumnya ekspor didominasi NPI. Namun kini material baterai seperti mixed hydroxide precipitate (MHP), matte, dan logam nikel pun mulai diekspor dengan porsi sekitar 30 persen.

"Ini perubahan besar dibanding profil produk yang diproduksi Indonesia lima tahun lalu, dan sekali lagi Indonesia merepresentasikan 65 persen produksi (nikel) dunia," imbuh dia.

Kelebihan pasokan nikel akan pulih

Dalam kesempata itu, Jerome berpendapat bahwa pasar nikel global mulai menunjukkan tanda pemulihan di tahun ini usai mengalami kelebihan pasokan (oversupply) selama lima tahun terakhir. Sepanjang 2020-2025 pasar nikel dibanjiri pasokan sehingga harga terus tertekan dan inventori meningkat di berbagai negara.

Pemerintah Indonesia membatasi produksi bijih nikel melalui kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta menaikkan Harga Patokan Mineral (HPM).

"HPM telah mengubah formulanya dan pada dasarnya meningkatkan harga dasar saprolit secara signifikan, yang digunakan untuk nickel pig iron serta limonit yang digunakan untuk produksi HPAL," sebut dia.

Perubahan tersebut menguntungkan perusahaan tambang lantaran harga bijih menjadi lebih mencerminkan kandungan mineral yang dimiliki.

Kendati demikian, naiknya HPM menjadi tantangan bagi perusahaan pengolahan nikel, khususnya pabrik berbasis HPAL yang memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik. Perusahaan HPAL menghadapi kenaikan biaya produksi yang tinggi akibat naiknya harga sulfur.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Klaim Kecerdasan Buatan Berlebihan Dinilai Bisa Menyesatkan Publik
Klaim Kecerdasan Buatan Berlebihan Dinilai Bisa Menyesatkan Publik
LSM/Figur
Kisah Teuku Feroz Menjembatani Akses Pendidikan Tinggi untuk Anak-anak Aceh
Kisah Teuku Feroz Menjembatani Akses Pendidikan Tinggi untuk Anak-anak Aceh
LSM/Figur
Konsumsi Nikel untuk Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035
Konsumsi Nikel untuk Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035
Swasta
Minamas Plantation Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Aceh Tamiang
Minamas Plantation Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Aceh Tamiang
Swasta
Petani di Sumsel Kelola Limbah Jerami Jadi Produk Ramah Lingkungan
Petani di Sumsel Kelola Limbah Jerami Jadi Produk Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Celios Soroti Ketimpangan Pendanaan Transisi Energi di Desa
Celios Soroti Ketimpangan Pendanaan Transisi Energi di Desa
LSM/Figur
SIG Gandeng BRIN Kembangkan Material Bangunan Rendah Emisi
SIG Gandeng BRIN Kembangkan Material Bangunan Rendah Emisi
BUMN
Harapan Justru Lebih Efektif Atasi Krisis Iklim, Kok Bisa?
Harapan Justru Lebih Efektif Atasi Krisis Iklim, Kok Bisa?
Pemerintah
Habitat Burung Laut Menyusut, Terpaksa Terbang Lebih Jauh untuk Berburu
Habitat Burung Laut Menyusut, Terpaksa Terbang Lebih Jauh untuk Berburu
Pemerintah
RI Sudah Masuk Musim Kemarau, Waspada Kekeringan dan Karhutla
RI Sudah Masuk Musim Kemarau, Waspada Kekeringan dan Karhutla
Pemerintah
Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Pemerintah
Sampah yang Tak Terkelola di Bantargebang Potensial Jadi Sarang Penularan Hantavirus
Sampah yang Tak Terkelola di Bantargebang Potensial Jadi Sarang Penularan Hantavirus
LSM/Figur
Pengamat: Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Perkuat Industri Baterai Nasional
Pengamat: Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Perkuat Industri Baterai Nasional
LSM/Figur
Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?
Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?
LSM/Figur
J&T Express Rilis Laporan ESG 2025, Dorong Keberlanjutan lewat Teknologi dan Aksi Sosial
J&T Express Rilis Laporan ESG 2025, Dorong Keberlanjutan lewat Teknologi dan Aksi Sosial
BrandzView
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau